Satu Embrio, Satu Harapan Besar
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Subspesialis Fertilitas Primaya Evasari Hospital, dr. Darma Syanty, Sp.OG., Subsp. FER., menjelaskan bahwa IVF memang menjadi pilihan terbaik pada kasus kerusakan tuba falopi seperti yang dialami Yulia.
“Pada kasus dengan kerusakan tuba yang sudah tidak dapat berfungsi, IVF menjadi pilihan terbaik untuk memperoleh kehamilan. Namun yang tidak kalah penting adalah kesiapan fisik, emosional, serta pendampingan yang menyeluruh selama proses berlangsung,” jelas dr. Darma.
Meski menghasilkan 16 embrio, perjalanan menuju keberhasilan tetap tidak mudah. Hanya satu embrio yang berkembang optimal.
“Perjalanan menghasilkan embrio itu tidak selalu mudah. Tidak semua jumlah sel telur yang banyak akan menghasilkan embrio yang baik karena ada banyak faktor yang memengaruhi. Alhamdulillah kami mendapatkan satu embrio yang bagus dan berhasil bertumbuh dengan baik,” katanya.
Menurut dr. Darma, hubungan positif antara pasien dan tim medis juga menjadi faktor penting yang ikut menentukan.
“Kami sangat bersyukur karena mereka sangat terbuka dan nyaman dengan tim kami. Komunikasi antara dokter, perawat, dan pasien berjalan sangat baik. Suasana positif seperti itu sangat memengaruhi perjalanan IVF.”
Menjelang persalinan, tim dokter juga sempat memberi perhatian ekstra karena berat badan janin berada di bawah target.
“Saya sempat khawatir karena berat badan janin terlihat kecil. Karena itu kami melakukan koordinasi intensif dengan dokter subspesialis fetomaternal untuk memastikan kondisi ibu dan bayi tetap optimal,” tutur dr. Darma.
Berbagai langkah antisipasi pun disiapkan, termasuk tambahan nutrisi hingga suntik pematangan paru.
“Kami mempersiapkan segala kemungkinan jika pertumbuhan janin tidak sesuai harapan. Namun alhamdulillah berat badan bayi meningkat dan kondisi persalinan berjalan sangat baik.”
Persalinan Nyaman dengan Metode ERACS
Proses persalinan Yulia dilakukan melalui layanan maternal terintegrasi Primaya Evasari Hospital menggunakan metode Enhanced Recovery After Cesarean Surgery (ERACS) yang dikombinasikan dengan TAP Block, untuk membantu meminimalkan nyeri pascaoperasi.
Yulia mengaku terkejut dengan cepatnya proses pemulihan yang ia rasakan.
“Setelah operasi saya tidak terlalu merasakan sakit. Dalam beberapa jam sudah bisa jalan, ke toilet sendiri, bahkan bisa langsung menggendong bayi. Jadi benar-benar membantu proses recovery,” ujarnya.
Rifky pun merasa bersyukur bisa terlibat langsung mendampingi proses kelahiran buah hati mereka.
“Saya bahkan bisa ikut mendampingi proses persalinan, sehingga menjadi momen yang sangat berharga bagi kami berdua. Setelah persalinan pun, istri saya tetap mendapatkan perhatian dan pendampingan selama masa pemulihan.”
Kemudian, Dokter Spesialis Anak Primaya Evasari Hospital, dr. Desy Dewi Saraswati, Sp.A., mengaku tim dokter sempat ikut tegang karena berdasarkan hasil USG, berat bayi diperkirakan hanya sekitar 2,2 kilogram.
“Waktu mendapat info berat bayi sekitar 2,2 kilogram berdasarkan hasil USG, kami semakin deg-degan. Kami semua banyak berdoa karena ada kekhawatiran jika berat lahirnya ternyata lebih kecil," tuturnya.
Berbagai antisipasi, termasuk kesiapan fasilitas NICU, telah disiapkan.
“Alhamdulillah semuanya sudah dipersiapkan dengan baik, termasuk backup perawatan NICU jika memang dibutuhkan," tukasnya.
Namun, kabar baik datang saat bayi lahir.
“Alhamdulillah bayi lahir dengan berat 2,4 kilogram, kondisinya bagus, tangisnya kuat, skornya juga baik,” ungkap dr. Desy.
Tak hanya itu, keluarga juga mendapatkan edukasi laktasi, pemeriksaan OAE (Otoacoustic Emissions), vaksinasi awal bayi, hingga pendampingan intensif selama masa pemulihan.
Dokter Spesialis Anak Subspesialis Jantung Anak, dr. Nuvi Nusarintowati, Sp.A., Subsp. Kardio(K), menegaskan pentingnya pemantauan sejak hari pertama kehidupan.
“Kami melakukan pemantauan menyeluruh terhadap kondisi bayi sejak lahir, termasuk pemeriksaan awal dan edukasi kepada orang tua agar proses adaptasi bayi berlangsung optimal.”
Menurutnya, bayi yang hadir setelah perjuangan panjang layak mendapatkan perhatian terbaik sejak awal.
“Kehadiran buah hati setelah penantian panjang tentu menjadi momen yang sangat berharga, sehingga kami ingin memastikan ibu dan bayi mendapatkan pendampingan terbaik sejak hari pertama.”
Sementara itu, Direktur Primaya Evasari Hospital, dr. Wily Kurniady, MARS, menegaskan komitmen rumah sakit dalam menghadirkan layanan kesehatan ibu dan anak yang menyeluruh.
Sebagai bagian dari layanan maternal terintegrasi, Primaya Evasari Hospital juga menghadirkan edukasi laktasi, pemeriksaan OAE (Otoacoustic Emissions) untuk bayi baru lahir, vaksinasi awal bayi, hingga pendampingan keluarga selama proses persalinan dan masa pemulihan ibu.
Primaya Evasari Hospital yang telah berdiri selama 49 tahun, kata dr. Wily, terus memperkuat layanan Women & Child Center sebagai salah satu layanan unggulan.
“Kami percaya pengalaman pasien tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan tindakan medis, tetapi juga oleh kualitas pendampingan yang diberikan selama proses perawatan. Oleh karena itu, Primaya Hospital Group terus memperkuat layanan Women & Child Center sebagai salah satu layanan unggulan. Kehadiran layanan maternal dan fertility terintegrasi ini diharapkan dapat menjadi harapan baru bagi lebih banyak pasangan yang tengah berjuang mendapatkan buah hati,” tutupnya.
Baca Juga: 6 Mitos dan Kesalahpahaman tentang Metode IVF atau Bayi Tabung