Perkembangan kecerdasan buatan (AI) membuat anak-anak kini semakin mudah mengakses informasi, mencari jawaban, hingga mendapatkan bantuan untuk menyelesaikan berbagai persoalan.
Namun, kemudahan tersebut bukan berarti anak cukup mengandalkan teknologi. Ada sejumlah kemampuan dasar yang tetap perlu dibangun agar anak mampu menggunakan AI secara bijak dan bertanggung jawab.
Psikolog Klinis & Keluarga sekaligus Co-Founder Sekolah bnmontessori dan Co-Founder @goodenoughparents.id, Pritta Tyas Mangestuti, M.Psi., mengibaratkan perkembangan teknologi, termasuk AI, seperti peralihan dari sepeda biasa ke sepeda listrik.
“Jadi ibaratnya, membandingkan antara kamu naik sepeda biasa dengan sepeda listrik. Kalau kamu naik sepeda listrik kan lebih cepat, terus lebih nggak capek,” papar Pritta, sebagaimana Olenka kutip dari laman Instagram @ibupedia_id, Jumat (21/8/2026).
Pritta menuturkan, meski sepeda listrik menawarkan kemudahan dan kecepatan, seseorang tetap membutuhkan kemampuan tertentu agar dapat menggunakannya dengan aman. Hal yang sama berlaku ketika anak berinteraksi dengan teknologi dan AI.
Salah satu kemampuan yang penting adalah critical thinking atau berpikir kritis. Kemampuan ini membantu anak memahami informasi, menentukan pilihan, serta mempertimbangkan konsekuensi dari keputusan yang dibuat.
“Yang pertama, critical thinking. Itu untuk kamu baca map, kamu untuk menentukan nih kamu mau belok mana, kamu mau ke minimarket tuh tempatnya di mana, untuk menentukan lewat mana yang paling dekat,” jelas Pritta.
Selain berpikir kritis, lanjut Pritta, anak juga membutuhkan empati. Menurut Pritta, teknologi yang membuat segala sesuatu menjadi lebih cepat tetap harus diimbangi dengan kesadaran bahwa setiap tindakan memiliki dampak terhadap diri sendiri maupun orang lain.
“Yang kedua, tetap perlu ada yang namanya empathy. Supaya kamu bisa menimbang, oh kalau aku naik sepeda listrik, aku jalannya tetap harus pelan-pelan supaya tidak berdampak buruk ke orang lain, termasuk ke diriku sendiri,” katanya.
Baca Juga: Abdul Mu'ti Soroti Perilaku Kecanduan Gadget pada Anak
Pritta melanjutkan, kemampuan problem solving juga menjadi bekal penting. Anak perlu mampu menghadapi situasi ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan dan mencari jalan keluar secara mandiri, alih-alih selalu bergantung pada teknologi untuk memberikan jawaban.
“Yang ketiga, perlu ada kemampuan problem solving. Kalau mengalami hambatan, misalnya baterainya habis atau sebagainya, apa yang harus dilakukan,” tutur Pritta.
Di sisi lain, rasa ingin tahu atau curiosity juga perlu terus dipelihara. Menurut Pritta, anak perlu memiliki dorongan untuk mengeksplorasi dan belajar, bukan sekadar menggunakan teknologi sebagai alat untuk mendapatkan jawaban secara instan.
“Dan ada curiosity. Curiosity itu ada keinginan untuk, aku pengin eksplor apa lagi ya, menggunakan sepeda listrik ini,” ujarnya.
Tak kalah penting adalah kemampuan regulasi emosi. Di tengah kemudahan teknologi, anak tetap perlu mampu mengenali apa yang sedang dirasakan, mulai dari kecewa, marah, takut hingga sakit hati. Kesadaran tersebut menjadi fondasi agar anak dapat mengelola emosinya dengan lebih sehat.
“Regulasi emosi ya, ini juga penting. Anak punya kemampuan paling tidak menyadari, aduh kok rasanya sakit hati ya, aduh kok rasanya marah ya, aduh kok rasanya takut ya,” kata Pritta.
Menurutnya, setelah mampu mengenali emosi, anak juga perlu memiliki seseorang yang dipercaya untuk menjadi tempat bercerita. Dalam hal ini, peran orang tua tetap tidak dapat digantikan oleh teknologi.
“Dan ada kemampuan untuk menyampaikan ke satu aja sih, penting, kan, versi yang dia percaya. Semoga orang tuanya, salah satu orang tuanya lah paling enggak,” ujar Pritta.
Karena itu, Pritta menilai, AI sebaiknya ditempatkan sebagai partner kognitif bagi anak, bukan sebagai pengganti hubungan emosional dengan orang tua.
AI dapat membantu anak berpikir, mencari informasi, mengeksplorasi pengetahuan, dan menemukan berbagai kemungkinan solusi. Namun, ketika menyangkut emosi, rasa aman, keterhubungan, dan kebutuhan untuk didengarkan, anak tetap membutuhkan attachment yang kuat dengan orang tuanya.
“Sehingga AI ini memang berfungsi sebagai teman, partner kognitifnya dia. Tapi secara curhat, secara emosi, ini harapannya tetap ada attachment dengan orang tuanya,” pungkas Pritta.
Baca Juga: 10 Hal yang Dapat Dilakukan Orang Tua untuk Mencegah Anak Kecanduan Gadget