Dari contoh tersebut, terlihat bahwa pengelolaan keuangan tidak selalu berkaitan dengan keputusan besar, tetapi juga kebiasaan kecil sehari-hari.
Mike mengatakan, mindful spending mengajak setiap individu untuk lebih peka terhadap apa yang mereka konsumsi dan bagaimana kebiasaan tersebut memengaruhi kondisi finansial.
Dalam praktiknya, kata Mike, mindful spending menekankan pentingnya niat atau tujuan dalam setiap pembelian.
Ia pun menegaskan bahwa setiap pengeluaran seharusnya melalui proses pertimbangan yang matang, bukan sekadar keputusan impulsif.
“Mindful spending itu berarti kalau kita beli pasti intentional. Pasti ada tujuannya. Jadi ada proses memutuskan, tidak sembarangan,” katanya.
Mike juga mengingatkan bahwa keputusan belanja tidak seharusnya dipengaruhi oleh tekanan sosial, tren, atau keinginan untuk mendapatkan pengakuan.
“Gak sembarangan karena teman sudah beli, gak sembarangan juga karena ingin validasi. Semuanya intentional,” lanjutnya.
Meski demikian, kata Mike, mindful spending bukan berarti seseorang harus menahan diri sepenuhnya dari berbelanja. Konsep ini justru menekankan kesadaran, bukan pembatasan ekstrem.
Dikatakan Mike, seseorang tetap dapat membeli barang atau jasa, selama keputusan tersebut dilakukan dengan penuh kesadaran dan sesuai kebutuhan.
“Bukan berarti kita tidak belanja sama sekali. Mindful spending itu lebih ke arah bahwa kita aware, sadar,” tandas Mike.
Baca Juga: Sering Kalap Belanja? Ini Cara Terapkan Mindful Living Biar Keuangan Lebih Terkontrol