Sebanyak 90 pekebun asal Kabupaten Bengkulu Selatan mengikuti kunjungan lapangan ke PT Bimas Raya Sawitindo (BRS), Rabu (12/8/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan (SDM Perkebunan) Tahun 2026 yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian RI, serta dilaksanakan bersama PT Daya Guna Lestari (DGL Learning Institute).
Kunjungan lapangan tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk melihat secara langsung penerapan praktik budidaya kelapa sawit di lingkungan perusahaan. Setelah memperoleh materi secara teori, peserta diajak mengamati bagaimana standar teknis budidaya diterapkan dalam kegiatan operasional kebun.
Perwakilan PT Bimas Raya Sawitindo, Muhtadin AZ, mengatakan pembelajaran langsung di lapangan dapat memberikan pemahaman tambahan bagi pekebun karena peserta tidak hanya menerima materi secara teori.
“Dengan adanya kunjungan seperti ini, kami berharap para pekebun bisa mendapatkan tambahan pengetahuan dari apa yang mereka lihat dan pelajari langsung di lapangan. Jadi tidak hanya menerima materi secara teori, tetapi juga bisa melihat bagaimana praktik budidaya diterapkan secara langsung di kebun,” ujarnya.
Menurut Muhtadin, kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi peserta untuk berdiskusi mengenai berbagai persoalan yang mereka temui dalam mengelola kebun.
“Tidak hanya melihat praktiknya, di sini kita juga berdiskusi. Peserta bisa menyampaikan pertanyaan, pengalaman, maupun kendala yang mereka hadapi di kebun masing-masing. Dari diskusi seperti ini, kita bisa sama-sama bertukar pengalaman dan mencari solusi yang sesuai dengan kondisi di lapangan,” katanya.
Salah satu peserta, Setiawan, mengaku senang dapat mengikuti pelatihan yang memadukan pembelajaran di kelas dengan praktik lapangan. Menurutnya, metode tersebut membuat peserta dapat membandingkan materi yang telah dipelajari dengan kondisi sebenarnya di kebun.
“Saya sangat senang bisa mengikuti kegiatan pelatihan ini. Selain mendapatkan materi di kelas, kami juga diberikan kesempatan untuk belajar langsung di lapangan. Jadi kami bisa membandingkan teori yang sudah dipelajari dengan praktik yang sebenarnya dilakukan di kebun,” ujar Setiawan.
Ia juga menilai kesempatan berdiskusi dengan praktisi menjadi salah satu manfaat penting dari kunjungan tersebut. Peserta dapat menyampaikan persoalan teknis yang dihadapi di kebun masing-masing dan mendapatkan masukan dari narasumber maupun peserta lainnya.
“Kami juga bisa bertanya langsung ketika ada hal yang belum kami pahami, termasuk mengenai permasalahan yang kami temui di kebun. Jadi dari sini kami bisa saling bertukar ilmu dan pengalaman, melihat bagaimana permasalahan yang sama ditangani di lapangan, dan mendapatkan masukan yang bisa kami terapkan ketika kembali ke kebun masing-masing,” tambahnya.
Dalam kunjungan tersebut, peserta mempelajari sejumlah tahapan pengelolaan kebun yang saling berkaitan, mulai dari menentukan titik tanam melalui pemancangan, memenuhi kebutuhan tanaman melalui pemupukan, hingga melakukan penyemprotan secara tepat.
Peserta juga dapat melihat secara langsung penerapan tahapan tersebut dalam kegiatan operasional kebun. Dengan pendekatan ini, materi yang sebelumnya dipelajari di ruang kelas dapat dipahami secara lebih konkret melalui pengamatan dan diskusi.
Selama kegiatan berlangsung, peserta didampingi Asisten Lapangan PT Bimas Raya Sawitindo, Nur Hakim dan Dendi Suryadi. Keduanya memberikan penjelasan mengenai praktik pengelolaan kebun sekaligus menjawab berbagai pertanyaan teknis dari peserta.
Bagi DGL Learning Institute, perpaduan antara teori dan praktik menjadi bagian penting dalam pengembangan kompetensi pekebun. Pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan diharapkan dapat diterapkan peserta ketika kembali mengelola kebun masing-masing.
Melalui kunjungan lapangan ini, para pekebun juga diharapkan dapat mengidentifikasi aspek pengelolaan yang masih perlu diperbaiki sekaligus memperoleh referensi mengenai praktik budidaya yang sesuai dengan kondisi di lapangan.
Program Pengembangan SDM Perkebunan Tahun 2026 diharapkan tidak hanya menghasilkan peserta yang memahami materi secara teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kegiatan budidaya. Perpaduan pembelajaran di kelas, praktik lapangan, serta pertukaran pengalaman diharapkan dapat memperkuat kompetensi pekebun dan mendorong pengelolaan kelapa sawit yang lebih efektif, produktif, dan berkelanjutan.
Untuk diketahui, PT Daya Guna Lestari (DGL Learning Institute) merupakan lembaga yang berfokus pada pengembangan kompetensi sumber daya manusia, khususnya di sektor perkebunan. Selain menyelenggarakan pelatihan teknis, manajerial, dan sertifikasi, DGL Learning Institute juga merupakan lembaga pelatihan ISPO serta konsultan pendampingan implementasi ISPO bagi perusahaan dan pekebun swadaya.
Untuk mendukung pembelajaran berkelanjutan, DGL juga mengembangkan Learning Management System (LMS) sebagai platform pembelajaran digital yang dapat diakses peserta sebelum maupun setelah pelatihan.