Coca-Cola Europacific Partners (CCEP) Indonesia memanfaatkan energi terbarukan melalui instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di fasilitas produksinya. Untuk mendukung upaya tersebut, CCEP Indonesia berkolaborasi dengan PT Cikarang Listrindo Tbk (CL).

Kegiatan ini berlangsung di Pabrik CCEP Indonesia, Bekasi 2 Plant, Rabu (4/11/2026), dengan mengusung tema "Akselerasi Transisi Energi melalui Kolaborasi Industri dan Penyedia Solusi Energi untuk Industri Berkelanjutan".

Linda Christina Daryanto, Customer Service and Supply Chain Director CCEP Indonesia, menyebut Bekasi 2 Plant sebagai salah satu dari lima fasilitas produksi strategis perusahaan. Menurutnya, pabrik ini bukan sekadar tempat produksi, melainkan bukti bahwa operasional, inovasi, dan keberlanjutan dapat berjalan beriringan.

"Ketika kita berbicara tentang transisi energi, bagi kami ini bukan hanya target jangka panjang atau komitmen di atas kertas, ini mengenai tindakan yang nyata," ujar Linda.

Baca Juga: Coca-Cola Rayakan 99 Tahun di Indonesia dengan Kampanye Nongkrong Seru Bareng Coca-Cola

Sementara itu, Christanto Pranata, perwakilan PT Cikarang Listrindo Tbk, memaparkan bahwa PLTS atap tersebut memiliki kapasitas 1,4 MWp dan diperkirakan menghasilkan sekitar 1,76 gigawatt-hour listrik terbarukan per tahun.

Jumlah tersebut setara dengan pengurangan emisi gas rumah kaca sekitar 1.180 ton CO2 per tahun, atau setara dengan karbon yang diserap hampir 20.000 pohon selama 10 tahun.

Menurut Christanto, kebutuhan industri terhadap energi bersih terus berkembang sehingga kolaborasi menjadi kunci untuk mendukung transisi energi.

"Keberlanjutan sekarang ini bukan lagi menjadi sebuah pilihan, tetapi menjadi sebuah tema sentral," katanya.

Ia menambahkan, kerja sama ini juga mendukung program pemerintah dalam mencapai target net zero emission pada 2060.

Natasha Gabriella, Head of Sustainability of Coca-Cola Europacific Partners, menekankan bahwa bagi perusahaan, keberlanjutan dan bisnis bukanlah dua hal yang terpisah. Ia mencontohkan perubahan iklim yang kini semakin terasa, salah satunya melalui pola musim hujan yang tidak lagi sesuai dengan teori yang dahulu dipelajari.

Karena itu, menurut Natasha, ketahanan energi menjadi penting untuk menopang pertumbuhan bisnis, sebagaimana ketahanan energi dibutuhkan oleh sebuah negara.

Baca Juga: Komitmen CCEP Indonesia Dukung Terwujudnya Ekonomi Sirkular Melalui Transformasi Bank Sampah

CCEP yang beroperasi di sekitar 31 negara menargetkan penurunan emisi karbon sebesar 30 persen pada 2030 dibandingkan 2019. Pemanfaatan PLTS menjadi salah satu langkah konkret untuk mencapai target tersebut. Ia juga menilai energi surya cocok dikembangkan di Indonesia yang beriklim tropis serta lebih bersahabat dari sisi investasi dibandingkan sumber energi terbarukan lainnya.

Marketing Manager Cikarang Listrindo, Sigit Wirawan, menjelaskan bahwa perusahaannya memasok listrik ke lima kawasan industri, termasuk kawasan tempat fasilitas Coca-Cola beroperasi. Pengembangan layanan energi terbarukan didorong oleh kebutuhan pelanggan sekaligus target pemerintah untuk mencapai net zero emission pada 2060.

Mengingat PLTS atap memiliki karakteristik intermiten, sementara CL bertanggung jawab menyediakan pasokan listrik yang andal dan aman, perusahaan perlu mengontrol keluaran listrik dari pembangkit tersebut.

Dari kebutuhan itu, lahir model bisnis yang disebut Sigit sebagai sinergi tingkat lanjut. Dalam kerja sama ini, CCEP menyediakan tempat pemasangan, sedangkan CL menyiapkan sistem PLTS.

Selain itu, panel surya perlu dibersihkan satu hingga dua kali dalam setahun agar performa inverter tetap terjaga. Debu yang berasal dari cerobong di sekitar lokasi juga berpotensi mengurangi keluaran listrik dari pembangkit.

Kepala Bidang Energi Dinas ESDM Jawa Barat, Permadi Mohammad N, mengapresiasi CCEP dan CL atas instalasi PLTS berkapasitas 1,4 MWp tersebut. Menurutnya, proyek ini turut membantu memenuhi indikator kinerja daerah, yakni peningkatan porsi energi baru terbarukan (EBT) dalam bauran energi serta penurunan emisi gas rumah kaca dari sektor energi.

Pada 2025, porsi EBT di Jawa Barat mencapai 23,58 persen, melampaui target sebesar 20,1 persen. Menurut Permadi, capaian tersebut antara lain didorong oleh pemanfaatan PLTS atap di sektor industri. Kapasitas PLTS atap di Jawa Barat kini mencapai sekitar 350 MW dan setara dengan penurunan emisi sekitar 537.000 ton CO2 ekuivalen per tahun.

Ia juga menekankan pentingnya peran sektor manufaktur dalam upaya tersebut, mengingat industri pengolahan menyumbang sekitar 41 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Barat.

Dari sisi potensi, Raditya Wiranegara, Direktur Riset dan Inovasi Institute for Essential Services Reform (IESR), menyebut efisiensi energi dan pemanfaatan listrik bersih dari PLTS atap sebagai langkah cepat untuk mendukung dekarbonisasi sektor manufaktur.

Ia mencatat kapasitas PLTS di Indonesia saat ini baru sekitar 1,6 GW atau masih di bawah 1 persen dari total potensi yang tersedia. Di kawasan industri, minat para tenant terhadap energi bersih sebenarnya sudah tinggi. Namun, keterbatasan lahan masih menjadi salah satu tantangan. Raditya menilai regulasi yang berlaku saat ini belum memungkinkan pemanfaatan lahan di luar kawasan industri untuk memasok kebutuhan energi tenant di dalam kawasan tersebut.

Terkait langkah ke depan, Public Affairs, Communications, & Sustainability Director CCEP Indonesia, Dhedy Adi Nugroho, menyampaikan bahwa CCEP memiliki target global untuk menggunakan 100 persen energi baru terbarukan pada 2030.

Untuk mencapai target tersebut, perusahaan menjalankan strategi melalui pemanfaatan PLTS dan Renewable Energy Certificate (REC). CCEP juga masih menjajaki opsi energi terbarukan lainnya, termasuk potensi pemanfaatan biomassa dari Cikarang Listrindo. Namun, pembahasan mengenai opsi tersebut masih berada pada tahap awal. Sementara itu, pemanfaatan energi hidro dinilai belum layak dari sisi kelayakan proyek dan investasi.

Dhedy menambahkan, pemasangan panel surya tidak mengganggu kegiatan produksi. Meski demikian, kekuatan bangunan perlu dipastikan terlebih dahulu karena instalasi panel memberikan tambahan beban sekitar 50 kilogram per meter persegi.