Growthmates, ginjal merupakan organ vital yang setiap hari menyaring sekitar 180 liter darah, membuang limbah, menjaga keseimbangan cairan, mengatur tekanan darah, hingga membantu pembentukan sel darah merah.
Namun, penyakit ginjal kronis (chronic kidney disease/CKD) sering berkembang tanpa gejala sehingga banyak penderita baru mengetahui kondisinya saat kerusakan ginjal sudah parah.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan International Society of Nephrology, lebih dari 800 juta orang di dunia hidup dengan penyakit ginjal kronis. Diabetes dan hipertensi menjadi penyebab utamanya.
Dr. Srivatsa A, Konsultan Nefrologi dan Dokter Transplantasi di Apollo Hospitals Bengaluru, India, mengatakan, ginjal memiliki kemampuan beradaptasi yang sangat baik sehingga kerusakan sering tidak disadari.
"Ginjal memiliki cadangan fungsional yang luar biasa. Unit penyaring yang sehat secara otomatis bekerja lebih keras untuk mengimbangi unit yang rusak. Karena kompensasi ini, pasien secara rutin kehilangan hingga 80% fungsi ginjal sebelum mengalami satu pun tanda penyakit yang terlihat," jelasnya, dikutip dari Times of India, Minggu (19/7/2026).
Saat gejala mulai muncul, kondisi biasanya sudah memasuki stadium lanjut. Penumpukan limbah dalam darah dapat menyebabkan kelelahan berkepanjangan, mual, hilang nafsu makan, kulit gatal, hingga pembengkakan pada kaki, pergelangan kaki, atau tangan.
Sebagian pasien juga mengalami sesak napas akibat anemia karena ginjal tidak lagi memproduksi hormon pembentuk sel darah merah dalam jumlah cukup.
Gejala yang perlu diwaspadai
Meski tidak selalu menandakan penyakit ginjal, gejala-gejala seperti pembengkakan pada kaki, pergelangan kaki, tangan, atau wajah, kelelahan yang terus-menerus, mual atau muntah, penurunan nafsu makan, kram otot, perubahan pola buang air kecil, kulit gatal, sulit berkonsentrasi, hingga tekanan darah yang sulit dikendalikan sebaiknya tidak diabaikan.
Jika keluhan tersebut muncul secara berulang atau berlangsung dalam waktu lama, terutama pada penderita diabetes atau hipertensi, segera lakukan pemeriksaan ke dokter untuk mengetahui penyebabnya sedini mungkin.
Menurut Dr. Srivatsa, diabetes merusak pembuluh darah kecil penyaring ginjal, sedangkan hipertensi menyebabkan pembuluh darah di ginjal menyempit dan menebal sehingga fungsi penyaringan menurun secara bertahap.
Risiko juga meningkat pada penderita penyakit autoimun, obesitas, perokok, pengguna jangka panjang obat pereda nyeri tertentu, serta mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit ginjal.
Baca Juga: Transplantasi Ginjal Robotik Pertama di Indonesia, Apa Bedanya dengan Operasi Biasa?