Mantan Menteri Keuangan era Presiden Soeharto, Fuad Bawazier mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini tetap menunjukan tren positif kendati nilai tukar rupiah sedang tiarap bahkan sempat anjlok hingga Rp18.000 per dolar Amerika Serikat.
Menurunnya kondisi pertumbuhan ekonomi saat ini jauh lebih baik dibandingkan krisis di era Presiden Soeharto pada 1998.
Baca Juga: Krisis Era Soeharto Vs Anjloknya Rupiah Era Prabowo, Mana yang Lebih Gawat?
“Oh kalau dibanding 98, iya dong (sekarang jauh lebih baik),” kata Fuad ditulis Senin (15/6/2026).
Saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berkisar sekitar 5,6 persen. Kondisi ini berbanding terbalik dengan apa yang terjadi pada 1998 dimana Produk domestik bruto (PDB) bahkan anjlok hingga minus 13 persen kondisi itu bahkan bertahan hingga dua tahun lamanya.
“Kalau 98 udah sampai minus PDB-nya itu pertumbuhannya minus 13 persen Sekarang kan masih plus 5,6 persen Pokoknya masih positif, kalau dulu sudah negatif itu 2 tahun itu sampai negatif pertumbuhannya Jadi memang dari situ juga sudah beda,” tegasnya.
Adapun pertumbuhan ekonomi era Presiden Prabowo Subianto belakangan kerap dibandingkan dengan kondisi genting pada 1998 setelah rupiah anjlok hingga Rp18.000 per dolar AS. Dimana nilai tukar itu identik dengan kondisi krisis ekonomi pada 1998.
Lantaran persamaan tersebut muncul isu reformasi jilid II di tengah gelombang aksi unjuk rasa yang dilakukan mahasiswa belakangan ini.
Di sisi lain pemerintah juga tak tinggal diam, berbagai upaya sedang dilakukan untuk mengerek rupiah yang sedang tiarap. Meski belum signifikan, namun kerja keras pemerintah sudah mulai menunjukan hasil positif, rupiah perlahan mulai dijinakkan kembali.
Baca Juga: BI Jalin Kerja Sama dengan China Perkuat Rupiah, Orang Dekat Prabowo Langsung Bilang Begini
“Yang penting sekarang ekonomi masih tumbuh dan tetap positif. Itu yang membedakan dengan kondisi krisis 1998,” pungkas Fuad.