Orang tua tentu ingin memberikan makanan terbaik untuk mendukung tumbuh kembang anak. Namun, tidak semua makanan yang terlihat sehat atau dibuat dari bahan bernutrisi bisa dikonsumsi tanpa batas.
Cara pengolahan hingga bagian makanan yang dikonsumsi juga perlu diperhatikan.
Dokter Spesialis Gizi Klinik sekaligus Expert Tentang Anak, dr. Nadhira Afifa, MPH, SpGK, mengingatkan bahwa salah satu makanan yang kerap dianggap sehat untuk anak tetapi sebaiknya tetap dibatasi adalah jus buah.
Menurut dr. Nadhira, manfaat utama buah tidak hanya berasal dari kandungan vitamin dan mineral, tetapi juga serat yang terdapat di dalam buah utuh.
Ketika buah diolah menjadi jus dan hanya cairannya yang dikonsumsi, anak berisiko kehilangan manfaat serat sekaligus mendapatkan asupan gula buah atau fruktosa dalam bentuk yang lebih mudah dikonsumsi.
“Makanan yang dianggap sehat untuk anak, tapi sebenarnya perlu dibatasi. Jus buah, kita mau mendapatkan manfaat dari buahnya, itu dari serat buahnya. Dan juga memang kita makannya sebagai buah utuh,” ungkap dr. Nadhira, dr. Nadhira, sebagaimana Olenka kutip dari laman Instagram @tentanganak_id, Jumat (21/8/2026).
dr. Nadhira memaparkan, jus buah sebenarnya masih dapat menjadi pilihan apabila seluruh bagian buah yang mengandung serat tetap ikut dikonsumsi.
Baca Juga: Benarkah Kurangi Garam Bisa Cegah Hipertensi? Begini Penjelasan Dokter Spesialis Gizi
Namun, dalam praktiknya, jus sering kali hanya menyisakan bagian cair sehingga anak tidak mendapatkan serat sebanyak ketika mengonsumsi buah secara utuh.
“Kalau jus buah masih oke kalau misalnya ampasnya juga dimakan. Tapi mostly kan kadang airnya aja yang dimakan. Jadi kita cuma dapat fruktosa atau air gulanya aja, which is nggak bagus,” jelasnya.
Karena itu, dibandingkan memberikan jus sebagai konsumsi rutin, orang tua sebaiknya membiasakan anak mengonsumsi buah dalam bentuk utuh.
Dengan cara tersebut, kata dia, anak tidak hanya mendapatkan rasa manis dari buah, tetapi juga serat yang berperan penting dalam pola makan sehat.
Selain jus buah, makanan lain yang perlu diperhatikan adalah abon. Meski bahan dasarnya berasal dari daging dan daging dikenal sebagai salah satu sumber protein, proses pengolahan abon membuat karakteristik gizinya menjadi berbeda.
“Terus yang kedua abon, karena abon juga walaupun dia memang base-nya dari daging, tapi ketika memang dia udah digoreng, dikeringin, sebenarnya proteinnya sangat terdenaturasi,” tutup dr. Nadhira.
Baca Juga: 7 Makanan Pemicu Kanker Menurut Dokter Spesialis Gizi, Bukan Dilarang tapi Wajib Dibatasi!