Budayawan Mohamad Sobary menilai hubungan politik antara Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka semakin menunjukkan adanya jarak. Penilaian itu ia sampaikan setelah mencermati posisi duduk Gibran dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara yang digelar pada Senin (20/7/2026).
Menurut Sobary, penempatan Gibran yang duduk sejajar dengan para Menteri Koordinator, alih-alih berada di samping Presiden Prabowo, merupakan simbol yang mencerminkan posisi politik sang wakil presiden di mata kepala negara.
“Bagi Presiden Prabowo, wakilnya itu symbol of nothing. Nothing lah. Prabowo sudah mengginikan itu melalui simbol tidak boleh duduk dekat dia tadi,” ujar Sobary dalam program Forum Keadilan TV, dikutip Kamis (30/07/2026).
Baca Juga: Misteri Kursi Gibran di Sidang Kabinet Disebut Pesan Politik Jokowi: Jangan Duduk Sebelah Prabowo!
Tak hanya menyoroti tata letak tempat duduk, Sobary juga menyinggung absennya Gibran dalam sejumlah agenda Presiden Prabowo yang melibatkan interaksi langsung dengan masyarakat. Menurutnya, hal tersebut memperkuat persepsi adanya pembatasan peran politik terhadap Gibran.
“Tidak boleh ikut (ketika presiden bertemu rakyat) itu lebih keren lagi, lebih keras simbol penolakannya itu, meskipun mungkin Prabowo juga tidak terlalu bermain simbol macam itu,” katanya.
Sobary menilai Prabowo memiliki insting politik yang membuatnya mengambil jarak dengan Gibran. Ia menggambarkan hal tersebut sebagai bentuk "politik bawah sadar" yang tercermin dalam berbagai gestur dan keputusan Presiden.
Baca Juga: Ramai Seruan Prabowo Cari Wapres Baru, Gibran Mendadak Berkoar soal Koruptor Harus Dimiskinkan
“Six sense-nya Prabowo, common sense-nya Prabowo mengatakan ini bocah, cah cilik ini ngalang-ngalangi, ngeribeti. Ditaruh di belakang dia narik-narik, memberati. Ditaruh di depan dia ngalang-ngalangi,” tutur Sobary.
Lebih lanjut, ia menafsirkan bahwa Prabowo ingin menegaskan tidak adanya keterkaitan langsung antara tugas-tugas kepresidenan yang dijalankannya dengan peran Gibran sebagai wakil presiden.
“Jangan dekat-dekat sama gue. Gue enggak ada hubungan sama dia. Tugas-tugas gue harian itu enggak ada hubungan dengan tugas dia. Tugas gue tugas gue. Enggak perlu ada dia. Ngapain? Kira-kira begitu,” tandasnya.
Di sisi lain, pemerintah membantah adanya makna politis di balik perubahan posisi duduk tersebut. Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, menegaskan bahwa tata letak dalam Sidang Kabinet Paripurna semata-mata disesuaikan dengan kebutuhan teknis dan operasional.
Baca Juga: Denny Indrayana Minta Gibran Lengser Sebelum 20 Oktober 2026: Republik Masih Punya Harapan
“Kalau saudara-saudara kemarin perhatikan, Bapak Presiden berada di tengah-tengah. Dan kalau yang dipertanyakan adalah posisi dari Bapak Wakil Presiden, kalau menurut kami ini hanya masalah kebutuhan teknis semata, tidak ada hal-hal lain yang mungkin perlu dikhawatirkan,” ujar Prasetyo.
Pernyataan Mohamad Sobary pun kembali memantik perbincangan publik mengenai dinamika hubungan Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran, meski pemerintah menegaskan tidak ada persoalan politik yang melatarbelakangi perubahan tata letak dalam sidang kabinet tersebut.