Growthmates, aroma sate yang dibakar di atas bara api memang menggugah selera. Namun, banyak orang bertanya-tanya, apakah terlalu sering mengonsumsi sate benar-benar bisa meningkatkan risiko kanker?

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Hematologi Onkologi Medik, Prof. Dr. Zubairi Djoerban, SpPD-KHOM, FINASIM, mengatakan bahwa mengonsumsi sate sesekali tidak menjadi masalah.Namun, frekuensi konsumsi yang terlalu sering, terutama daging yang dibakar langsung di atas api, perlu menjadi perhatian.

"Kalau makan satenya sebulan sekali ya nggak apa-apa. Tapi kalau terlalu sering, jadi sate itu kan dibakar. Jadi daging ketemu api. Terbentuk zat yang namanya karsinogen, zat yang memudahkan timbulnya kanker, yaitu PAH dan HCA," ungkap Prof. Zubairi, dikutip dari laman Instagram pribadinya, Senin (6/7/2026).

MenurutProf. Zubairi, saat daging dibakar hingga bersentuhan langsung dengan api, dapat terbentuk dua senyawa yang telah lama dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker, yaitu polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH) dan heterocyclic amines (HCA).

PAH terbentuk dari proses pembakaran yang menghasilkan asap dan kemudian menempel pada permukaan daging. Sementara itu, HCA muncul ketika protein pada daging dipanaskan pada suhu yang sangat tinggi.

DikatakanProf. Zubairi, kedua senyawa tersebut diketahui memiliki sifat karsinogenik atau berpotensi memicu terbentuknya sel kanker jika paparan terjadi dalam jangka panjang.

Selain proses pembakaran, Prof. Zubairi juga mengingatkan bahwa daging merah (red meat) sendiri termasuk kelompok pangan yang dikategorikan memiliki potensi meningkatkan risiko kanker apabila dikonsumsi secara berlebihan.

"Ada lagi kelompok daging yang red meat. Red meat ini memang kelompok karsinogen golongan 2A. Jadi artinya makanan kita itu sebagian bisa menyebabkan kanker, sebagian bisa mencegah kanker," jelasnya.

Meski demikian, Prof. Zubairi menegaskan bahwa risiko kanker tidak ditentukan oleh satu jenis makanan saja. Gaya hidup secara keseluruhan justru memiliki peran yang jauh lebih besar.

Prof. Zubairi pun menjelaskan bahwa setiap hari manusia akan selalu terpapar faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko penyakit maupun faktor yang bersifat melindungi tubuh.

"Kita hidup itu selalu ada paparan yang negatif, ada paparan yang positif. Paparan negatif yang memudahkan kanker tadi rokok, alkohol, sate, dan yang lain. Apalagi kalau kita gemuk banget, maka risikonya menjadi meningkat," katanya.

Sebaliknya, berbagai kebiasaan sehat mampu membantu menurunkan risiko kanker. Prof. Zubairi menganjurkan untuk memperbanyak konsumsi sayur dan buah setiap hari, rutin berolahraga, menjaga berat badan ideal, serta memiliki hubungan sosial dan keluarga yang harmonis.

"Yang mempersulit timbulnya kanker itu sayur, buah, olahraga. Karena itu kombinasi yang sehat ini harus selalu dikerjakan agar kalau sekali-sekali kita termakan zat yang memudahkan timbulnya kanker, tidak jadi kankernya," ujar Prof. Zubairi.

Baca Juga: Dokter Tirta Bagikan 3 Tips Tetap Bugar Meski Begadang Nonton Piala Dunia

Tak hanya itu, lanjutProf. Zubairi, dukungan dari keluarga dan hubungan sosial yang baik juga turut memberikan manfaat bagi kesehatan secara menyeluruh.

Dan, di tengah berbagai pilihan makanan yang menggoda, Prof. Zubairi juga mengingatkan bahwa konsumsi makanan berlemak tetap boleh dilakukan, tetapi harus dalam batas wajar.

Menurutnya, tidak ada larangan mutlak, selama tidak berlebihan dan tidak menjadi kebiasaan harian.

“Lemak boleh, daging berlemak boleh, tapi jangan terlalu sering. Sekali-sekali monggo,” tuturnya dengan nada menyeimbangkan antara anjuran dan kelonggaran.

Namun, sikap berbeda ia tekankan ketika berbicara soal alkohol. Dalam hal ini, Prof. Zubairi memberikan pesan yang jauh lebih tegas tanpa ruang kompromi.

“Sedangkan yang alkohol, itu semuanya hindari,” tegasnya.

Lebih jauh, ia mengajak masyarakat untuk melihat kesehatan bukan sebagai upaya menghindari semua risiko karena itu tidak mungkin, melainkan sebagai seni menyeimbangkan paparan antara hal yang berpotensi merugikan dan yang melindungi tubuh.

Menurutnya, kehidupan sehari-hari selalu menghadapkan manusia pada dua sisi: faktor yang dapat meningkatkan risiko penyakit dan faktor yang justru melindungi kesehatan.

Karena itu, kunci utamanya ada pada pola hidup yang dijalankan secara konsisten.

“Jadi memang di kehidupan ini kita akan selalu sehari-hari berhadapan dengan yang memudahkan sakit dan yang bisa mencegah sakit. Berpulang kepada kita semua, tentu yang terbaik adalah healthy living, gaya hidup yang sehat, itu yang harus ditegakkan,” pungkas Prof. Zubairi.

Baca Juga: Jangan Anggap Sepele Kepanasan, Dokter Spesialis Jantung Ingatkan Heat Stroke Bisa Berujung Kematian