Kasus campak kembali meningkat dan bahkan dilaporkan menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) di sejumlah wilayah. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat, terutama bagi orang tua yang memiliki anak usia balita.
Dokter Spesialis Anak, dr. S. Tumpal Andreas, M.Ked(Ped), Sp.A., menjelaskan bahwa salah satu penyebab meningkatnya kasus campak adalah kekosongan vaksin yang terjadi cukup lama di berbagai fasilitas kesehatan sepanjang tahun 2025.
Menurutnya, ketersediaan vaksin yang terbatas membuat banyak anak tidak mendapatkan imunisasi tepat waktu, sehingga risiko penularan meningkat.
“Campak muncul kembali dan bahkan menjadi KLB karena dalam satu tahun terakhir, terutama pada 2025, vaksin campak banyak mengalami kekosongan di berbagai tempat, baik di rumah sakit, posyandu, maupun puskesmas. Hal inilah yang menyebabkan kasus campak sekarang sangat meningkat,” ungkap dr. Andreas, dikutip dari laman Instagram pribadinya, Jumat (13/3/2026).
Lebih lanjut, dr. Andreas mengatakan bahwa di masyarakat, ruam kemerahan pada anak sering kali menimbulkan kebingungan karena dapat disebabkan oleh beberapa penyakit.
Dua di antaranya yang kerap dibandingkan adalah campak dan roseola infantum. Padahal, keduanya memiliki penyebab dan karakteristik yang berbeda.
Menurutnya, campak disebabkan oleh virus campak dan termasuk penyakit yang sudah memiliki vaksin pencegahan.
Sementara itu, roseola infantum disebabkan oleh Human Herpesvirus 6 dan Human Herpesvirus 7, yang hingga kini belum memiliki vaksin. Perbedaan juga terlihat dari pola demam dan munculnya ruam pada anak.
“Pada campak, anak biasanya mengalami demam tinggi dan ruam kemerahan muncul saat demam masih tinggi. Sedangkan pada roseola, demam bisa tinggi atau tidak, tetapi ruam biasanya muncul setelah demam mulai turun,” jelas dr. Andreas.
Baca Juga: Kasus Campak Melonjak, Dokter Soroti Ancaman Gerakan Anti-Vaksin di Indonesia
Selain pola ruam yang berbeda, campak juga memiliki gejala penyerta yang lebih berat dibandingkan roseola.
Menurut dr. Andreas, anak yang terkena campak bisa mengalami berbagai komplikasi seperti diare, bronkopneumonia, hingga kejang. Sementara itu, roseola umumnya memiliki gejala yang lebih ringan.
“Pada campak, gejala penyertanya bisa cukup banyak, seperti diare, bronkopneumonia, bahkan kejang. Sedangkan pada roseola biasanya lebih ringan, umumnya hanya demam dan ruam kemerahan, kadang disertai flu,” katanya.
Baik campak maupun roseola merupakan penyakit akibat infeksi virus yang pada dasarnya dapat sembuh dengan sendirinya atau bersifat self-limiting disease.
Namun, kata dr. Andreas, campak tetap perlu diwaspadai karena berisiko menimbulkan komplikasi serius.
Karena itu, dr. Andreas mengingatkan orang tua agar tidak menunda pemeriksaan medis jika anak menunjukkan gejala yang mencurigakan.
“Segeralah berobat ke dokter spesialis anak. Jangan berobat ke ‘dokter’ di media sosial,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya imunisasi sebagai langkah perlindungan paling efektif terhadap campak.
“Vaksin campak itu sangat penting. Kalau vaksinnya tidak tersedia, mari kita suarakan bersama agar vaksin campak selalu tersedia di posyandu maupun puskesmas,” pungkas dr. Andreas.
Baca Juga: 3 Alasan Vaksin Campak pada Anak Harus Diberikan Lebih dari Sekali