Growthmates, di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan kecerdasan buatan (AI), kemampuan berpikir kritis menjadi semakin penting.

Pasalnya, informasi yang beredar di internet tidak selalu datang dari sumber yang benar-benar kompeten. Bahkan, seseorang yang terdengar sangat meyakinkan belum tentu memiliki pengetahuan atau keahlian yang memadai mengenai topik yang dibicarakan.

Hal tersebut disoroti oleh model, mompreneur, sekaligus Founder Maison Garnet, Sabrina Anggraini.

Menurut Sabrina, salah satu kemampuan penting yang perlu dimiliki masyarakat di era AI adalah membedakan antara rasa percaya diri atau confidence dengan kompetensi atau competence.

Sabrina menuturkan, perkembangan internet dan media sosial membuat orang yang mampu menyampaikan sesuatu dengan percaya diri cenderung lebih mudah mendapatkan perhatian dan kepercayaan.

Cara berbicara yang lancar, penyampaian yang meyakinkan, hingga kemampuan membangun sebuah argumen dapat membuat sebuah informasi terlihat kredibel, meskipun belum tentu didukung fakta yang kuat.

“Internet tuh nge-reward orang yang terdengar confident. Kamu bisa ngomong tentang apa aja, tapi kalau cara penyampaiannya lancar, terdengar meyakinkan, orang mungkin jadi lebih mudah percaya, regardless of the truth,” papar Sabrina, sebagaimana Olenka kutip dari laman Instagram pribadinga @sabrinaanggraini, Rabu (19/8/2026).

Menurut istri Pendiri dan CEO Ruangguru, Adamas Belva Syah Devara atau yang akrab dikenal Belva Devara ini, confidence dan competence merupakan dua hal yang berbeda.

Seseorang dapat memiliki kemampuan komunikasi yang sangat baik, tetapi hal tersebut tidak otomatis menunjukkan bahwa ia benar-benar menguasai topik yang sedang dibicarakan.

“Padahal confidence mungkin nggak sama dengan competence. Bahkan mungkin sekarang orang yang benar-benar ahli dan yang bukan ahli bisa terdengar hampir sama,” kata Sabrina.

Kondisi tersebut, lanjut Sabrina, membuat masyarakat perlu memiliki kerangka berpikir atau framework dalam menyaring informasi.

Apalagi, algoritma digital membuat setiap orang terus-menerus terpapar berbagai informasi dari sumber yang sangat beragam, sementara tidak semua informasi tersebut memiliki kesempatan untuk diperiksa satu per satu.

“Ini kayak framework, gimana kita nge-filter informasi yang selalu lewat di kita dari mana aja, dengan apa aja, dengan algoritma zaman sekarang,” tutur Sabrina.

Sabrina juga mengaitkan hal tersebut dengan Dunning-Kruger Effect, sebuah konsep psikologi yang menggambarkan kecenderungan seseorang dengan pengetahuan atau kompetensi yang terbatas untuk melebih-lebihkan kemampuan dirinya.

Sebaliknya, kata dia, orang yang benar-benar memahami suatu bidang justru dapat lebih menyadari kompleksitas topik tersebut dan keterbatasan pengetahuannya sendiri.

“Justru orang yang mungkin paling tahu banyak, dia sadar bahwa banyak hal yang mungkin dia nggak tahu. The less we know, mungkin kita bisa terdengar lebih percaya diri,” jelasnya.

Baca Juga: 3 Tips Low Buy agar Tetap Fashionable Tanpa Boros ala Sabrina Anggraini