Selain pola ruam yang berbeda, campak juga memiliki gejala penyerta yang lebih berat dibandingkan roseola.
Menurut dr. Andreas, anak yang terkena campak bisa mengalami berbagai komplikasi seperti diare, bronkopneumonia, hingga kejang. Sementara itu, roseola umumnya memiliki gejala yang lebih ringan.
“Pada campak, gejala penyertanya bisa cukup banyak, seperti diare, bronkopneumonia, bahkan kejang. Sedangkan pada roseola biasanya lebih ringan, umumnya hanya demam dan ruam kemerahan, kadang disertai flu,” katanya.
Baik campak maupun roseola merupakan penyakit akibat infeksi virus yang pada dasarnya dapat sembuh dengan sendirinya atau bersifat self-limiting disease.
Namun, kata dr. Andreas, campak tetap perlu diwaspadai karena berisiko menimbulkan komplikasi serius.
Karena itu, dr. Andreas mengingatkan orang tua agar tidak menunda pemeriksaan medis jika anak menunjukkan gejala yang mencurigakan.
“Segeralah berobat ke dokter spesialis anak. Jangan berobat ke ‘dokter’ di media sosial,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya imunisasi sebagai langkah perlindungan paling efektif terhadap campak.
“Vaksin campak itu sangat penting. Kalau vaksinnya tidak tersedia, mari kita suarakan bersama agar vaksin campak selalu tersedia di posyandu maupun puskesmas,” pungkas dr. Andreas.
Baca Juga: 3 Alasan Vaksin Campak pada Anak Harus Diberikan Lebih dari Sekali