Lanskap ekonomi terkini ditandai dengan kembalinya konfigurasi dua kekuatan besar dunia setelah lebih dari tiga dekade era unipolar pasca-Perang Dingin. Persaingan Amerika Serikat dan Tiongkok kini meluas dari militer ke ekonomi, teknologi, hingga diplomasi, dan berdampak pada volatilitas pasar dari Timur Tengah hingga Indo-Pasifik. Hal ini tercermin dari data Economic Surprise Index Bloomberg per pertengahan Juli 2026: indeks Amerika Serikat berada di level 55,0, menandakan data ekonomi yang konsisten lebih kuat dari ekspektasi, sementara indeks Tiongkok di angka -20,8, mengindikasikan rilis data yang masih di bawah perkiraan, berbeda dengan Asia Pasifik yang mencatatkan optimisme di level 51,5.

Di tengah polarisasi tersebut, negara-negara middle powers diperkirakan akan memainkan peran yang semakin penting dalam dua hingga tiga dekade mendatang. Founder and Chairman Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, menegaskan, "Indonesia bukan lagi negara dunia ketiga, kita adalah negara G20 dengan pendapatan ekonomi menengah ke atas. Geopolitik kita relatif aman karena rivalitas global saat ini tidak secara langsung mengarah ke Indonesia. Ini merupakan modal penting untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra strategis berbagai negara sekaligus menjaga stabilitas kawasan. Namun, modal geopolitik saja tidak cukup, kita tetap membutuhkan langkah-langkah konkret untuk memenangkan kepercayaan pasar dunia."

Baca Juga: Bawa Pengalaman 37 Tahun di Tanah Air, Bank DBS Indonesia Teruskan Komitmen Dampingi Nasabah

Bank DBS Indonesia melihat perubahan lanskap global menghadirkan peluang investasi baru yang perlu disikapi secara strategis. Head of Investment & Insurance Products, Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia, Djoko Sulistyo, mengatakan bahwa keputusan investasi saat ini perlu didasarkan pada tren struktural jangka panjang, bukan hanya sentimen pasar jangka pendek.

"Di tengah perubahan lanskap global, investor perlu melihat peluang secara lebih luas dengan mempertimbangkan kekuatan fundamental setiap kawasan. Saat ini kami melihat terdapat tiga kawasan utama yang menarik untuk dicermati, yaitu Amerika Serikat, Tiongkok, serta Asia termasuk Indonesia. Amerika Serikat masih menjadi pemimpin dalam inovasi teknologi, khususnya Artificial Intelligence (AI). Tiongkok berhasil mengakselerasi pemanfaatan AI ke berbagai sektor industri sehingga meningkatkan produktivitas, sementara Asia, termasuk Indonesia, memperoleh manfaat dari pergeseran rantai pasok global dan pertumbuhan ekonomi regional. Sebagai mitra tepercaya dalam pengelolaan kekayaan, Bank DBS Indonesia terus menghadirkan insights regional dan panduan investasi agar nasabah dapat mengambil keputusan secara lebih percaya diri," jelas Djoko dalam DBS Insights Forum 2026, dikutip Rabu (29/7/2026).

Selain membaca dinamika eksternal, Indonesia juga perlu terus memperkuat fondasi ekonomi domestik agar mampu menjaga daya saing dan menarik investasi secara berkelanjutan. Executive Director Charta Politika Indonesia, Yunarto Wijaya, menjelaskan bahwa meningkatnya rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok serta kecenderungan berbagai negara menerapkan kebijakan ekonomi yang lebih proteksionis membuat setiap negara perlu semakin adaptif dalam menyusun strategi ekonomi dan diplomasi.

Langkah Indonesia memperkuat hubungan dengan berbagai mitra strategis, termasuk bergabung dengan BRICS maupun mempererat kerja sama dengan Amerika Serikat, merupakan bagian dari strategi menjaga kepentingan nasional di tengah perubahan tatanan global. Namun demikian, daya saing Indonesia pada akhirnya tetap ditentukan oleh kekuatan fundamental ekonomi di dalam negeri.

“Posisi tawar suatu negara tidak hanya ditentukan oleh kemampuan diplomasi, tetapi juga oleh kekuatan fundamental ekonominya. Ketika regulasi memberikan kepastian, birokrasi semakin efektif, iklim investasi kondusif, serta pembangunan infrastruktur terus diperkuat, Indonesia memiliki daya saing yang semakin tinggi di tengah dinamika geopolitik global,” ujar Yunarto.

Kebijakan yang berorientasi pada kepentingan nasional perlu didukung oleh perencanaan berbasis data, tata kelola yang baik, dan fondasi fiskal yang kuat agar mampu menjaga kepercayaan investor sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Pandangan tersebut sejalan dengan analisis Bank DBS Indonesia mengenai prospek ekonomi Indonesia ke depan. Head of Market Intelligence PT Bank DBS Indonesia, Boy Suhendry, mengatakan bahwa meskipun ekonomi global masih menghadapi berbagai tantangan, fundamental Indonesia tetap berada dalam kondisi yang kuat sehingga prospek pertumbuhan jangka menengah masih tetap positif.

“Saat ini Amerika Serikat masih menunjukkan ketahanan ekonomi yang baik, sementara Asia terus mencatat momentum pertumbuhan yang positif. Di sisi lain, Tiongkok tetap menjadi mitra dagang utama Indonesia dengan neraca perdagangan yang masih mencatatkan surplus. Indonesia memiliki sejumlah keunggulan struktural yang menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi, mulai dari sumber daya alam yang melimpah, konsumsi domestik yang kuat, bonus demografi, hingga program hilirisasi yang terus meningkatkan nilai tambah industri nasional,” ujar Boy.

Di saat yang sama, pesatnya investasi global di sektor Artificial Intelligence (AI) juga membuka peluang baru bagi Indonesia sebagai salah satu produsen utama nikel dan mineral strategis yang dibutuhkan dalam rantai pasok industri teknologi masa depan. Pertumbuhan investasi AI diperkirakan akan meningkatkan permintaan terhadap berbagai komoditas strategis Indonesia sehingga menjadi salah satu katalis positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional dalam jangka menengah.

Meski volatilitas pasar masih dipengaruhi perkembangan geopolitik, kebijakan fiskal, likuiditas global, serta arah suku bunga, Bank DBS Indonesia menilai visibilitas pasar saat ini jauh lebih baik dibandingkan beberapa bulan sebelumnya. Dengan fundamental ekonomi yang tetap kuat, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk terus menarik investasi dan mempertahankan momentum pertumbuhan di tengah perubahan lanskap ekonomi global.