Setelah sembilan tahun penuh doa, harapan, dan perjuangan, kebahagiaan akhirnya datang untuk Rifky Alhabsyi dan Yulia Rahmayani.
Pasangan ini resmi menyambut kelahiran anak pertama mereka setelah melalui perjalanan panjang menghadapi infertilitas, menjalani program bayi tabung (in vitro fertilization/IVF) bersama Smart Fertility Clinic, hingga proses persalinan yang berlangsung di Primaya Evasari Hospital.
Bagi aktor, model, sekaligus mantan pesepak bola yang pernah memperkuat Sriwijaya FC, Persiba Balikpapan, dan PSIM Yogyakarta itu, momen mendampingi sang istri di ruang operasi menjadi salah satu pengalaman paling emosional yang pernah ia rasakan sepanjang hidupnya.
“Jujur, saya bahagia banget. Saya masuk ruang operasi hari Jumat jam 8 pagi dengan rasa haru, rasa gelisah, rasa gundah mendampingi istri saya yang berjuang melahirkan anak yang kami nantikan. Itu anugerah terindah yang saya rasakan. Penantian kami selama 9 tahun akhirnya terwujud,” terang Rifky dengan mata berbinar, saat konferensi pers di Ruang Audit, lantai 1 Primaya Evasari Hospital, Jakarta, Senin (18/5/2026).
Namun, perjalanan menuju momen bahagia itu jauh dari kata mudah.
Pada 2018, Yulia sempat mengalami kehamilan ektopik atau hamil di luar kandungan yang mengharuskannya menjalani operasi pengangkatan salah satu tuba falopi. Kondisi tersebut membuat peluang untuk hamil secara alami menjadi semakin kecil.
“Waktu itu kami pernah dijudge akan sulit punya keturunan lagi. Kami sempat hopeless, tapi sekali lagi kami tidak menyerah karena kami berserah,” kenang Rifky.
Sejak 2019, pasangan ini terus berusaha. Mereka menjalani berbagai program kehamilan, berkonsultasi dengan sejumlah dokter, hingga berpindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya demi mewujudkan impian menjadi orang tua.
Namun, hasil pemeriksaan menunjukkan adanya penyumbatan pada tuba falopi yang tersisa, sehingga menutup kemungkinan untuk hamil secara alami maupun melalui inseminasi.
“Jalan satu-satunya akhirnya memang program bayi tabung. Kami jalani dengan berat, tapi kami pasrahkan dan ikhlaskan,” katanya.
Harapan baru muncul ketika Yulia memulai program IVF di Smart Fertility Clinic. Proses dimulai pada Februari 2025 melalui prosedur ovum pick up (OPU), lalu dilanjutkan dengan frozen embryo transfer (FET) pada September 2025.
Dari total 16 embrio yang berhasil terbentuk, hanya satu embrio yang bertahan dengan kualitas terbaik dan layak untuk ditransfer.
“Kami hanya punya satu harapan. Kalau gagal, kami harus mengulang semuanya dari awal. Kami cuma bisa berdoa, ‘Ya Allah, jika memang ini rezeki kami, hadirkanlah dan jadikanlah.’ Alhamdulillah saat transfer embrio berhasil 100 persen,” ungkap Rifky.
Bagi Rifky dan Yulia, bukan hanya hasil akhirnya yang membahagiakan, tetapi juga perjalanan yang mereka rasakan selama didampingi tim medis.
“Perjalanan kami untuk mendapatkan buah hati bukan proses yang mudah. Selama bertahun-tahun kami belajar untuk tetap kuat, tetap berharap, dan saling mendukung satu sama lain. Yang paling membuat kami tenang adalah di Primaya Evasari Hospital kami merasa benar-benar didampingi sejak awal program kehamilan hingga proses persalinan,” ujar Rifky.
CEO Smart Fertility Clinic, dr. Laura Leandra Setiawan, mengatakan setiap pasangan yang berjuang mendapatkan momongan memiliki tantangan yang unik.
“Perjalanan menjadi orang tua itu bukan perjalanan yang mudah. Setiap pasien memiliki tantangan dan kondisi yang berbeda-beda, sehingga penanganannya pun harus disesuaikan,” jelas dr. Laura.
Menurutnya, Smart Fertility Clinic hadir sebagai one-stop solution bagi para pejuang garis dua, mulai dari tahap skrining hingga program IVF.
“Di Smart Fertility Clinic kami berusaha memberikan yang terbaik untuk para pejuang garis dua dengan layanan one-stop solution. Mulai dari screening, program hamil alami, inseminasi, hingga program bayi tabung,” tuturnya.
Ia juga menekankan pentingnya waktu dan kondisi reproduksi dalam menentukan keberhasilan program fertilitas.
“Semakin bertambah usia, peluang keberhasilan kehamilan tentu akan semakin menurun. Karena itu screening dan penanganan sejak awal menjadi sangat penting.”
Tak lupa, dr. Laura berharap kisah Rifky dan Yulia bisa menjadi sumber semangat bagi pasangan lain yang sedang berjuang.
“Semoga perjuangan Kak Rifky dan Kak Yulia bisa menginspirasi para pejuang garis dua di Indonesia untuk tetap semangat dan terus berjuang. Pasrah boleh, tapi jangan pernah menyerah," tegasnya.
Satu Embrio, Satu Harapan Besar
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Subspesialis Fertilitas Primaya Evasari Hospital, dr. Darma Syanty, Sp.OG., Subsp. FER., menjelaskan bahwa IVF memang menjadi pilihan terbaik pada kasus kerusakan tuba falopi seperti yang dialami Yulia.
“Pada kasus dengan kerusakan tuba yang sudah tidak dapat berfungsi, IVF menjadi pilihan terbaik untuk memperoleh kehamilan. Namun yang tidak kalah penting adalah kesiapan fisik, emosional, serta pendampingan yang menyeluruh selama proses berlangsung,” jelas dr. Darma.
Meski menghasilkan 16 embrio, perjalanan menuju keberhasilan tetap tidak mudah. Hanya satu embrio yang berkembang optimal.
“Perjalanan menghasilkan embrio itu tidak selalu mudah. Tidak semua jumlah sel telur yang banyak akan menghasilkan embrio yang baik karena ada banyak faktor yang memengaruhi. Alhamdulillah kami mendapatkan satu embrio yang bagus dan berhasil bertumbuh dengan baik,” katanya.
Menurut dr. Darma, hubungan positif antara pasien dan tim medis juga menjadi faktor penting yang ikut menentukan.
“Kami sangat bersyukur karena mereka sangat terbuka dan nyaman dengan tim kami. Komunikasi antara dokter, perawat, dan pasien berjalan sangat baik. Suasana positif seperti itu sangat memengaruhi perjalanan IVF.”
Menjelang persalinan, tim dokter juga sempat memberi perhatian ekstra karena berat badan janin berada di bawah target.
“Saya sempat khawatir karena berat badan janin terlihat kecil. Karena itu kami melakukan koordinasi intensif dengan dokter subspesialis fetomaternal untuk memastikan kondisi ibu dan bayi tetap optimal,” tutur dr. Darma.
Berbagai langkah antisipasi pun disiapkan, termasuk tambahan nutrisi hingga suntik pematangan paru.
“Kami mempersiapkan segala kemungkinan jika pertumbuhan janin tidak sesuai harapan. Namun alhamdulillah berat badan bayi meningkat dan kondisi persalinan berjalan sangat baik.”
Persalinan Nyaman dengan Metode ERACS
Proses persalinan Yulia dilakukan melalui layanan maternal terintegrasi Primaya Evasari Hospital menggunakan metode Enhanced Recovery After Cesarean Surgery (ERACS) yang dikombinasikan dengan TAP Block, untuk membantu meminimalkan nyeri pascaoperasi.
Yulia mengaku terkejut dengan cepatnya proses pemulihan yang ia rasakan.
“Setelah operasi saya tidak terlalu merasakan sakit. Dalam beberapa jam sudah bisa jalan, ke toilet sendiri, bahkan bisa langsung menggendong bayi. Jadi benar-benar membantu proses recovery,” ujarnya.
Rifky pun merasa bersyukur bisa terlibat langsung mendampingi proses kelahiran buah hati mereka.
“Saya bahkan bisa ikut mendampingi proses persalinan, sehingga menjadi momen yang sangat berharga bagi kami berdua. Setelah persalinan pun, istri saya tetap mendapatkan perhatian dan pendampingan selama masa pemulihan.”
Kemudian, Dokter Spesialis Anak Primaya Evasari Hospital, dr. Desy Dewi Saraswati, Sp.A., mengaku tim dokter sempat ikut tegang karena berdasarkan hasil USG, berat bayi diperkirakan hanya sekitar 2,2 kilogram.
“Waktu mendapat info berat bayi sekitar 2,2 kilogram berdasarkan hasil USG, kami semakin deg-degan. Kami semua banyak berdoa karena ada kekhawatiran jika berat lahirnya ternyata lebih kecil," tuturnya.
Berbagai antisipasi, termasuk kesiapan fasilitas NICU, telah disiapkan.
“Alhamdulillah semuanya sudah dipersiapkan dengan baik, termasuk backup perawatan NICU jika memang dibutuhkan," tukasnya.
Namun, kabar baik datang saat bayi lahir.
“Alhamdulillah bayi lahir dengan berat 2,4 kilogram, kondisinya bagus, tangisnya kuat, skornya juga baik,” ungkap dr. Desy.
Tak hanya itu, keluarga juga mendapatkan edukasi laktasi, pemeriksaan OAE (Otoacoustic Emissions), vaksinasi awal bayi, hingga pendampingan intensif selama masa pemulihan.
Dokter Spesialis Anak Subspesialis Jantung Anak, dr. Nuvi Nusarintowati, Sp.A., Subsp. Kardio(K), menegaskan pentingnya pemantauan sejak hari pertama kehidupan.
“Kami melakukan pemantauan menyeluruh terhadap kondisi bayi sejak lahir, termasuk pemeriksaan awal dan edukasi kepada orang tua agar proses adaptasi bayi berlangsung optimal.”
Menurutnya, bayi yang hadir setelah perjuangan panjang layak mendapatkan perhatian terbaik sejak awal.
“Kehadiran buah hati setelah penantian panjang tentu menjadi momen yang sangat berharga, sehingga kami ingin memastikan ibu dan bayi mendapatkan pendampingan terbaik sejak hari pertama.”
Sementara itu, Direktur Primaya Evasari Hospital, dr. Wily Kurniady, MARS, menegaskan komitmen rumah sakit dalam menghadirkan layanan kesehatan ibu dan anak yang menyeluruh.
Sebagai bagian dari layanan maternal terintegrasi, Primaya Evasari Hospital juga menghadirkan edukasi laktasi, pemeriksaan OAE (Otoacoustic Emissions) untuk bayi baru lahir, vaksinasi awal bayi, hingga pendampingan keluarga selama proses persalinan dan masa pemulihan ibu.
Primaya Evasari Hospital yang telah berdiri selama 49 tahun, kata dr. Wily, terus memperkuat layanan Women & Child Center sebagai salah satu layanan unggulan.
“Kami percaya pengalaman pasien tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan tindakan medis, tetapi juga oleh kualitas pendampingan yang diberikan selama proses perawatan. Oleh karena itu, Primaya Hospital Group terus memperkuat layanan Women & Child Center sebagai salah satu layanan unggulan. Kehadiran layanan maternal dan fertility terintegrasi ini diharapkan dapat menjadi harapan baru bagi lebih banyak pasangan yang tengah berjuang mendapatkan buah hati,” tutupnya.
Baca Juga: 6 Mitos dan Kesalahpahaman tentang Metode IVF atau Bayi Tabung