Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mencapai Rp17.446/US$ hingga Selasa (5/5) siang dinilai membebani sektor industri dalam negeri.
Ekonom Rhenald Kasali mengungkapkan, pelemahan nilai rupiah cenderung lebih membebani sektor riil domestik karena struktur industri Indonesia masih bersifat import-dependent (ketergantungan impor).
Baca Juga: Pengamat Celios Bicara Soal Level Psikologis Nilai Tukar Rupiah, Perlu Jadi Perhatian Serius
“Pelemahan rupiah memiliki dampak ganda. Di satu sisi, sektor berbasis ekspor seperti komoditas dan manufaktur berorientasi ekspor bisa diuntungkan karena daya saing harga meningkat. Namun di sisi lain, dampak negatifnya lebih luas, terutama bagi industri yang bergantung pada bahan baku, kemasan, mesin, dan capital import,” ujarnya kepada Olenka, Selasa (5/5/2026).
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) ini menjelaskan, melemahnya nilai tukar mata uang Indonesia telah menaikkan biaya produksi karena naiknya harga bahan baku impor, energi, kemasan, hingga komponen. Hal itu berdampak pada makin tertekannya margin industri yang berpotensi menaikkan harga jual (cost-push inflation).
“Tak sampai di sana, kondisi ekonomi yang tidak stabil juga melemahkan daya beli masyarakat. Di sisi lain, lapangan kerja makin sulit karena banyak produsen berhenti ekspansi,” tegasnya.
Rhenald pun menilai, banyak sektor industri yang terdampak, terutama yang memiliki ketergantungan tinggi pada impor dan margin tipis:
- Industri oil & gas;
- Industri manufaktur (otomotif, elektronik, tekstil);
- Farmasi & alat kesehatan (bahan baku impor dominan);
- Makanan & minuman (bahan baku tertentu impor seperti gandum, susu);
- Energi & transportasi (BBM, avtur yang berbasis USD);
- MICE dan Wisata; hingga
- Oleh-oleh (suvenir) dari produsen UMKM.
“UMKM ikut terdampak karena tidak mempunyai hedging serta rendahnya daya tawar yang mereka miliki,” pungkasnya.