Growthmates, jauh sebelum dikenal sebagai salah satu tokoh teknologi paling berpengaruh di dunia, Elon Musk ternyata telah menunjukkan rasa ingin tahu yang kuat sejak kecil. Sang ibu, Maye Musk, mengungkap kebiasaan putranya yang terbilang tak biasa.
Menurut Maye, Elon kecil kerap tiba-tiba menghilang saat diajak ke pusat perbelanjaan. Namun, sang ibu tak perlu panik atau mencarinya terlalu lama karena sudah tahu persis ke mana harus pergi.
Bukan ke area bermain atau tempat makan, Elon kecil justru sering ditemukan di toko buku. Ia bisa duduk berlama-lama di lantai, ‘tenggelam’ dalam buku yang sedang dibacanya hingga seolah lupa dengan keadaan di sekitarnya.
“Benar. Ketika saya membawa anak-anak saya ke pusat perbelanjaan dan Elon menghilang, saya hanya perlu menemukan toko buku terdekat. Ia akan duduk di lantai membaca,” tulis Maye saat mengunggah kembali sebuah unggahan di X.
Elon kemudian membalas unggahan ibunya dengan singkat, ‘Benar’.
Kenangan sederhana tersebut menggambarkan bagaimana membaca telah menjadi bagian dari kehidupan Elon Musk sejak usia dini.
Maye sebelumnya juga pernah menceritakan kebiasaan membaca putranya ketika masih remaja. Dalam wawancara dengan BBC, ia mengatakan Elon tidak memiliki banyak teman saat remaja, tetapi menghabiskan sebagian besar waktunya dengan membaca.
“Sebagai seorang remaja, Elon tidak memiliki banyak teman, tetapi dia membaca sepanjang waktu, sepanjang malam,” ungkap Maye.
Salah satu genre buku yang paling menarik perhatian Elon saat itu adalah fiksi ilmiah. Ia bahkan bisa membaca hingga larut malam tanpa menyadari waktu.
“Dia banyak membaca fiksi ilmiah. Dia akan membaca sepanjang malam sampai dia melihat saya bangun, dan kemudian dia akan tidur,” kenang Maye.
Kebiasaan tersebut bahkan membuat urusan sekolah menjadi tantangan tersendiri bagi sang ibu. Karena tidur sangat larut setelah membaca, Elon sulit dibangunkan pada pagi hari.
“Saya tidak bisa membangunkannya di pagi hari,” kata Maye.
“Dan kemudian, tentu saja, saya harus memakaikannya pakaian saat dia setengah tertidur dan mengantarkannya ke sekolah,” lanjutnya.
Kisah masa kecil Elon Musk memang mudah membuat orang menyimpulkan bahwa salah satu kunci kesuksesan adalah membaca sebanyak mungkin. Namun, ada pelajaran yang lebih menarik dari cerita Maye.
Persoalannya bukan sekadar berapa banyak buku yang dibaca seorang anak, melainkan apakah anak tersebut menemukan alasan untuk ingin membaca.
Elon tidak membaca karena buku dijadikan pekerjaan rumah. Ia membaca karena tertarik dan ingin mengetahui apa yang ada di dalamnya. Rasa penasaran itulah yang membuatnya rela menghabiskan waktu berjam-jam, bahkan sampai larut malam.
Karena itu, orang tua tidak selalu perlu menjadikan membaca sebagai kewajiban yang harus diselesaikan setiap hari. Anak yang dipaksa membaca selama 20 menit mungkin berhasil menyelesaikan beberapa halaman, tetapi belum tentu menikmati aktivitas tersebut.
Sebaliknya, anak yang diberi kebebasan memilih buku tentang dinosaurus, luar angkasa, sepak bola, hewan, mesin, mitologi, komik, atau fiksi ilmiah bisa menemukan pengalaman membaca sebagai sesuatu yang menyenangkan.
Yang terpenting bukan selalu buku apa yang dibaca, melainkan apakah buku tersebut membuat anak ingin membuka halaman berikutnya.
Nah Growthmates, kegemaran membaca Elon Musk ketika kecil tentu tidak bisa dijadikan formula pasti untuk menghasilkan orang dewasa sukses. Membaca bukan satu-satunya faktor yang menentukan masa depan seseorang.
Namun, kisah Maye memberikan gambaran menarik tentang seorang anak yang sejak kecil memiliki rasa ingin tahu kuat dan menemukan buku sebagai ruang untuk memuaskan rasa penasaran tersebut.
Baca Juga: Elon Musk Ungkap 5 Buku Terbaik yang Menginspirasinya Membangun SpaceX dan Tesla