Banyak orang masih percaya bahwa tinggi badan sepenuhnya ditentukan oleh faktor keturunan. Jika orang tua tidak tinggi, maka anak pun dianggap akan bernasib sama.
Namun, Dokter Spesialis Orthopedi, dr. Asa Ibrahim, Sp.OT., menegaskan bahwa anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Tinggi badan memang dipengaruhi genetik, tetapi tetap bisa dioptimalkan sejak dini.
“Jadi kalau emang jodohnya nggak tinggi, mau gimana? Masa mau diganti pasangannya? Nggak, tapi optimal kan potensi tinggi badannya, potensi genetiknya dioptimalkan,” ungkap dr. Asa, dikutip dari laman Instagram pribadinya, Selasa (31/3/2026).
dr. Asa memaparkan bahwa banyak kasus menunjukkan bahwa anak bisa tumbuh lebih tinggi dibandingkan orang tuanya, selama potensi pertumbuhannya didukung dengan baik.
Kunci utamanya, kata dia, adalah konsistensi dalam jangka panjang, bukan upaya instan dalam waktu singkat.
“Banyak buktinya yang orangtuanya nggak tinggi, tapi anaknya tinggi. Optimal kan tinggi badan, bukan satu bertahap belasan tahun,” lanjutnya.
Menurut dr. Asa, upaya mengoptimalkan tinggi badan bahkan sudah bisa dimulai sejak sebelum kehamilan. Salah satu faktor yang sering terabaikan adalah kecukupan vitamin D, khususnya pada ibu hamil.
“Yang ibu-ibu itu sering lupa adalah angka defisiensi vitamin D. Pada ibu hamil itu tinggi banget, sampai 60–80%,” jelasnya.
Kekurangan vitamin D pada ibu hamil dapat berdampak pada pertumbuhan janin. Oleh karena itu, pemeriksaan kadar vitamin D melalui tes darah sangat dianjurkan untuk mengetahui kondisi tubuh secara lebih akurat.
“Ibu hamil kekurangan vitamin D. Nah yang paling tepat sebenarnya adalah cek darah, cek defisiensi vitamin D-nya itu ada apa nggak, berat apa nggak,” tambah dr. Asa.
Namun, jika pemeriksaan belum memungkinkan, ia menyarankan untuk tetap memenuhi kebutuhan harian vitamin D sesuai rekomendasi medis.
Untuk anak di atas satu tahun, lanjut dia, kebutuhan vitamin D umumnya sekitar 600 IU per hari.
Baca Juga: Benarkah Hubungan Intim Bisa Picu ISK? Ini Penjelasan Dokter Ahli