Pengembangan industri mineral kritis di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi dan hilirisasi, tetapi juga bagaimana memastikan praktik industri berjalan dengan prinsip keberlanjutan.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, menilai penerapan prinsip sustainability dalam industri mineral kritis di Indonesia mulai terlihat, meski masih belum merata di seluruh perusahaan.

Menurut Faisal, sejumlah perusahaan telah mulai memperhatikan aspek keberlanjutan dalam operasionalnya, mulai dari tahap penambangan hingga proses pengolahan.

Salah satu contohnya terlihat dari upaya perusahaan menjaga praktik pertambangan yang lebih bertanggung jawab.

“Kalau masalah keberlanjutan ini, saya bilang masih parsial, tetapi sudah mulai ada. Misalnya ada perusahaan yang cukup konsen untuk menjaga keberlanjutan dalam operasional, mulai dari tahap penambangan sampai pemolahan,” ungkap Faisal saat ditemui Olenka, di Jakarta, baru-baru ini.

Faisal menuturkan bahwa praktik keberlanjutan tidak hanya dilihat dari proses produksi, tetapi juga bagaimana perusahaan melakukan pemulihan area tambang serta menciptakan kualitas pekerjaan yang lebih baik bagi tenaga kerja.

“Dalam hal penambangan, setelah dia tambang kemudian ada peremajaan, baru dia pindah lagi ke tempat yang lain. Kemudian dari kualitas employment, tenaga kerjanya juga lebih berkualitas, bukan hanya soal upah, tetapi juga penyerapan dan pengembangan tenaga kerja,” tuturnya.

Baca Juga: Menakar Potensi Mineral Kritis untuk Transisi Energi