Rendemen minyak sawit tidak semata-mata ditentukan di pabrik kelapa sawit (PKS). Jauh sebelum TBS masuk ke pabrik, kualitas dan potensi rendemen sudah ditentukan dari kebun—mulai dari ketepatan memilih buah matang, menjaga rotasi panen, hingga cara menangani TBS dan brondolan setelah dipanen.
Pesan inilah yang ditekankan dalam Pelatihan Teknis Panen dan Pascapanen bagi 115 pekebun asal Kabupaten Bengkulu Selatan dalam Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) 2026.
Praktisi Kebun Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY), Ir. Hartono, M.Si., mengatakan kemampuan memanen tidak cukup hanya dengan mengetahui cara memotong tandan. Pekebun juga harus mampu menentukan kapan buah sebaiknya dipanen dan bagaimana mempertahankan kualitasnya hingga diterima PKS.
Baca Juga: AKPY Ajak 156 Pekebun Bengkulu Tingkatkan Kompetensi, Tekankan Kualitas TBS Jadi Penentu Harga Sawit
“Panen yang tepat adalah panen pada tingkat rendemen tertinggi dan pada tingkat asam lemak bebas yang rendah,” kata Hartono saat membuka pelatihan di Bengkulu, Selasa (8/9/2026).
Menurut Hartono, munculnya brondolan dapat menjadi salah satu indikator bahwa TBS telah mencapai tingkat kematangan yang sesuai untuk dipanen. Pada fase tersebut, pembentukan minyak di dalam buah telah optimal.
Sebaliknya, membiarkan TBS terlalu lama di pohon bukan berarti minyak yang dihasilkan akan semakin banyak. Buah yang terlambat dipanen justru berpotensi mengalami peningkatan asam lemak bebas (ALB) sehingga kualitas minyak menurun.
Karena itu, pekebun perlu menghindari dua kesalahan sekaligus, yakni memanen terlalu muda dan memanen terlalu lambat. Keduanya dapat berdampak terhadap kualitas TBS dan potensi rendemen.
Rotasi Panen Jadi Kunci
Selain menentukan kematangan buah, disiplin menjaga rotasi panen juga menjadi bagian penting dalam mempertahankan kualitas hasil kebun.
Hartono mencontohkan sistem rotasi 6/7 yang lazim diterapkan di perkebunan besar. Dengan rotasi yang teratur, peluang mendapatkan TBS pada tingkat kematangan optimal menjadi lebih besar.
“Dengan rotasi 6/7 akan mendapatkan tingkat rendemen tertinggi, tingkat asam lemak yang rendah,” ujarnya.
Menurut dia, persoalan rendemen tidak berhenti ketika tandan berhasil dipotong. Setelah panen, brondolan harus dikumpulkan dengan baik, TBS segera diangkut, dan hasil panen dijaga ketertelusurannya hingga ke PKS.
Penanganan yang terlambat atau tidak tepat dapat menyebabkan kehilangan hasil sekaligus menurunkan mutu TBS.
Karena itu, Hartono menilai peningkatan produktivitas sawit rakyat tidak cukup hanya mengandalkan bibit unggul, pupuk, maupun luas lahan. Kualitas sumber daya manusia yang mengelola kebun menjadi faktor yang tidak kalah penting.
“Keberhasilan sawit Indonesia ke depannya tidak hanya ditentukan oleh bibit unggul atau pupuk yang digunakan, tetapi juga ditentukan oleh kualitas manusianya, ditentukan oleh kualitas petaninya,” katanya.
Ia menambahkan, pengalaman pekebun tetap menjadi modal penting. Namun, pengalaman tersebut perlu dipadukan dengan pengetahuan, teknologi, dan kemauan untuk terus belajar agar pekebun mampu menghadapi perubahan teknologi, iklim, maupun tuntutan keberlanjutan.
“Petani masa depan bukan lagi petani yang hanya mengandalkan pengalaman saja, tetapi petani yang mau belajar dan mampu beradaptasi terhadap perubahan,” ujarnya.
Potensi Sawit Bengkulu Harus Diikuti Peningkatan Mutu
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP) Provinsi Bengkulu, Sri Herlin Despita, S.Tp., M.P., mengatakan peningkatan kesejahteraan pekebun tidak hanya bergantung pada luas areal dan jumlah produksi. Kemampuan mengelola panen dan pascapanen juga menentukan nilai ekonomi yang diterima pekebun.
Sri Herlin yang hadir mewakili Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian menyebutkan, luas perkebunan kelapa sawit di Provinsi Bengkulu mencapai lebih dari 450.000 hektare. Dari luasan tersebut, lebih dari 300.000 hektare merupakan perkebunan rakyat.
Khusus Bengkulu Selatan, daerah ini menjadi salah satu sentra sawit utama di Provinsi Bengkulu, berada di urutan keempat berdasarkan produksi dan luas areal setelah Mukomuko, Bengkulu Utara, dan Seluma. Bengkulu Selatan disebut menyumbang lebih dari 80.000 ton CPO per tahun.
Besarnya potensi tersebut, kata Sri Herlin, perlu diikuti dengan peningkatan kualitas pengelolaan kebun agar produktivitas dan pendapatan pekebun dapat terus meningkat.
“Seandainya Bapak Ibu telah melaksanakan dan menerapkan hasil pelatihan ini, saya yakin produksi perkebunan kelapa sawit akan maksimal dan kualitasnya semakin baik. Dengan begitu, penghasilan Bapak Ibu juga akan semakin membaik,” ujarnya.
Ia berharap program pengembangan SDM yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Kementerian Pertanian dapat terus berlanjut dengan cakupan yang semakin luas.
Jangan Hanya Menuntut Harga, Perbaiki Mutu Panen
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bengkulu Selatan, Binagransyah, SP, MM, menilai pelatihan tersebut menjadi momentum bagi pekebun untuk mengevaluasi sekaligus memperbaiki praktik panen yang selama ini dilakukan di kebun.
Menurutnya, mendapatkan harga TBS yang baik harus berjalan beriringan dengan upaya menghasilkan TBS berkualitas. Salah satu caranya adalah memastikan buah dipanen pada tingkat kematangan yang tepat.
“Selama ini petani selalu menuntut harga yang terbaik. Tetapi kita juga harus memperbaiki cara panen. Setelah mengikuti pelatihan ini, mari kita lakukan cara dan waktu panen yang terbaik sehingga rendemen bisa mencapai tingkat yang tinggi,” katanya.
Binagransyah berharap peserta tidak berhenti pada mengikuti pelatihan, tetapi langsung menerapkan pengetahuan yang diperoleh di kebun masing-masing.
Ia juga mendorong peserta membagikan pengetahuan tersebut kepada pekebun lain sehingga manfaat program tidak berhenti pada 115 peserta.
“Ilmu yang didapat hari ini jangan hanya untuk diri sendiri. Transfer juga kepada kawan-kawan yang belum sempat mengikuti pelatihan, karena pengetahuan ini sangat bermanfaat untuk pengelolaan kebun sawit,” tuturnya.
Pelatihan Teknis Panen dan Pascapanen tersebut diikuti 115 pekebun Bengkulu Selatan dalam empat kelas. Kegiatan berlangsung pada 8–12 September 2026 dan diselenggarakan AKPY dengan dukungan BPDP dan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian.
Bagi Hartono, peningkatan kompetensi pekebun merupakan investasi jangka panjang bagi keberlanjutan sawit rakyat. Sebab, kebun produktif tidak hanya membutuhkan input produksi, tetapi juga manusia yang mampu mengelolanya secara tepat.
“Keberhasilan kebun tidak semata-mata ditentukan luas lahan yang dimiliki. Sawit yang hebat tidak lahir dari kebun yang luas, tetapi dari petani yang terus belajar,” pungkasnya.