Menurut Sigit, keputusan ini bukan tanpa alasan. Jepang menilai bahwa transisi langsung ke EV akan membawa dampak besar terhadap struktur industri yang telah lama mapan.
“Internal combustion engine itu ada sekitar 380 komponen. Industrinya sangat mature, sudah sangat mapan di Jepang,” tuturnya.
Sebaliknya, kata dia, kendaraan listrik memiliki struktur yang jauh lebih sederhana.
“Motor listrik hanya sekitar 18 komponen. Jadi bisa dibilang ada berapa ratus industri harus gulung tikar apabila kita pindah ke EV,” lanjut Sigit.
Perbedaan jumlah komponen tersebut, lanjut Sigit, berimplikasi langsung pada keberlangsungan ekosistem industri otomotif Jepang, mulai dari pemasok komponen, tenaga kerja, hingga rantai pasok yang telah terbangun puluhan tahun.
Risiko hilangnya banyak industri pendukung inilah, kata dia, yang membuat Jepang memilih strategi transisi bertahap melalui teknologi hybrid.
“Makanya, Jepang tetap mengembangkan hybrid,” tegas Sigit.
Baca Juga: Sinergi PLN-Pindad Kembangkan Pembangkit Listrik Bersih untuk Wilayah 3T