Politisi PDI Perjuangan, Guntur Romli mengatakan pemecataan Purbaya Yudhi Sadewa dari posisi Menteri Keuangan bukan sekadar reshuffle kabinet, ada ketidak laziman dari pemberhentian Purbaya secara tiba-tiba itu.

Menurut anak buah Megawati Soekarnoputri itu ada banyak hal yang membuat Purbaya dipecat Prabowo, ia diberhentikan bukan karena kontrak kerja yang usai sebagaimana pengakuan Purbaya. 

Ia menduga salah satu penyebabnya adalah karena keberanian Purbaya melakukan perombakan besar-besaran di internal Kementerian Keuangan.

Sekadar info saja, empat hari sebelum dipecat Prabowo, Purbaya melantik hampir 400 pejabat Kemenkeu dimana jarak antara pelantikan dan pemecatan Purbaya yang terlampau pendek dinilai bukan sebuah kebetulan belaka. 

Baca Juga: Ceplas-ceplos Kayak Ahok, Purbaya Jadi Rebutan Parpol Usai Didepak Prabowo

“Kejanggalan waktu itu bukan sekedar kebetulan administratif. Itu jejak dari pertarungan yang kalah. Purbaya sendiri mengaku sudah menduga 50-50 kemungkinan dirinya akan diganti," ujar Guntur dilansir Olenka.id Kamis (16/9/2026).

"Pengakuan yang menunjukkan ia tahu sesuatu sedang terjadi jauh sebelum kabar resmi pemecatan itu datang. Dan ketika ditanya soal rotasi ratusan pejabat itu, ia mengonfirmasi sebagian ia jadi penyebabnya, kata dia," tambah Guntur Romli. 

Kendati pemecatan Purbaya dilakukan mendadak hanya lewat sambungan telepon, namun yang bersangkutan kata Guntur Romli sebenarnya telah mengetahui bahwa kariernya bakal diselesaikan. 

Rotasi dan perombakan besar-besaran yang dilakukan nyatanya merembet kemana-mana gesekan Purbaya dengan dengan Dirjen Pajak dan Dirjen Bea Cukai menjadi tak terelakan lagi. Kabarnya orang–orang yang duduk  Dirjen Pajak dan Dirjen Bea Cukai adalah figur yang dekat dengan Prabowo.

"Rotasi yang memicu gesekan nyata dengan Dirjen Pajak dan Dirjen Bea Cukai sampai keduanya absen dari seremoni pelantikan pejabat baru," ujar Guntur Romli. 

Guntur mengatakan, pemecatan Purbaya menandakan bahwa ada orang di internal Kemenkeu yang punya akses khusus ke pusat kekuasaan dalam hal ini kepala negara yang bisa meminta atau bahkan menekan Presiden untuk segera memecat Purbaya yang mulai mengusik mereka. 

“Itu sinyal bahwa ada pejabat di internal Kementerian Keuangan yang punya jalur langsung ke pusat kekuasaan cukup kuat untuk membuat menteri yang mengangkat mereka justru tersingkir lebih dulu. Purbaya kalah bukan karena salah kebijakan, tapi karena kalah akses," bebernya. 

Guntur mengatakan, setelah angkat kaki dari Kementerian Keuangan, Purbaya mewarisi beban fiskal yang lumayan berat dimana beban itu karena program prioritas Prabowo seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga Program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). 

“Sisi lainnya lebih getir. Purbaya mewarisi beban fiskal dari proyek-proyek prioritas Presiden yang terus menampakkan tanda kegagalan," terangnya

"Program-program ambisius itu menuntut ruang fiskal yang tidak realistis. Ketika angkanya tidak ketemu, siapa yang disalahkan? Bukan desain programnya, tapi menteri keuangannya," imbuhnya. 

Guntur mengatakan persoalan fiskal tersebut membuat posisi Menteri Keuangan berada dalam tekanan ketika pemerintah tetap menjalankan berbagai program prioritas dengan kebutuhan anggaran besar. 

Baca Juga: Pemecatan Purbaya Nggak Bakal Mengubah Apa-apa, Kanker Stadium 4 Mana Mempan Dioles Kalpanax!

“Kebijakan purbaya untuk menambal kebocoran fiskal itu seperti pemindahan sal ke bank himbara, restitusi pajak yang ditahan, pembangkasan dana bagi hasil ke daerah, semua itu gejala dari satu masalah," terang dia.

“Purbaya tidak dicopot karena gagal, ia dikorbankan oleh rival-rivalnya di dalam dan oleh proyek-proyek yang tak sanggup ia biayai dari luar. Siapapun Anda di lingkaran kekuasaan harus siap dikorbankan dan dijadikan sebagai kambing hitam," tambahnya memungkasi.