dr. Dion juga mengingatkan, memantau kondisi tubuh secara berkala juga dapat membantu seseorang mengevaluasi kebiasaan hidupnya. Selain memperhatikan berat badan, lingkar pinggang bisa menjadi salah satu indikator yang perlu dipantau.

Secara umum, kata dia, lingkar pinggang di bawah 90 sentimeter untuk pria dan 80 sentimeter untuk wanita kerap digunakan sebagai acuan untuk menilai risiko kesehatan terkait penumpukan lemak perut, meskipun batas yang digunakan dapat berbeda menurut populasi dan pedoman kesehatan.

Berikutnya, sambung dr. Dion, kualitas tidur dan pengelolaan stres juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan. Kurang tidur dan stres yang tidak dikelola dengan baik dapat mengganggu pemulihan tubuh serta memengaruhi kebiasaan sehari-hari.

dr. Dion menekankan bahwa mengelola stres bukan berarti seseorang harus terbebas sepenuhnya dari tekanan. Tantangannya adalah mengenali dan mengendalikan stres agar tidak berdampak buruk pada kesehatan maupun kualitas hidup.

“Tidur yang cukup, manage stress-mu. Bukan bebas stres, tetap butuh stres. Kalau enggak, enggak berkembang kita, enggak jadi kuat,” tuturnya.

Setelah latihan beban, kardio, pola makan, tidur, dan pengelolaan stres diperhatikan, barulah suplemen dapat dipertimbangkan untuk membantu memenuhi kebutuhan tubuh. Menurut dr. Dion, suplemen bukanlah pengganti kebiasaan hidup sehat. Manfaatnya pun perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing orang.

“Kalau nomor satu sampai empat udah kamu jalanin secara konsisten, suplemen bisa saja membantu. Tapi kalau belum maksimalin dulu, suplemen itu cuma membantu. Kalau fondasinya jelek, ya sama aja, bohong,” tegasnya.

Kemudian, dr. Dion turut membagikan beberapa suplemen yang ia gunakan untuk menunjang kebutuhan pribadinya, antara lain vitamin D3 plus K2, vitamin B5, minuman serat, magnesium, zinc, kreatin monohidrat, dan whey protein.

Namun, ia menegaskan bahwa pilihan tersebut didasarkan pada kebutuhannya sendiri sehingga tidak serta-merta harus diikuti oleh semua orang.

“Ya, kamu juga sesuaikan dengan kebutuhan masing-masing,” pungkasnya.

Baca Juga: Riset: Pria Lebih Berisiko Terkena Kanker Akibat Polusi Udara