3. Bangun Struktur Keuangan yang Siap Menangkap Peluang Jangka Panjang

Prospek ekonomi Indonesia relatif kuat, didukung oleh meningkatnya konektivitas dengan Tiongkok sebagai mitra dagang utama, serta pertumbuhan diproyeksikan sekitar 5,3 persen dan inflasi terjaga di kisaran 2,8 persen. Hal ini memberikan ruang bagi korporasi untuk berekspansi.

Di sisi lain, ekonomi Tiongkok diperkirakan tetap tumbuh dengan inflasi rendah di sekitar 0,5 persen, serta suku bunga yang berpotensi berada di kisaran 2,75 persen. Kombinasi stabilitas di kedua negara ini menciptakan lingkungan yang kondusif bagi peningkatan investasi lintas negara, pembiayaan perdagangan, maupun kolaborasi industri jangka panjang.

Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Jakarta tetap Menggeliat di Tengah Dinamika Geopolitik

Meski demikian, dinamika global seperti volatilitas arus modal, tekanan nilai tukar, dan ketidakpastian geopolitik tetap menjadi faktor risiko yang perlu diantisipasi. Karena itu, korporasi perlu memastikan struktur neraca yang sehat, tingkat leverage yang terukur, serta diversifikasi sumber pendanaan agar tetap fleksibel dalam mengambil keputusan investasi. Dengan kesiapan ini, perusahaan tidak hanya menjadi penerima peluang, tetapi pemain aktif dalam ekosistem bisnis regional yang terus berkembang.

4. Manfaatkan Pergeseran Rantai Pasok Regional

Di luar strategi pengelolaan portofolio dan risiko finansial, dinamika geopolitik dan kebijakan perdagangan global juga mendorong perubahan struktural pada rantai pasok internasional, yang membuka peluang bagi negara-negara Asia untuk mengambil peran lebih besar dalam ekosistem produksi global.

Tren ini terlihat dari langkah perusahaan-perusahaan Tiongkok yang memperluas pasar dan basis produksi mereka ke luar Amerika Serikat, dengan Indonesia menjadi salah satu tujuan utama. Posisi Tiongkok sebagai investor asing di Indonesia melonjak dari peringkat ke-9 pada 2015 menjadi peringkat ke-2 pada 2019. Sepanjang 2019 hingga September 2024, nilai investasinya mencapai sekitar USD34,19 miliar atau setara 18 persen dari total investasi asing, dengan konsentrasi terbesar pada sektor industri logam dasar, transportasi dan logistik, kimia, energi, serta pengembangan kawasan industri.

Konsentrasi investasi di sektor-sektor tersebut menunjukkan bahwa peluang bagi korporasi Indonesia tidak hanya berada pada ekspor komoditas, tetapi juga pada keterlibatan dalam rantai nilai industri yang lebih luas. Karena itu, ini menjadi momentum yang tepat bagi pelaku usaha untuk menjalin kemitraan strategis, membangun joint venture, maupun mengintegrasikan jaringan produksi lintas negara. Keterlibatan dalam ekosistem regional tidak hanya membuka akses pasar yang lebih luas, tetapi juga menghadirkan peluang transfer teknologi, peningkatan efisiensi, serta sumber pertumbuhan jangka panjang yang lebih berkelanjutan.

5. Perkuat Posisi dalam Rantai Pasok Global dan Kolaborasi Industri

Perubahan kebijakan tarif Amerika Serikat menciptakan dinamika baru bagi perdagangan global, termasuk Indonesia, dengan tarif produk Indonesia kembali mendekati MFN ditambah tarif sementara 15 persen hingga pertengahan 2026. Penurunan tarif ini memberikan ruang bagiproduk Indonesia meningkatkan daya saing di pasar AS, namun karena sifat tarif sementara yang berlaku secara seragam bagi banyak negara, pelaku usaha Indonesia tetap perlu menerapkan strategi ekspor adaptif, memperluas diversifikasi pasar, serta memperkuat efisiensi rantai pasok untuk menjaga keunggulan kompetitif di tengah dinamika perdagangan global yang cepat berubah.

Salah satu mitra strategis bagi Indonesia dalam memperkuat rantai nilai industri adalah Tiongkok, yang terus meningkatkan investasi di sektor-sektor kunci seperti logam, transportasi, logistik, kimia, dan energi. Pembaruan kerja sama Two Parks Twin Countries (TCTP) pada Mei 2025 mencerminkan fokus kedua negara pada pengembangan kapasitas industri dan nilai tambah, membuka peluang bagi pelaku usaha Indonesia untuk terlibat dalam manufaktur, pengolahan, dan pengembangan teknologi bersama mitra Tiongkok. Kombinasi peluang kolaborasi ini dengan potensi biaya pembiayaan lebih kompetitif memberikan ruang bagi perusahaan untuk memperluas kapasitas produksi, membangun kemitraan strategis lintas negara, serta menjaga fleksibilitas dalam menghadapi ketidakpastian global.

“Perusahaan yang siap secara finansial dan strategis akan memiliki posisi yang lebih kuat dalam rantai nilai global. Sebagai mitra tepercaya bagi pertumbuhan bisnis dan pengelolaan kekayaan, Bank DBS Indonesia hadir untuk membantu nasabah merancang strategi yang lebih adaptif dan berkelanjutan untuk menangkap peluang baru di tengah perubahan ekonomi melalui keahlian global dengan perspektif Asia serta dialog ahli didukung koneksi strategis,” pungkas Anthonius.