Growthmates, saat berbelanja di supermarket, pilihan makanan seorang dokter sering kali berbeda dengan kebanyakan orang.

Bukan karena mereka hanya membeli makanan organik atau produk kesehatan yang mahal, melainkan karena lebih cermat memperhatikan kandungan gizi dan risiko kesehatan dari makanan sehari-hari.

Banyak dari mereka justru menghindari makanan yang tinggi gula tambahan, natrium, lemak tidak sehat, serta makanan ultra-olahan yang memang praktis, tetapi kurang baik jika dikonsumsi terlalu sering.

Sejumlah lembaga kesehatan dunia seperti Food and Drug Administration (FDA) dan American Heart Association (AHA) juga terus mengingatkan masyarakat untuk membatasi konsumsi makanan tinggi gula, garam, serta makanan olahan karena berkaitan dengan meningkatnya risiko berbagai penyakit kronis.

Dan, dikutip dari Times of India, Kamis (2/7/2026), berikut 8 jenis makanan yang kerap dihindari para dokter saat berbelanja di supermarket.

1. Minuman manis

Minuman bersoda, teh kemasan manis, minuman buah siap minum, hingga minuman energi menjadi salah satu produk yang paling sering dihindari.

Alasannya sederhana, minuman ini mengandung gula tambahan dalam jumlah tinggi dan sangat mudah dikonsumsi secara berlebihan.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa konsumsi rutin minuman manis berkaitan dengan peningkatan risiko obesitas, diabetes tipe 2, penyakit jantung, gigi berlubang, hingga asam urat.

American Heart Association juga menyebut minuman manis sebagai salah satu penyumbang terbesar gula tambahan dalam pola makan masyarakat.

2. Daging olahan dan daging siap santap

Sosis, ham, bacon, smoked beef, maupun berbagai jenis irisan daging olahan memang praktis untuk disajikan. Namun, banyak dokter memilih membatasi konsumsi makanan ini.

Selain umumnya mengandung natrium yang tinggi, daging olahan juga berisiko terkontaminasi bakteri Listeria jika tidak ditangani dengan benar.

Pendinginan tidak dapat membunuh bakteri tersebut, sehingga kelompok rentan seperti ibu hamil, lansia, dan orang dengan daya tahan tubuh lemah dianjurkan menghindarinya atau memanaskannya hingga benar-benar matang sebelum dikonsumsi.

3. Pizza beku dan makanan siap saji kemasan

Pizza beku, pasta instan beku, dan berbagai makanan siap saji memang menawarkan kepraktisan. Namun, produk-produk ini umumnya termasuk makanan ultra-olahan yang tinggi natrium, gula tambahan, dan lemak jenuh.

American Heart Association menyarankan agar konsumsi makanan ultra-olahan dibatasi karena dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis apabila terlalu sering menjadi menu harian.

Baca Juga: Penderita Penyakit Jantung Wajib Tahu! Ini 10 Makanan yang Baik Dikonsumsi Setiap Hari

4. Mi instan dan sup instan dalam gelas

Mi instan dan sup instan sering menjadi pilihan ketika membutuhkan makanan cepat saji. Sayangnya, kedua produk ini juga dikenal memiliki kandungan natrium yang sangat tinggi.

Padahal, rekomendasi asupan natrium harian untuk orang dewasa tidak lebih dari 2.300 miligram per hari. Sebagian besar natrium yang dikonsumsi masyarakat justru berasal dari makanan olahan, bukan dari garam yang ditambahkan saat memasak.

Karena itu, dokter cenderung memilih alternatif makanan kemasan dengan kandungan natrium yang lebih rendah.

5. Keripik dan camilan gurih

Keripik kentang, kerupuk, snack asin, dan berbagai camilan gurih lainnya juga masuk dalam daftar makanan yang sering dilewati para dokter.

Selain tinggi natrium, makanan ini biasanya mengandung kombinasi garam, karbohidrat olahan, dan lemak yang membuat seseorang mudah makan berlebihan tanpa sadar.

Akibatnya, kalori dan natrium yang masuk ke tubuh bisa jauh lebih banyak dibandingkan yang diperkirakan, sementara nilai gizinya relatif rendah.

6. Kue kemasan dan camilan manis

Banyak dokter tidak melarang mengonsumsi makanan penutup. Namun, mereka cenderung menghindari menjadikannya sebagai konsumsi harian.

Kue kemasan, biskuit manis, pastry, hingga berbagai camilan manis sering mengandung gula tambahan dalam jumlah tinggi. FDA bahkan mewajibkan produsen mencantumkan informasi "gula tambahan" pada label nilai gizi agar konsumen lebih mudah mengetahui kandungannya.

American Heart Association merekomendasikan agar konsumsi gula tambahan dibatasi hingga kurang dari 6 persen dari total kebutuhan kalori harian.

7. Yogurt rasa yang tinggi gula

Yogurt memang identik dengan makanan sehat. Namun, tidak semua jenis yogurt memiliki manfaat yang sama.

Yogurt dengan tambahan rasa buah, yogurt siap minum, maupun produk yang dipasarkan sebagai makanan penutup ringan sering kali mengandung gula tambahan dalam jumlah cukup tinggi.

Karena itu, banyak dokter lebih memilih yogurt tawar tanpa pemanis, kemudian menambahkan buah segar sendiri agar tetap memperoleh manfaat protein, kalsium, dan probiotik tanpa asupan gula berlebih.

8. Kecambah mentah dan produk susu mentah

Selain memperhatikan kandungan gizi, dokter juga mempertimbangkan keamanan pangan.

FDA mencatat bahwa kecambah mentah memiliki riwayat menyebabkan berbagai wabah penyakit akibat kontaminasi bakteri, sehingga lebih aman jika dikonsumsi setelah dimasak.

Sementara itu, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyarankan masyarakat menghindari susu mentah dan produk olahannya yang belum dipasteurisasi karena berpotensi mengandung bakteri berbahaya seperti Campylobacter, E. coli, Listeria, Salmonella, dan Brucella.

Keju lunak yang dibuat dari susu mentah juga termasuk produk yang sebaiknya dihindari, terutama bagi ibu hamil, lansia, anak-anak, dan orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Nah Growthmates, secara umum, makanan-makanan tersebut bukan berarti tidak boleh dikonsumsi sama sekali. Namun, para dokter cenderung membatasi atau memilih alternatif yang lebih sehat demi mengurangi risiko penyakit kronis sekaligus menjaga kesehatan tubuh dalam jangka panjang.

Baca Juga: Ginjal Bisa Rusak Diam-diam, Ini 7 Makanan Sehari-hari yang Sebaiknya Dibatasi

Semoga informasinya bermanfaat, ya!