Samanta melanjutkan, jika Generasi Z banyak dikenal sebagai generasi yang kreatif dan inovatif, terutama dalam industri kreatif dan hiburan, Generasi Alpha memiliki karakter yang lebih peka terhadap lingkungan sosial dan emosional.
“Gen Z tuh inovatif. Tapi yang kaitannya dengan ketahanan dan sensitivitas itu Alpha yang menang,” ungkapnya.
Dijelaskan Samanta, salah satu faktor yang membentuk karakter tersebut adalah pola asuh orang tua.
Menurutnya, Generasi Alpha tumbuh dengan orang tua yang cenderung lebih aktif memberikan perlindungan sekaligus pemahaman mengenai berbagai situasi yang mereka hadapi.
“Dia lebih tough karena orang tuanya ngelindungin dan ngasih pemahaman,” kata Samanta.
Samanta pun menjelaskan, orang tua Generasi Alpha sering memberikan banyak arahan dan penjelasan mengenai konsekuensi dari sebuah tindakan.
Meski terkadang terlihat seperti banyak mengingatkan atau ‘mengomel’, sebenarnya hal tersebut menjadi bagian dari proses anak memahami dunia sosial di sekitarnya.
“Secara konteks logikanya orang tuanya kan ngoceh. Ngocehnya lebih ke, ‘ini nanti begini jadinya begini, kamu jangan gini-gini’. Ada bagian itu,” jelasnya.
Dengan karakter yang cepat belajar, sensitif, sekaligus mendapat banyak dukungan dari lingkungan keluarga, Generasi Alpha diprediksi memiliki potensi besar untuk berkembang.
“Tantangannya adalah memastikan mereka tetap memiliki rasa percaya diri, kemampuan mengelola tekanan, dan memahami bahwa nilai diri mereka tidak hanya ditentukan oleh pencapaian,” pungkasnya.
Baca Juga: Mengenal Generasi Alpha: Generasi yang Lahir di Era Serba Digital