Tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia terus menunjukkan peningkatan. Namun, kelompok usia yang paling melek keuangan ternyata bukan generasi termuda.
Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat indeks literasi keuangan nasional mencapai 69,57%.
Angka tersebut meningkat 2,93 persen poin dibandingkan hasil survei 2025 yang berada di level 66,64%.
Sementara itu, indeks inklusi keuangan nasional juga mengalami peningkatan. Pada 2026, indeks inklusi keuangan mencapai 93,61%, naik dari 92,74% pada tahun sebelumnya.
Baca Juga: Sequis SHEPRENEUR Perkuat Literasi Keuangan dan Growth Marketing Wirausaha Perempuan
Menariknya, jika dilihat berdasarkan kelompok usia, masyarakat berusia 26-35 tahun menjadi kelompok yang memiliki tingkat literasi keuangan paling tinggi.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan kelompok usia produktif tersebut mencatat indeks literasi keuangan sebesar 78,70%.
"Terlihat usia produktif, kelompok usia 26-35 tahun, memiliki tingkat literasi tertinggi yaitu 78,70%," ujar Amalia.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa tingginya literasi keuangan tidak selalu identik dengan kelompok usia paling muda. Kelompok usia 26-35 tahun justru berada di posisi teratas dalam pemahaman dan kemampuan masyarakat terkait keuangan.
Di sisi lain, kelompok usia yang lebih muda dan lebih tua masih berada di bawah angka literasi keuangan nasional. Kelompok usia 15-17 tahun tercatat memiliki indeks literasi sebesar 56,04%, sedangkan kelompok usia 51-79 tahun berada di angka 60,01%.
Baca Juga: Pilih Deposito atau Tabungan untuk Investasi 5 Tahun? Ini Penjelasan Perencana Keuangan
Artinya, masih terdapat kesenjangan literasi keuangan yang cukup lebar antarkelompok usia. Kelompok remaja dan usia lanjut membutuhkan penguatan pemahaman mengenai pengelolaan keuangan agar tingkat literasinya dapat mengejar kelompok usia produktif.
Peningkatan literasi juga terlihat berdasarkan wilayah. Indeks literasi keuangan masyarakat perdesaan meningkat cukup signifikan sebesar 4,55 persen poin. Sementara itu, indeks literasi keuangan masyarakat perkotaan meningkat 1,54 persen poin.
Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin, tingkat literasi keuangan laki-laki dan perempuan juga relatif berimbang. Indeks literasi keuangan laki-laki tercatat sebesar 69,61%, sedangkan perempuan mencapai 69,54%.
Peningkatan literasi juga terjadi hampir di seluruh kelompok berdasarkan jenjang pendidikan yang ditempuh. Bahkan, kelompok masyarakat yang tidak pernah bersekolah atau tidak menyelesaikan pendidikan sekolah dasar turut mengalami peningkatan.
Kelompok tersebut mencatat kenaikan 1,46 persen poin menjadi 45,23%.
Namun, terdapat sedikit penurunan pada kelompok masyarakat yang menamatkan pendidikan SMA atau sederajat. Indeks literasi keuangan kelompok ini turun 0,02 persen poin menjadi 79,17%.
Baca Juga: Direktur BCA Bicara soal Kelompok Anti-Perubahan
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menjelaskan pengukuran literasi keuangan dalam SNLIK 2026 menggunakan standar yang mengacu pada pedoman Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD).
Menurut perempuan yang akrab disapa Kiki tersebut, standar itu membuat pengukuran literasi keuangan menjadi lebih ketat dibandingkan sekadar mengukur apakah masyarakat mengenal suatu produk keuangan.
"Kalau cuma tahu saja mungkin angkanya lebih besar dari ini, tetapi kita benar-benar harus memenuhi lima aspek dan itu sesuai dengan standar OECD. Berbeda dengan inklusi, di mana seseorang yang memiliki satu rekening saja di mana pun sudah langsung dihitung terinklusi," ujar Kiki.
Dengan standar tersebut, seseorang tidak cukup hanya mengenal produk atau layanan keuangan untuk dikategorikan memiliki tingkat literasi yang baik. Pengukuran mempertimbangkan sejumlah aspek yang lebih luas mengenai pengetahuan, pemahaman, keterampilan, sikap, dan perilaku keuangan.
Hasil SNLIK 2026 pun menunjukkan bahwa meski akses masyarakat terhadap layanan keuangan sudah semakin luas, tingkat pemahaman dan kemampuan mengelola keuangan masih belum merata.
Kelompok usia 26-35 tahun menjadi contoh paling menonjol dengan tingkat literasi di atas rata-rata nasional. Sementara itu, kelompok usia 15-17 tahun dan 51-79 tahun masih memiliki pekerjaan rumah untuk meningkatkan kemampuan literasi keuangannya.