Jika ketidakcocokan memang menjadi persoalan utama, seorang leader dapat membantu anggota tim menemukan lingkungan kerja lain yang lebih sesuai dengan karakter, kompetensi, maupun pola kerjanya.
Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi bentuk kepedulian pemimpin terhadap karyawan.
Alih-alih sekadar menyampaikan keputusan pemberhentian, leader dapat memberikan arahan dan dukungan agar karyawan memiliki kesempatan untuk berkembang di tempat yang lebih sesuai.
“Nah kita bantu, mungkin dia cocok dengan tempat lain gitu. Nah itu semua dibantu. Karena itu sentuhan-sentuhan demikian itu lebih langgeng gitu ya,” tuturnya.
Bagi Vidjongtius, hubungan antara pemimpin dan anggota tim pada akhirnya tetap merupakan hubungan antarmanusia.
Karena itu, kemampuan seorang leader untuk memahami perasaan dan kondisi orang lain menjadi penting, termasuk ketika harus mengambil keputusan yang tidak mudah.
Ia mengatakan pendekatan yang mengedepankan pengertian tersebut dalam banyak kasus dapat membantu proses perpisahan berjalan dengan lebih baik.
“Mayoritas berhasil. Kembali lagi, manusia is manusia ya. Punya feeling, punya perasaan, punya pengertian juga gitu,” pungkas Vidjongtius.
Baca Juga: Cara Vidjongtius Mencegah Politik Internal dan Konflik Kepentingan di Perusahaan