Telur dikenal sebagai salah satu sumber protein hewani yang kaya nutrisi dan mudah diperoleh. Selain mengandung protein berkualitas tinggi, telur juga menyediakan berbagai vitamin, mineral, serta kolin yang bermanfaat bagi kesehatan otak, otot, dan sistem kekebalan tubuh.

Dalam satu butir telur berukuran sekitar 50 gram, terkandung sekitar 6–7 gram protein yang berasal dari putih dan kuning telur. Putih telur kaya akan albumin yang berperan dalam menjaga massa otot dan mendukung fungsi imun, sedangkan kuning telur mengandung lemak sehat, vitamin A, D, E, K, serta kolin.

Meski memiliki banyak manfaat, konsumsi telur tidak selalu cocok bagi semua orang. Menurut dokter dari University of Medicine and Pharmacy at Ho Chi Minh City, Dinh Tran Ngoc Mai, ada beberapa kelompok yang sebaiknya membatasi konsumsi telur karena berpotensi menimbulkan efek samping atau memperburuk kondisi kesehatan tertentu.

Baca Juga: Makan Telur Tiap Hari Bikin Kolesterol Melonjak? Ini Faktanya!

Lantas, siapa saja orang yang perlu membatasi konsumsi telur tersebut? 

1. Orang dengan Alergi Telur

Kelompok pertama adalah mereka yang memiliki alergi terhadap telur. Kondisi ini lebih sering ditemukan pada anak-anak, meski juga dapat terjadi pada orang dewasa.

Reaksi alergi telur dapat berupa ruam pada kulit, gangguan pernapasan, hingga anafilaksis, yaitu reaksi alergi berat yang memerlukan penanganan medis segera.

2. Penderita Kolesterol Tinggi

Orang dengan kadar kolesterol tinggi atau gangguan metabolisme lemak juga dianjurkan untuk membatasi konsumsi telur, terutama bagian kuning telur yang mengandung kolesterol.

Baca Juga: Telur Ayam vs Telur Bebek, Mana yang Lebih Menyehatkan?

Meski demikian, Dinh Tran menjelaskan bahwa bagi sebagian besar orang sehat, mengonsumsi satu hingga dua butir telur per hari umumnya tidak memberikan dampak signifikan terhadap kadar kolesterol darah.

3. Penderita Penyakit Hati Kronis

Penderita penyakit hati kronis, seperti sirosis atau gagal hati, juga disarankan lebih berhati-hati dalam mengonsumsi telur.

Pembatasan dilakukan untuk menyesuaikan kebutuhan nutrisi dengan kondisi fungsi hati yang telah menurun. Oleh karena itu, jumlah konsumsi telur sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter atau ahli gizi.

4. Penderita Penyakit Ginjal

Orang dengan penyakit ginjal kronis juga perlu mengatur asupan protein, termasuk yang berasal dari telur.

Baca Juga: Benarkah Cara Anda Menyukai Telur Bisa Mengungkap Kepribadian? Ini Kata Psikologi

Pada kondisi tertentu, konsumsi protein yang berlebihan dapat meningkatkan beban kerja ginjal. Karena itu, pola makan penderita penyakit ginjal sebaiknya disesuaikan dengan rekomendasi tenaga kesehatan.

5. Orang dengan Gangguan Pencernaan Tertentu

Beberapa orang yang mengalami gangguan pencernaan atau kesulitan mencerna makanan berlemak juga dapat mengalami ketidaknyamanan setelah mengonsumsi telur, terutama bagian kuningnya.

Apabila konsumsi telur memicu keluhan seperti mual, kembung, atau gangguan pencernaan lainnya, sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk mengetahui penyebabnya.

Meski ada kelompok tertentu yang perlu membatasi konsumsi telur, makanan ini tetap menjadi salah satu sumber protein berkualitas tinggi yang bermanfaat bagi kebanyakan orang, ya, Growthmates.