Keluarga Hartono belakangan menjadi sorotan setelah dikabarkan menyiapkan investasi besar di luar negeri. Namun, ekspansi konglomerat Indonesia ke mancanegara ternyata bukan fenomena baru.

Sejumlah taipan Tanah Air telah lebih dulu membangun gurita bisnis di berbagai negara. Mulai dari tambang batu bara hingga energi panas bumi, ekspansi tersebut menunjukkan bahwa modal pengusaha Indonesia tidak hanya berputar di dalam negeri.

Salah satu yang terbaru adalah langkah miliarder Alex Ramlie. Pendiri PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang kini menjabat sebagai komisaris tersebut mengakuisisi tambang batu bara kokas atau coking coal milik Anglo American di Australia.

Nilai transaksinya mencapai US$3,9 miliar. Jika menggunakan asumsi kurs Rp17.500 per dolar AS, nilainya setara dengan sekitar Rp68,6 triliun.

Baca Juga: Gak Biasa, Keluarga Hartono Investasi Rp22 Triliun di Luar Negeri! Ada Kaitannya dengan Era Prabowo?

Langkah serupa juga dilakukan Prajogo Pangestu. Orang terkaya kedua di Indonesia itu pada Juli 2026 disebut menyiapkan dana hingga US$5 miliar untuk mengakuisisi perusahaan panas bumi di Filipina.

Ekspansi para taipan tersebut berlangsung ketika kondisi investasi di dalam negeri tengah menghadapi berbagai tantangan.

Sejak Presiden Prabowo Subianto memimpin pemerintahan pada Oktober 2024, arus modal keluar menjadi salah satu sorotan pasar. Kondisi tersebut turut memberikan tekanan terhadap rupiah dan pasar saham Indonesia.

Pada 2026, investor global tercatat melakukan aksi jual bersih hampir US$4 miliar di pasar saham Indonesia sejak Januari. Nilai tersebut disebut hampir empat kali lipat dibandingkan sepanjang 2025.

Bank-bank asing terbesar yang beroperasi di Indonesia juga disebut telah memulangkan sekitar US$640 juta modal sejak Prabowo menjabat sebagai presiden, berdasarkan laporan Bloomberg.

Namun, ekspansi ke luar negeri sebenarnya sudah dilakukan sejumlah konglomerat Indonesia jauh sebelum kondisi tersebut terjadi.

Keluarga Widjaja

Keluarga Widjaja melalui Grup Sinarmas menjadi salah satu contohnya. Pada 2022, grup tersebut mengakuisisi tambang batu bara Dampier Coal (Queensland) Pty Ltd di Australia.

Akuisisi dilakukan melalui Golden Energy and Resources Limited (GEAR), perusahaan berbasis di Singapura yang merupakan anak usaha PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA).

Untuk membiayai aksi korporasi tersebut, GEAR menerbitkan Senior Secured Notes (SSN) senilai US$90 juta atau sekitar Rp1,28 triliun dengan asumsi kurs Rp14.300 per dolar AS.

Baca Juga: Mengenal Fuganto Widjaja, Generasi Ketiga Sinarmas Group yang Sukses Merintis Pristine

Dengan demikian, Australia bukanlah wilayah baru bagi modal konglomerat Indonesia. Industri pertambangan menjadi salah satu sektor yang menarik perhatian karena memiliki aset dan sumber daya yang dapat mendukung ekspansi bisnis dalam jangka panjang.

Sukanto Tanoto

Nama lain yang tak kalah besar adalah Sukanto Tanoto. Pendiri Raja Garuda Mas yang kini dikenal sebagai Royal Golden Eagle (RGE) Group tersebut telah membangun bisnis yang menjangkau berbagai negara.

Berdasarkan Bloomberg Billionaires Index per 30 Juni 2026, kekayaan Sukanto Tanoto mencapai US$24,3 miliar atau sekitar Rp435,02 triliun. Angka tersebut menempatkannya di posisi teratas dalam daftar orang terkaya di Indonesia dan menggeser Prajogo Pangestu.

Ekspansi bisnis Sukanto tidak hanya berpusat di Indonesia. Melalui RGE, ia memiliki bisnis pulp dan serat selulosa di sejumlah negara, termasuk Brasil, Kanada, dan China.

Baca Juga: Mengenal Sosok Sukanto Tanoto: Pengusaha Besar di Balik Royal Golden Eagle International

Kerajaan bisnisnya juga merambah industri pengolahan minyak sawit. RGE diketahui membangun fasilitas pengolahan sawit berkapasitas besar di China.

Di luar sektor industri, Sukanto Tanoto juga memiliki sejumlah properti mewah di Singapura dan Eropa.

Deretan aksi tersebut memperlihatkan bahwa ekspansi bisnis konglomerat Indonesia ke luar negeri bukan sekadar tren sesaat. Ketika peluang investasi muncul di berbagai belahan dunia, para pemilik modal besar dari Indonesia pun ikut berebut mengambil posisi.

Pertanyaannya, ketika semakin banyak modal konglomerat mengalir ke luar negeri, seberapa besar dampaknya terhadap investasi dan penciptaan lapangan kerja di Indonesia?