Sukanto Tanoto, yang juga dikenal dengan nama Tionghoa-nya Chén Jiānghé, lahir pada 25 Desember 1949, di Medan, Sumatera Utara. Ia adalah seorang pengusaha sukses Indonesia yang dikenal sebagai salah satu tokoh terkaya di negara ini. Pada tahun 2013, ia tercatat memiliki kekayaan sebesar 2,3 miliar dolar AS. 

Tanoto memulai karier bisnisnya di industri kehutanan dan perlahan-lahan melebarkan sayapnya ke berbagai sektor lain, termasuk minyak kelapa sawit, pulp, dan kertas. Saat ini, usaha Tanoto dijalankan oleh Royal Golden Eagle International (RGEI), yang sebelumnya dikenal dengan nama Raja Garuda Mas.

Untuk mengenal lebih lanjut siapa sosok Sukanto Tanoto, berikut ini telah Olenka rangkum dari berbagai sumber mulai dari riwayat hidup, pendidikan, hingga bisnis yang dimilikinya, pada Kamis (20/03/2025).

Keluarga dan Latar Belakang Awal

Sukanto Tanoto adalah anak tertua dari tujuh bersaudara dalam keluarganya. Ayahnya, seorang imigran Tionghoa dari Putian, Provinsi Fujian, Tiongkok, merantau ke Indonesia. Pada masa kecilnya, Tanoto harus menghadapi tantangan besar dalam pendidikan.

Pada tahun 1966, pemerintah Orde Baru yang dipimpin oleh Presiden Soeharto menutup sekolah-sekolah Tionghoa di Indonesia. Sebagai anak dari keluarga dengan kewarganegaraan Tionghoa, Tanoto juga tidak bisa melanjutkan pendidikannya ke sekolah nasional karena kebijakan pemerintah yang diskriminatif terhadap warga negara keturunan Tionghoa pada masa itu.

Baca Juga: Berkenalan dengan Imelda Tanoto, Putri Sukanto Tanoto Pendiri Royal Golden Eagle Group

Pendidikan

Meskipun tidak menyelesaikan pendidikan formal, Sukanto Tanoto dikenal sebagai seorang pengusaha yang belajar secara otodidak. Ia mempelajari bahasa Inggris dengan menggunakan kamus bahasa Mandarin-Inggris, kata demi kata.

Keinginan Tanoto untuk belajar dan berkembang membawanya untuk melanjutkan pendidikan bisnis di Jakarta pada pertengahan tahun 1970-an. Selain itu, Tanoto juga melanjutkan studinya di INSEAD, sebuah sekolah bisnis terkemuka di Fontainebleau, Perancis, yang semakin memperkaya pengetahuannya tentang dunia bisnis internasional.

Awal Karier Bisnis Sukanto Tanoto

Karier bisnis Sukanto Tanoto dimulai pada tahun 1967, ketika ia membuka sebuah toko suku cadang motor sederhana yang dikenal dengan nama Toko Motor. Saat itu, Tanoto memulai bisnisnya dengan modal terbatas dan hanya berfokus pada memenuhi kebutuhan pasar lokal. Namun, seiring waktu, ia mulai memperluas usaha ke sektor-sektor yang lebih besar dan lebih menguntungkan. Pada saat yang sama, Tanoto beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan pasar dan kebutuhan industri, serta mencari peluang baru yang dapat mendukung pertumbuhan bisnisnya.

Pada tahun 1972, Sukanto Tanoto melihat peluang besar di sektor energi dan konstruksi, khususnya dalam pembangunan jaringan pipa gas untuk perusahaan multinasional. Ketika krisis minyak global pada tahun 1973 menyebabkan lonjakan harga minyak dunia, Tanoto memanfaatkan peluang ini untuk mengembangkan usahanya lebih jauh. Keuntungan yang didapat dari proyek-proyek besar ini memungkinkan Tanoto untuk mengalihkan fokus bisnisnya ke sektor kehutanan, yang kelak akan menjadi dasar kesuksesannya.

Baca Juga: Mengenal Sosok Anderson Tanoto, Si Bontot Penerus Royal Golden Eagle

Memasuki Industri Kehutanan dan Pulp & Kertas

Pada pertengahan tahun 1970-an, Indonesia menjadi pengekspor utama kayu log ke negara-negara seperti Jepang dan Taiwan, untuk kemudian diolah menjadi kayu lapis. Tanoto melihat adanya ketergantungan Indonesia pada impor kayu lapis yang mahal dan melihat peluang untuk membangun pabrik pengolahan kayu lapis sendiri. Dengan izin dari pemerintah yang saat itu sangat dipengaruhi oleh pejabat militer, Tanoto mendirikan pabrik pertama di Indonesia yang berfokus pada pengolahan kayu lapis, yang resmi beroperasi pada tahun 1975.

Seiring berkembangnya bisnis kayu lapis, Tanoto mengembangkan berbagai lini usaha baru, termasuk dalam industri pulp dan kertas. Pada akhirnya, Tanoto membentuk Asia Pacific Resources International Holdings (APRIL), yang menjadi salah satu produsen pulp dan kertas terbesar di dunia. APRIL memiliki pabrik besar yang beroperasi di Indonesia, dan berperan penting dalam memperkenalkan industri pulp dan kertas di pasar internasional.

Ekspansi Bisnis dan Diversifikasi

Sukanto Tanoto tidak hanya terfokus pada industri kehutanan dan pulp, tetapi juga melakukan diversifikasi yang signifikan dalam portofolio bisnisnya. Pada tahun 2000-an, Tanoto memulai ekspansi ke sektor minyak kelapa sawit melalui perusahaan seperti Asian Agri dan Apical. Bisnis kelapa sawitnya berkembang pesat, dengan perusahaan-perusahaan ini menjadi pemain utama dalam produksi minyak kelapa sawit yang diekspor ke seluruh dunia.

Selain itu, Tanoto juga memperluas jangkauan bisnisnya ke dalam industri energi melalui Pacific Oil & Gas, yang bergerak di sektor pengembangan sumber daya energi. Melalui berbagai akuisisi dan investasi, Tanoto berhasil membangun RGE sebagai konglomerat bisnis global yang memiliki lima area operasional utama, yaitu:

  • Pulp dan Kertas (APRIL, Asia Pacific Resources, Asia Symbol)
  • Agroindustri (Asian Agri, Apical)
  • Selulosa Khusus (Bracell Limited)
  • Serat Viskosa (Sateri, Asia Pacific Rayon)
  • Pengembangan Energi (Pacific Energy)

Baca Juga: Mengulik Kerajaan Bisnis RGE Group yang Didirikan Sukanto Tanoto

Akuisisi dan Ekspansi Internasional

Pada tahun 2023, Tanoto memperluas ekspansi bisnisnya dengan mengakuisisi perusahaan tisu terkemuka asal Brasil, OL Papeis. Akuisisi ini membuka peluang besar untuk memasuki pasar tisu global yang semakin berkembang. Bahkan pada tahun 2024, Tanoto melakukan kesepakatan besar dengan mengakuisisi perusahaan Vinda, salah satu produsen tisu terbesar di Asia, dengan nilai transaksi mencapai $3,3 miliar. Langkah ini semakin memperkuat posisinya sebagai pemain besar dalam industri barang konsumen.

RGE, yang dikelola oleh Sukanto Tanoto, kini beroperasi di berbagai negara, termasuk Indonesia, Tiongkok, Brasil, Kanada, dan Eropa, dengan lebih dari 80.000 karyawan di seluruh dunia. Grup ini tidak hanya fokus pada ekspansi bisnis tetapi juga berkomitmen pada keberlanjutan dan pelaksanaan prinsip-prinsip bisnis yang baik. Pada 2016, Tanoto memperkenalkan pembaruan prinsip bisnis grup RGE, yang melibatkan empat komponen utama: masyarakat, negara, iklim, dan perusahaan. Selain itu, pada tahun 2017, Tanoto memperkenalkan 'Pelanggan' sebagai komponen kelima dalam prinsip bisnisnya.

Keluarga dan Warisan Bisnis

Sukanto Tanoto memiliki tiga orang anak yang aktif terlibat dalam bisnis keluarga. Putranya, Anderson Tanoto, menjabat sebagai direktur di Royal Golden Eagle (RGE), sementara putri sulungnya, Imelda Tanoto, adalah anggota komite eksekutif RGE.

Putri bungsunya, Belinda Tanoto, fokus pada kegiatan filantropi melalui Tanoto Foundation, yang didedikasikan untuk mendukung berbagai kegiatan sosial dan pendidikan di Indonesia. Keempat anak Tanoto juga menjadi anggota wali amanat dari Tanoto Foundation, yang mengelola berbagai program untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga: Pohon Keluarga Tanoto di Bisnis RGE Group

Komitmen terhadap Filantropi

Tanoto Foundation, yang didirikan oleh Sukanto Tanoto dan keluarganya, berfokus pada pengembangan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat di Indonesia. Melalui yayasan ini, Tanoto berkomitmen untuk memberikan kembali kepada masyarakat, terutama dalam bentuk beasiswa pendidikan dan bantuan kepada daerah-daerah yang membutuhkan. Kegiatan filantropi Tanoto mencerminkan dedikasi keluarganya dalam membantu menciptakan perubahan positif dalam masyarakat Indonesia.