Pengamat Politik Heru Subagia melontarkan kritik keras kepada Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, dia mengatakan sosok yang digadang-gadang bakal menjadi salah satu calon favorit pada bursa Pilpres 2029 itu adalah ayam sayur yang ciut di hadapan para koruptor kelas kakap.
Kritik itu dilontarkan untuk merespons pertemuan Dedi Mulyadi dengan para aktivis anti korupsi dan pendukung hukuman mati bagi para koruptor.
“Sekali lagi saya sudah tidak ada tedeng aling-aling. Saya katakan bahwa Dedi Mulyadi adalah ayam sayur, Dedi Mulyadi adalah raja kecil," ujar Heru dalam keterangannya Rabu (2/9/2025).
Adapun Dedi mengundang sejumlah aktivis anti korupsi untuk melakukan sebuah pertemuan yang digelar pada Selasa (1/9/2026) malam. Salah satu tokoh yang diundang adalah Supriyono alias Botok bersama Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) yang baru-baru ini menggelar unjuk rasa di Gedung DPR pada 27 Agustus 2026 lalu.
"Yang dilakukan Dedi Mulyadi dengan mengundang aktivis antikorupsi dan pendukung hukuman mati adalah sebuah pencitraan yang sangat keji," tegas Heru.
Heru juga mempertanyakan keputusan Mas Botok dkk yang langsung memenuhi undangan tersebut. Dia mengatakan, sebagai aktivis anti korupsi, Mas Botok Cs seharusnya menolak undangan itu, sebab Dedi sendiri merupakan pejabat yang tak punya nyali menghadapi para koruptor.
"Jika seandainya Anda mengetahui juga atau setidaknya tahu Dedi Mulyadi adalah pemimpin yang sangat takut dengan koruptor, mengapa Anda harus datang? Mengapa Anda melayani undangannya?,” katanya lagi.
Heru menegaskan, yang dilakukan Dedi sekarang ini adalah mencampuradukkan masalah kemanusian dalam hal ini pemberantasan korupsi dengan urusan politik demi elektoral dan elektabilitas pribadinya menjelang Pilpres 2029 mendatang.
Meski begitu Heru yakin cara-cara ini tidak bakal lagi mempan mengecoh publik, masyarakat kata dia saat ini mayoritas sudah melek politik yang tak tak gampang ditipu pakai intrik politik murahan.
"Masyarakat tentunya kita sudah bisa bijak, kita sudah pintar, kita juga sudah dewasa dan cerdik untuk bisa memberikan apresiasi atau bahkan kritik terhadap siapa saja yang memanfaatkan isu-isu kemanusiaan dan pemberantasan korupsi," pungkasnya.