Dalam laporan tahunan Digital 2027: Indonesia report yang dirilis We Are Social bersama Meltwater, Indonesia menjadi salah satu negara dengan aktivitas digital paling tinggi di dunia dengan 231 juta pengguna internet atau setara dengan 80,2% dari total populasi. Tingginya keterlibatan masyarakat dalam ekosistem digital juga tercermin dari sejumlah indikator, termasuk keyakinan terhadap manfaat AI bagi masyarakat dan penggunaan layanan buy now, pay later (BNPL) yang menempatkan Indonesia di posisi teratas dalam laporan ini.
Untuk media sosial, tercatat sebanyak 240 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia, setara dengan 83,2% dari total populasi. Pengguna internet berusia 16 tahun ke atas juga aktif menggunakan rata-rata 7,5 platform media sosial setiap bulan, menempatkan Indonesia di peringkat kedelapan tertinggi dalam laporan.
Baca Juga: Komdigi Sukses Selenggarakan Bali Tech Week 2026, Perkuat Kolaborasi Ekosistem Digital ASEAN
Di tengah tingginya penggunaan berbagai platform, aplikasi messaging tetap menjadi sarana utama untuk berkomunikasi. WhatsApp digunakan oleh 92,7% pengguna internet di Indonesia. Pengguna aktifnya menghabiskan rata-rata 1 jam 55 menit setiap hari di aplikasi tersebut, durasi tertinggi dibandingkan seluruh negara yang tercakup dalam laporan. Instagram dan TikTok menyusul sebagai platform yang paling banyak digunakan.
Peran media sosial juga meluas hingga memengaruhi keputusan pembelian. Sebanyak 60,0% pengguna internet di Indonesia mengandalkan jejaring sosial untuk mencari informasi tentang brand, menjadikannya kanal yang paling banyak digunakan dalam riset brand.
Antusiasme terhadap AI Tinggi
Penggunaan AI semakin meluas di Indonesia. Dalam satu bulan terakhir, 94,9% pengguna internet berusia 16 tahun ke atas telah menggunakan tools AI, menempatkan Indonesia di peringkat keempat tertinggi dalam laporan. AI juga dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan kreatif. Di antara pengguna AI, sebanyak 43,7% telah menggunakannya untuk membuat atau menyempurnakan gambar maupun video. Sementara itu, ChatGPT dan Google Gemini masing-masing digunakan oleh hampir separuh pengguna internet di Indonesia.
Meski pemanfaatannya semakin luas, tingkat kenyamanan masyarakat dalam menggunakan AI masih belum sejalan dengan antusiasme mereka terhadap teknologi ini. Sebanyak 47,2% pengguna internet di Indonesia meyakini bahwa AI memberikan manfaat bagi masyarakat, menjadi angka tertinggi di antara negara-negara yang tercakup dalam laporan. Namun, hanya 28,3% yang menyatakan nyaman menggunakan AI, masih di bawah rata-rata global.
Temuan ini memperlihatkan adanya perbedaan antara keyakinan masyarakat terhadap potensi AI dan kenyamanan mereka dalam menggunakannya secara langsung. Seiring dengan peran AI yang semakin besar dalam aktivitas pencarian informasi, pembelajaran, dan kreasi, pemanfaatan teknologi secara jelas dan bertanggung jawab menjadi hal yang semakin penting.
Internet juga semakin diandalkan dalam aktivitas belanja dan pengambilan keputusan. Sebanyak 73,1% pengguna internet di Indonesia lebih memilih berbelanja secara online dibandingkan di toko fisik, menjadi angka tertinggi kedua dalam laporan. Penggunaan layanan buy now, pay later (BNPL) juga cukup menonjol. Sebanyak 34,7% pengguna internet menggunakan layanan ini setiap minggu, lebih dari dua kali lipat rata-rata global.
“Perhatian audiens di Indonesia perlu diperoleh melalui pendekatan yang tepat. Mereka semakin cermat dalam mencari informasi dan menyaring berbagai pesan yang diterima. Secara keseluruhan, kita melihat masyarakat Indonesia telah menjadikan teknologi digital sebagai bagian dari keseharian, meski kepercayaan terhadap teknologi tersebut masih terus berkembang. Mereka melihat potensi AI dalam memberikan manfaat bagi masyarakat dan semakin nyaman berbelanja online, tetapi tetap mempertimbangkan sejauh mana informasi yang mereka temui dapat dipercaya. Bagaimana kepercayaan ini berkembang akan turut menentukan arah pertumbuhan ekonomi digital Indonesia ke depan," ujar Mimrah Mahmood, APAC Vice President of Enterprise Sales, Meltwater.
“Dengan sekitar dua pertiga pengguna internet di Indonesia melakukan riset online sebelum membeli, dan 28,2% sudah menjadikan AI sebagai sumber utama untuk riset brand, cara brand membangun consideration kini ikut berubah,” tambah Yudhi Hastiardi, Managing Director We Are Social Indonesia, dalam keterengan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis (5/11/2026).
“Selama ini, brand berkompetisi untuk mendapatkan visibility. Namun, kini mereka juga perlu memperhatikan bagaimana brand mereka muncul dan direpresentasikan di berbagai sumber informasi yang menjadi rujukan audiens, termasuk AI. Apa yang dikatakan orang tentang sebuah brand, serta kredibilitas informasi yang menyertainya, semakin berperan dalam membentuk persepsi, sama pentingnya dengan pesan yang disampaikan brand itu sendiri. Bagi brand, peluangnya adalah membangun kehadiran yang tidak hanya terlihat, tetapi juga relevan dan kredibel di mana pun audiens mencari jawaban," tandasnya.