Warren Buffett dikenal sebagai salah satu investor paling sukses di dunia. Dijuluki ‘Oracle of Omaha’, Buffett telah mengenal dunia investasi sejak usia sangat muda. Ia bahkan membeli saham pertamanya ketika baru berusia 11 tahun.

Meski tidak semua orang perlu mengikuti jejak Buffett dengan mulai berinvestasi di usia belia, prinsip investasi yang ia pegang sebenarnya cukup sederhana, yakni mulai sedini mungkin, bersabar, memahami apa yang dibeli, serta tidak mengambil keputusan secara impulsif.

Bagi investor muda yang baru memulai perjalanan di dunia investasi, prinsip tersebut dapat menjadi fondasi penting untuk membangun kebiasaan finansial yang sehat dan berorientasi jangka panjang.

Dikutip dari Investopedia, Kamis (20/8/2026), berikut 4 prinsip investasi Warren Buffett yang penting dipahami investor muda.

1. Mulai Berinvestasi Sedini Mungkin

Tidak ada usia yang benar-benar ideal untuk mulai berinvestasi. Namun, semakin awal seseorang mengenal investasi, semakin panjang pula waktu yang dimiliki untuk mengembangkan aset dan memanfaatkan efek compounding.

Chad Gammon, seorang perencana keuangan bersertifikat sekaligus pemilik Custom Fit Financial, mengatakan bahwa ia mulai mengenalkan investasi kepada anak-anaknya ketika mereka berusia sekitar 16 tahun atau ketika mereka mulai memiliki penghasilan sendiri.

“Saya mulai melibatkan anak-anak saya saat mereka berusia 16 tahun,” tutur Gammon.

Menurutnya, usia tersebut menjadi momentum yang baik karena anak-anak mulai menghasilkan uang, tetapi umumnya belum memiliki banyak beban finansial seperti biaya sewa tempat tinggal atau cicilan rumah.

“Beberapa gaji pertama merupakan kesempatan belajar yang sangat baik,” kata Gammon.

Bagi investor muda, gaji pertama atau penghasilan awal tidak harus langsung dialokasikan dalam jumlah besar. Yang lebih penting adalah mulai membangun kebiasaan menyisihkan sebagian penghasilan untuk investasi secara konsisten.

2. Kesabaran Menjadi Kunci

Setelah mulai berinvestasi, tantangan berikutnya adalah mempertahankan kesabaran. Pergerakan pasar saham tidak selalu berjalan sesuai harapan. Harga aset dapat naik maupun turun dalam waktu singkat sehingga investor pemula mudah terdorong untuk mengambil keputusan berdasarkan emosi.

Buffett justru dikenal dengan pendekatan jangka panjang. Ia pernah mengatakan, 'Pasar saham dirancang untuk memindahkan uang dari pihak yang aktif (ingin cepat untung) kepada pihak yang sabar'.

Ia juga memiliki prinsip yang terkenal mengenai durasi investasi.

“Periode kepemilikan favorit kami adalah selamanya,” ujar Buffett.

Pernyataan tersebut bukan berarti investor tidak boleh menjual saham. Sebaliknya, prinsip itu menekankan pentingnya memilih perusahaan yang memiliki kemampuan menciptakan nilai dalam jangka panjang, bukan sekadar mengejar keuntungan dari pergerakan harga dalam waktu singkat.

Salah satu ilustrasinya dapat dilihat dari pergerakan saham Microsoft. Pada September 2005, saham perusahaan tersebut berada di kisaran US$18 per lembar. Sekitar satu dekade kemudian, harganya berada di sekitar US$50. Investor yang terus bertahan hingga Mei 2026 melihat nilainya telah menembus lebih dari US$500 per lembar.

Contoh tersebut menunjukkan bagaimana waktu dapat menjadi salah satu faktor penting dalam investasi. Namun, investor tetap perlu memahami bahwa kinerja masa lalu tidak menjamin hasil investasi di masa mendatang.

Baca Juga: 6 Nasihat Warren Buffett untuk Kelas Menengah yang Ingin Cepat Kaya

3. Jangan Terlalu Banyak Mengambil Keputusan Investasi

Buffett juga menekankan pentingnya bersikap selektif. Dalam dunia investasi yang dipenuhi berbagai pilihan saham, reksa dana, ETF, dan aset lainnya, banyaknya pilihan justru dapat membuat investor mudah tergoda untuk terus membeli dan menjual.

Salah satu konsep yang sering dikaitkan dengan Buffett adalah '20-slot punch card'.

Melalui konsep tersebut, Buffett membayangkan jika seseorang hanya diberi kesempatan melakukan 20 keputusan investasi sepanjang hidupnya, maka setiap keputusan akan dipertimbangkan dengan jauh lebih matang.

Gagasan ini mengajarkan bahwa investor sebaiknya tidak berinvestasi hanya karena sedang mengikuti tren atau melihat orang lain mendapatkan keuntungan.

Bagi investor pemula yang belum memiliki kemampuan untuk menganalisis perusahaan secara mendalam, diversifikasi juga dapat menjadi pertimbangan.

Gammon mengatakan bahwa ia mengajarkan anak-anaknya untuk mencari instrumen investasi berbiaya rendah yang mencakup banyak perusahaan sekaligus.

“Saya mengajari anak-anak saya cara mencari investasi berbiaya rendah yang mencakup lebih dari satu perusahaan, seperti reksa dana indeks,” tukas Gammon.

Dengan satu investasi pada reksa dana indeks, investor dapat memiliki eksposur terhadap sejumlah perusahaan sekaligus sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada kinerja satu perusahaan.

4. Kerjakan Pekerjaan Rumah Sebelum Berinvestasi

Prinsip lain yang sangat melekat dengan Buffett adalah pentingnya memahami investasi sebelum mengeluarkan uang.

Buffett dikenal memiliki kebiasaan membaca laporan tahunan perusahaan dan mempelajari model bisnisnya secara mendalam sebelum memutuskan untuk berinvestasi.

Namun, memahami investasi tidak berarti seseorang harus menjadi ahli di semua bidang.

Buffett justru memperkenalkan konsep 'lingkaran kompetensi' atau circle of competence, yakni memahami batas pengetahuan dan kemampuan diri sendiri.

Dalam surat kepada pemegang saham Berkshire Hathaway pada 1996, Buffett menulis, ‘Anda tidak perlu menjadi ahli mengenai setiap perusahaan, atau bahkan banyak perusahaan. Anda hanya perlu mampu mengevaluasi perusahaan-perusahaan yang berada dalam lingkaran kompetensi Anda’.

Ia melanjutkan, ‘Ukuran lingkaran tersebut tidaklah terlalu penting; namun, mengetahui batas-batasnya adalah hal yang sangat krusial’.

Prinsip tersebut relevan bagi investor muda yang baru mulai belajar. Seseorang yang bekerja di industri kesehatan, misalnya, mungkin lebih mudah memahami bisnis perusahaan farmasi.

Sementara, mereka yang bekerja di bidang teknologi mungkin memiliki pemahaman lebih baik mengenai bisnis aplikasi atau perusahaan teknologi. Intinya, bukan mengetahui segala sesuatu, melainkan memahami apa yang diketahui sekaligus menyadari apa yang belum dipahami.

Baca Juga: ETF Pilihan Warren Buffett dan Strategi Investasi Sederhana untuk Investor Pemula