Meski tren kendaraan listrik (electric vehicle/EV) kian menguat di berbagai belahan dunia, Jepang justru mengambil jalan berbeda. Negeri Sakura tersebut memilih untuk tetap memprioritaskan pengembangan kendaraan hybrid ketimbang beralih sepenuhnya ke mobil listrik murni.

Fenomena ini disoroti oleh Direktur Utama PT Pindad (Persero), Sigit Puji Santosa, yang menilai keputusan Jepang berakar kuat pada sejarah dan kematangan industri otomotifnya.

Menurut Sigit, sejak dekade 1990-an Jepang sudah menentukan arah pengembangan teknologi otomotifnya.

Saat Amerika Serikat dan Eropa mulai agresif mengembangkan kendaraan listrik, Jepang justru enggan mengikuti arus tersebut dan memilih fokus pada teknologi hybrid.

“Kita bisa lihat di tahun 90-an, pada saat Amerika dan Eropa mengembangkan EV, Jepang tidak mau menggabungkan EV. Mereka arahnya ke hybrid,” papar Sigit, dalam sebuah video sebagaimana dikutip Olenka, Jumat (15/1/2026).

Sigit menuturkan bahwa Jepang lebih dulu masuk ke pengembangan hybrid berbasis nickel metal hydride pada periode 1990–2000.

Salah satu tonggak pentingnya adalah peluncuran Toyota Prius, yang menjadi simbol keberhasilan Jepang dalam membangun teknologi hybrid yang efisien dan dapat diterima pasar global.

Baca Juga: Pindad Kebanjiran Order dari Kemenhan