Banyak orang menganggap tubuh kurus identik dengan tubuh sehat. Padahal, anggapan tersebut belum tentu benar.

Menurut Dokter Spesialis Gizi Klinik, dr. Putri Sakti Dwi Permanasari, M.Gizi, Sp.GK, seseorang yang tampak langsing bisa saja memiliki kadar lemak tubuh yang tinggi dan massa otot yang rendah. Kondisi ini dikenal sebagai skinny fat atau normal weight obesity.

"Istilah skinny fat itu sebenarnya adalah normal weight obesity. Jadi kalau dilihat menggunakan alat analisis komposisi tubuh, orang-orang ini cenderung memiliki lemak tubuh yang tinggi, sementara massa ototnya justru rendah. Secara penampilan memang terlihat normal, makanya disebut skinny fat," jelas dr. Putri, dikutip dari podcast YouTube @roryasyari - @room.4improvement, Kamis (2/7/2026).

Dikatakan dr. Putri, kondisi ini tidak boleh dianggap sepele. Bahkan, menurut dr. Putri, komposisi tubuh yang tidak ideal dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit.

"Menariknya, karena komposisi tubuh yang tidak baik itu, orang dengan skinny fat ternyata memiliki risiko penyakit hingga dua kali lebih besar dibandingkan orang yang obesitas," ujarnya.

Karena itu, lanjut dr. Putri, menjaga berat badan saja tidak cukup. Yang jauh lebih penting adalah memastikan komposisi tubuh tetap sehat dengan menjaga keseimbangan antara massa otot dan lemak tubuh.

Untuk mencapainya, dr. Putri menegaskan bahwa pola makan bergizi seimbang tetap menjadi fondasi utama.

"Kalau membicarakan nutrisi secara umum, tetap gizi seimbang adalah kuncinya. Karbohidrat tetap harus ada, sekitar 45–65 persen dari kebutuhan energi harian. Protein sekitar 15–20 persen, bahkan bisa lebih selama fungsi ginjal normal. Kemudian kita juga tetap membutuhkan lemak, tetapi pilih jenis lemak yang sehat dan jumlahnya sekitar 20–30 persen dari kebutuhan. Ketiga komponen ini tidak bisa berdiri sendiri, semuanya harus seimbang," paparnya.

Baca Juga: Gawat! Indonesia Masuk 5 Besar Negara Paling Obesitas di ASEAN, Ini Daftarnya