Pemeriksaan dini dapat mencegah kerusakan lebih lanjut
Karena CKD jarang menimbulkan gejala pada tahap awal, dokter menyarankan orang dengan diabetes, hipertensi, penyakit jantung, atau riwayat keluarga penyakit ginjal menjalani pemeriksaan rutin melalui tes darah untuk mengukur fungsi ginjal (eGFR) dan tes urine untuk mendeteksi kebocoran protein.
Dr. Srivatsa menambahkan, pengobatan kini semakin berkembang. Selain mengontrol faktor risiko, obat-obatan seperti golongan SGLT2 inhibitor, GLP-1 receptor agonist, dan non-steroidal mineralocorticoid receptor antagonist terbukti membantu memperlambat kerusakan ginjal bila diberikan sejak dini.
Namun, jika fungsi ginjal sudah menurun berat, pasien mungkin memerlukan dialisis atau transplantasi ginjal.
Sementara itu, bagi pasien yang menjalani hemodialisis, Dr. Avik Bhattacharyya, Konsultan Senior Radiologi Intervensional di CK Birla Hospitals CMRI, mengingatkan pentingnya menjaga fistula arteriovenosa (AV fistula) sebagai akses dialisis.
Ia pun menegaskan bahwa pembengkakan lengan, melemahnya denyut fistula, nyeri, atau perdarahan berkepanjangan setelah dialisis tidak boleh diabaikan karena penanganan dini dapat mencegah hilangnya akses dialisis yang vital.
Baca Juga: Bukan Hanya Gula Darah, Ini Alasan Pasien Diabetes Perlu Pantau LDL-C dan Fungsi Ginjal