Lanskap industri ritel Indonesia dalam beberapa tahun terakhir mengalami perubahan yang cukup mendasar. Jika sebelumnya brand global mendominasi melalui kekuatan modal dan reputasi, kini brand lokal justru menunjukkan pertumbuhan signifikan dan semakin mengambil peran penting di pasar domestik.
Founder dan CEO JETE, Jhonny Thio Doran, menilai perubahan ini bukan sekadar fenomena sesaat, melainkan indikasi bahwa struktur pasar tengah bergerak ke arah yang berbeda. Ia menyebut, brand lokal memiliki keunggulan yang sulit ditiru, terutama dalam memahami kebutuhan pasar secara langsung.
Baca Juga: CEO JETE: Bangun Bisnis dari Kamar Kost hingga Masuk Fortune Indonesia 40 Under 40
“Banyak yang masih menganggap brand global selalu lebih unggul. Namun dalam praktiknya, brand lokal memiliki kelebihan yang tidak mudah ditiru, terutama dalam memahami pasar secara langsung,” ujarnya.
Salah satu faktor utama yang mendorong pertumbuhan brand lokal adalah kedekatan dengan konsumen. Brand tidak lagi sekadar berperan sebagai penyedia produk, tetapi juga hadir dalam keseharian dan aktivitas komunitas. Pendekatan ini dinilai mampu membangun keterikatan yang lebih kuat dibandingkan strategi pemasaran konvensional.
Melalui naungan Doran Group, JETE menerapkan pendekatan berbasis komunitas, salah satunya lewat penyelenggaraan event lari tahunan JETE RUN yang diikuti ribuan peserta. Inisiatif ini menjadi bagian dari kampanye gaya hidup sehat sekaligus memperkuat relasi brand dengan konsumennya.
Baca Juga: Jhonny Thio Doran: Retail Masa Depan Dibangun dari Ekosistem, Bukan Sekadar Toko
Menurut Jhonny, ketika konsumen merasa menjadi bagian dari brand, maka loyalitas yang terbentuk akan jauh lebih kuat. “Bagi kami, komunitas bukan sekadar audience. Mereka adalah bagian dari brand. Ketika mereka merasa memiliki, mereka akan menjadi support system yang sangat kuat,” jelasnya.
Selain kedekatan dengan konsumen, keunggulan lain brand lokal terletak pada kecepatan eksekusi. Struktur organisasi yang lebih sederhana memungkinkan brand lokal merespons perubahan pasar dengan lebih cepat, mulai dari pengembangan produk hingga strategi pemasaran.
“Brand lokal bisa melihat peluang hari ini dan langsung mengeksekusinya. Dari situ mereka bisa cepat belajar dan beradaptasi,” kata Jhonny.
Ia menambahkan, keberanian dalam mengambil langkah cepat dan terukur menjadi kunci agar brand lokal mampu bersaing dengan brand global yang sudah lebih dulu dikenal.
Di sisi lain, karakteristik geografis Indonesia yang luas turut memengaruhi strategi distribusi. JETE berupaya menjangkau pasar lebih luas dengan membuka official store di berbagai kota di Tanah Air serta memperkuat jaringan distribusi melalui mitra kerja.

“Yang menang bukan hanya besar dari nama brand, tetapi siapa yang paling dekat dan hadir di kehidupan sehari-hari serta mampu menjawab kebutuhan konsumen,” tambahnya.
Perubahan perilaku konsumen juga menjadi faktor penting. Kini, konsumen tidak hanya mempertimbangkan harga, tetapi juga kualitas dan nilai (value) yang ditawarkan. Brand lokal dinilai memiliki keunggulan karena mampu menghadirkan produk yang relevan dengan karakter pasar Indonesia.
“Semakin ke sini, konsumen tidak hanya membeli produk, tetapi juga value yang mereka dapatkan. Jika itu terpenuhi, brand akan semakin relevan dalam keseharian mereka,” jelasnya.
Seiring dengan itu, kebanggaan terhadap brand lokal juga semakin menguat. Banyak konsumen mulai menjadikan brand lokal sebagai pilihan utama, bukan sekadar alternatif. Hal ini mendorong brand untuk terus berinovasi, baik dari sisi kualitas produk maupun layanan purna jual.
JETE, misalnya, menghadirkan layanan pelanggan 24 jam serta kemudahan klaim garansi sebagai bagian dari upaya meningkatkan kepercayaan konsumen.
Ke depan, Jhonny melihat peluang brand lokal untuk menembus pasar global semakin terbuka. Namun, hal tersebut perlu didukung oleh sistem bisnis yang kuat, tata kelola yang baik, serta konsistensi dalam membangun brand.
“Jika kita bisa kuat di pasar domestik, maka peluang untuk ekspansi global akan semakin besar. Ini bukan soal lokal atau global, tetapi siapa yang paling memahami pasar dan konsisten dalam menjalankannya,” tutupnya.