Erupsi Gunung Anak Krakatau yang masih berlangsung sejak 4 September 2026 membuat abu vulkanik menyebar ke sejumlah wilayah, mulai dari Jabodetabek, Banten, Lampung hingga sebagian Jawa Barat. Kondisi ini perlu menjadi perhatian, terutama bagi orang tua karena paparan abu vulkanik dapat mengganggu kesehatan pernapasan anak.
Abu vulkanik bukanlah debu biasa. Material yang keluar saat erupsi terdiri dari pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik berukuran sangat halus. Partikel tersebut memiliki permukaan yang tajam dan abrasif sehingga dapat mengiritasi saluran pernapasan ketika terhirup.
Risiko gangguan kesehatan juga dapat meningkat karena abu vulkanik dapat disertai gas iritan, seperti sulfur dioksida (SO₂) dan karbon monoksida (CO). Pada anak-anak, paparan tersebut berpotensi memicu peradangan dan mengganggu sistem pernapasan.
Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, dr Wahyuni Indawati, Sp.A, Subsp. Respi (K), mengatakan gangguan pada saluran pernapasan menjadi salah satu dampak yang perlu diwaspadai.
"Gejala yang paling umum adalah iritasi saluran napas yang menyebabkan bersin, batuk, pilek, hingga sesak napas," ujar dr Wahyuni dalam rilis IDAI, Senin (7/9/2026).
Baca Juga: Abu Vulkanik Ganggu Kualitas Udara, Ini 5 Makanan yang Bisa Bantu Jaga Kesehatan Paru-paru
Risiko tersebut menjadi lebih serius pada anak yang memang memiliki masalah pernapasan sebelumnya. Anak dengan riwayat asma, alergi, atau penyakit paru kronis dapat mengalami perburukan kondisi atau eksaserbasi ketika terpapar abu vulkanik.
Kelompok yang lebih rentan juga mencakup bayi dengan riwayat displasia bronkopulmonal serta anak dengan penyakit jantung bawaan.
Karena itu, orang tua perlu segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila mulai menunjukkan tanda gangguan pernapasan. Beberapa gejala yang perlu diperhatikan antara lain napas menjadi lebih cepat, adanya tarikan dinding dada ke dalam, atau kadar saturasi oksigen berada di bawah 94 persen.
Paparan abu vulkanik tidak hanya berdampak pada saluran pernapasan. Partikel abu yang mengenai mata juga dapat menimbulkan iritasi dan rasa tidak nyaman. Sementara itu, kontak dalam waktu lama dengan kulit dapat menyebabkan iritasi karena sifat partikel abu yang tajam.
Untuk mengurangi risiko paparan, anak sebaiknya menggunakan pakaian yang menutupi tubuh ketika harus berada di luar rumah. Jika memang harus keluar saat abu vulkanik masih beterbangan, anak dapat menggunakan masker yang terpasang dengan baik serta pelindung mata.
Sesampainya di rumah, orang tua juga sebaiknya segera meminta anak membersihkan diri dan mengganti pakaian. Langkah tersebut penting untuk menghilangkan abu yang mungkin menempel pada tubuh maupun pakaian.
Di tengah erupsi Gunung Anak Krakatau yang masih berlangsung, orang tua perlu lebih memperhatikan kondisi anak. Terlebih, anak-anak dengan riwayat gangguan pernapasan memiliki risiko lebih tinggi mengalami masalah kesehatan ketika kualitas udara terganggu akibat abu vulkanik.