Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih menunjukkan angka yang solid dalam sembilan bulan pertama tahun 2026. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,47% yoy pada kuartal ketiga 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 5,29%.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengungkapkan bahwa capaian tersebut mendorong capaian target pertumbuhan ekonomi ke depan dalam kisaran 4,9% hingga 5,7%. Hal tersebut ditopang oleh berlanjutnya berbagai stimulus pemerintah, membaiknya ekspektasi pelaku ekonomi, serta menguatnya berbagai sumber pertumbuhan ekonomi.
Baca Juga: Cadangan Devisa RI Naik Jadi US$146,8 Miliar, BI: Ada Penarikan Utang Luar Negeri Pemerintah
"Bank Indonesia terus memperkuat bauran kebijakan melalui kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran yang bersinergi erat dengan kebijakan Pemerintah untuk menjaga stabilitas dengan tetap mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan," tegas Denny dalam keterangan resmi yang diterima Olenka pada Jumat (6/11/2026).
Di balik angka pertumbuhan ekonomi pada Q3 2026, lanjut Denny, aktivitas ekonomi domestik terkait konsumsi dan investasi menjadi penopang utama pertumbuhan dari sisi pengeluaran. Ia menyebut, konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 5,04% (yoy) seiring peningkatan mobilitas masyarakat serta berbagai gelaran pertunjukan dan olahraga.
"Sementara itu, konsumsi Pemerintah tumbuh sebesar 8,95% (yoy) bersumber dari peningkatan realisasi belanja pegawai terutama pada gaji dan tunjangan Aparatur Sipil Negara (ASN), serta belanja barang dan jasa diantaranya program Makan Bergizi Gratis (MBG)," tambahnya lagi.
Baca Juga: BI Beberkan 3 Penyebab Rupiah Melemah hingga Tembus Rp18.100 per Dolar AS
Pada periode yang sama, konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) tumbuh sebesar 5,02% (yoy). Investasi juga tumbuh sebesar 6,06% (yoy) didorong oleh pertumbuhan subkomponen kendaraan serta investasi pemerintah dan swasta sejalan dengan meningkatnya realisasi penanaman modal. Sementara itu, ekspor tumbuh sebesar 4,59% (yoy) ditopang oleh permintaan mitra dagang utama.
Dari sisi Lapangan Usaha (LU), jelas Denny, seluruh LU menunjukkan kinerja positif. LU Industri Pengolahan dan LU Perdagangan sebagai kontributor utama pertumbuhan tercatat meningkat didorong oleh permintaan domestik dan eksternal.
LU Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum tumbuh positif sejalan dengan peningkatan okupansi hotel dan konsumsi masyarakat untuk makanan dan minuman. Selain itu, LU Konstruksi juga mencatatkan pertumbuhan yang baik ditopang olah pembangunan proyek infrastruktur oleh pemerintah dan swasta.
Dari sisi spasial, pertumbuhan ekonomi triwulan III 2026 tertinggi tercatat di Bali dan Nusa Tenggara (Balinusra), diikuti oleh Jawa, Sulawesi, Sumatera, Maluku dan Papua, serta Kalimantan.