3. Jangan Terlalu Banyak Mengambil Keputusan Investasi

Buffett juga menekankan pentingnya bersikap selektif. Dalam dunia investasi yang dipenuhi berbagai pilihan saham, reksa dana, ETF, dan aset lainnya, banyaknya pilihan justru dapat membuat investor mudah tergoda untuk terus membeli dan menjual.

Salah satu konsep yang sering dikaitkan dengan Buffett adalah '20-slot punch card'.

Melalui konsep tersebut, Buffett membayangkan jika seseorang hanya diberi kesempatan melakukan 20 keputusan investasi sepanjang hidupnya, maka setiap keputusan akan dipertimbangkan dengan jauh lebih matang.

Gagasan ini mengajarkan bahwa investor sebaiknya tidak berinvestasi hanya karena sedang mengikuti tren atau melihat orang lain mendapatkan keuntungan.

Bagi investor pemula yang belum memiliki kemampuan untuk menganalisis perusahaan secara mendalam, diversifikasi juga dapat menjadi pertimbangan.

Gammon mengatakan bahwa ia mengajarkan anak-anaknya untuk mencari instrumen investasi berbiaya rendah yang mencakup banyak perusahaan sekaligus.

“Saya mengajari anak-anak saya cara mencari investasi berbiaya rendah yang mencakup lebih dari satu perusahaan, seperti reksa dana indeks,” tukas Gammon.

Dengan satu investasi pada reksa dana indeks, investor dapat memiliki eksposur terhadap sejumlah perusahaan sekaligus sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada kinerja satu perusahaan.

4. Kerjakan Pekerjaan Rumah Sebelum Berinvestasi

Prinsip lain yang sangat melekat dengan Buffett adalah pentingnya memahami investasi sebelum mengeluarkan uang.

Buffett dikenal memiliki kebiasaan membaca laporan tahunan perusahaan dan mempelajari model bisnisnya secara mendalam sebelum memutuskan untuk berinvestasi.

Namun, memahami investasi tidak berarti seseorang harus menjadi ahli di semua bidang.

Buffett justru memperkenalkan konsep 'lingkaran kompetensi' atau circle of competence, yakni memahami batas pengetahuan dan kemampuan diri sendiri.

Dalam surat kepada pemegang saham Berkshire Hathaway pada 1996, Buffett menulis, ‘Anda tidak perlu menjadi ahli mengenai setiap perusahaan, atau bahkan banyak perusahaan. Anda hanya perlu mampu mengevaluasi perusahaan-perusahaan yang berada dalam lingkaran kompetensi Anda’.

Ia melanjutkan, ‘Ukuran lingkaran tersebut tidaklah terlalu penting; namun, mengetahui batas-batasnya adalah hal yang sangat krusial’.

Prinsip tersebut relevan bagi investor muda yang baru mulai belajar. Seseorang yang bekerja di industri kesehatan, misalnya, mungkin lebih mudah memahami bisnis perusahaan farmasi.

Sementara, mereka yang bekerja di bidang teknologi mungkin memiliki pemahaman lebih baik mengenai bisnis aplikasi atau perusahaan teknologi. Intinya, bukan mengetahui segala sesuatu, melainkan memahami apa yang diketahui sekaligus menyadari apa yang belum dipahami.

Baca Juga: ETF Pilihan Warren Buffett dan Strategi Investasi Sederhana untuk Investor Pemula