Microwave menjadi salah satu cara paling praktis untuk menghangatkan makanan sisa. Hanya dalam hitungan menit, makanan dari hari sebelumnya bisa kembali disantap. Namun, tidak semua makanan memberikan hasil terbaik ketika dipanaskan kembali menggunakan microwave.
Beberapa makanan dapat berubah menjadi lembek atau kenyal, sementara makanan lain bisa mengalami pemanasan yang tidak merata. Dalam kondisi tertentu, masalah utamanya bahkan bukan microwave, melainkan cara makanan tersebut disimpan sebelum dipanaskan kembali.
Penting untuk diketahui, tidak ada aturan ilmiah yang menyebut makanan tertentu otomatis menjadi beracun hanya karena dipanaskan menggunakan microwave. Perhatian utama justru terletak pada keamanan penyimpanan, pemanasan yang tidak merata, serta risiko luka bakar akibat makanan atau wadah yang terlalu panas.
Secara umum, sisa makanan sebaiknya dipanaskan kembali hingga mencapai suhu internal sekitar 74°C secara merata. Mengaduk, membalik, atau memutar makanan selama proses pemanasan dapat membantu mengurangi bagian yang masih dingin.
Dan, dikutip dari Times of India, Rabu (26/8/2026), berikut 8 makanan yang membutuhkan perhatian ekstra saat dipanaskan kembali dengan microwave.
1. Telur Rebus dalam Cangkang
Telur rebus utuh sebaiknya tidak dipanaskan kembali dalam cangkangnya menggunakan microwave. Panas dapat menghasilkan uap di dalam telur dan meningkatkan tekanan. Ketika telur kemudian dipotong atau digigit, telur bisa pecah dan menyebabkan luka bakar.
Jika ingin menghangatkan telur rebus, kupas terlebih dahulu lalu potong menjadi beberapa bagian. Panaskan secara perlahan dan dalam waktu singkat. Untuk hidangan berbahan telur, tutup wadah dan putar atau aduk makanan agar panas lebih merata.
2. Cabai Utuh
Cabai juga dapat menimbulkan masalah yang tidak terduga ketika dipanaskan dalam microwave. Kandungan capsaicin pada cabai dapat menguap ketika terkena panas tinggi dan menghasilkan uap yang terasa sangat menyengat serta dapat mengiritasi mata dan saluran pernapasan.
Daripada memanaskan cabai dalam kondisi utuh, potong terlebih dahulu dan campurkan ke dalam hidangan yang akan dipanaskan. Selain mengurangi risiko uap yang menyengat, cara ini juga membantu panas tersebar lebih merata.
3. Makanan dengan Saus Kental
Kari, saus pasta, kuah kental, dan makanan dengan konsistensi pekat dapat mengalami pemanasan yang tidak merata. Bagian tertentu bisa sangat panas, sementara bagian lainnya masih dingin.
Kondisi ini terjadi karena panas tidak selalu tersebar secara merata di dalam makanan yang padat atau kental. Karena itu, makanan sebaiknya ditutup dan dipanaskan dalam beberapa tahap. Aduk atau putar makanan di antara jeda pemanasan, kemudian diamkan sebentar sebelum disantap agar panas dapat terdistribusi dengan lebih baik.
4. Nasi yang Dibiarkan Terlalu Lama pada Suhu Ruang
Risiko pada nasi bukan berasal dari microwave, melainkan dari cara nasi tersebut disimpan.
Nasi matang dapat mengandung spora Bacillus cereus. Jika nasi dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang, bakteri tersebut dapat berkembang biak dan menghasilkan racun. Pemanasan kembali mungkin dapat membunuh sebagian bakteri, tetapi tidak selalu menghancurkan racun yang sudah terbentuk.
Karena itu, nasi yang sudah terlalu lama dibiarkan di meja makan sebaiknya tidak diselamatkan dengan cara dipanaskan kembali. Sisa makanan perlu segera didinginkan dan disimpan di lemari es, kemudian dikonsumsi dalam beberapa hari.
Baca Juga: Deretan Makanan yang Sebaiknya Dihindari saat Kolesterol Tinggi