Growthmates, kerusakan saraf atau neuropati muncul ketika jaringan saraf mengalami cedera dan tidak lagi mampu mengirim sinyal dengan baik.
Kondisi ini dapat bermanifestasi melalui kesemutan, mati rasa, nyeri seperti terbakar, kelemahan otot, hingga gangguan koordinasi. Pada banyak orang, gejala awalnya sering kali dimulai dari tangan dan kaki, yang dikenal sebagai neuropati perifer.
Masalahnya, indikator pertama kerusakan saraf tidak selalu berupa rasa nyeri atau cedera langsung. Ada sejumlah faktor yang bekerja secara tersembunyi yang tanpa disadari memengaruhi jutaan orang.
Karenanya, mengenali sejak dini dan melakukan modifikasi gaya hidup dasar dapat menjadi benteng penting agar saraf terlindungi dari kerusakan permanen.
1. Gula Darah Tinggi, Bahkan Sebelum Diabetes
Kadar gula darah yang meningkat tidak hanya berbahaya bagi penderita diabetes. Fase sebelum diabetes, yakni prediabetes, justru sering menjadi titik awal rusaknya saraf.
Gula darah tinggi yang bertahan lama merusak pembuluh darah kecil yang memasok oksigen dan nutrisi ke saraf, sekaligus memberi efek toksik langsung pada sel saraf.
Tanda awalnya kerap tampak ringan, seperti kesemutan di jari kaki dan tangan, sensasi seperti tertusuk jarum, atau nyeri terbakar yang lebih terasa pada malam hari.
Karena muncul bertahap dan tidak terlalu mengganggu, banyak orang mengabaikannya.
Padahal, bila tidak dikendalikan, mati rasa dapat menyebar hingga menyebabkan hilangnya sensasi kaki sepenuhnya. Pada tahap ini, risiko luka tersembunyi dan infeksi meningkat drastis.
Melindungi saraf berarti juga menjaga gula darah. Pengendalian berat badan, menghindari gula rafinasi dan makanan ultraolahan, serta mengurangi kebiasaan duduk terlalu lama menjadi langkah paling realistis yang direkomendasikan dokter.
Baca Juga: Mengenal Terapi Stem Cell: Terobosan untuk Stroke dan Penyakit Saraf
2. Peradangan Kronis dan Infeksi Tersembunyi
Tubuh juga bisa menyerang saraf melalui mekanisme peradangan tingkat rendah yang berlangsung menahun. Infeksi yang tidak tertangani seperti penyakit Lyme, hepatitis C, atau virus Epstein-Barr, serta penyakit autoimun semacam lupus dan sindrom Sjögren, dikenal mampu memicu kerusakan saraf selama bertahun-tahun.
Gejala awalnya sering tidak khas, yakni seperti kelelahan, nyeri sendi, kabut otak, disertai kesemutan atau rasa panas di anggota gerak. Ketidakterkaitan gejala inilah yang membuat banyak orang baru tersadar ketika kondisinya telah lanjut.
Pencegahan berfokus pada pengelolaan stres dan pola makan anti-inflamasi. Menu kaya sayuran, buah, kacang, serta lemak omega-3 terbukti membantu meredakan respons radang.
Jika keluhan menetap, pemeriksaan medis untuk mendeteksi penanda infeksi tersembunyi atau autoimun sangat dianjurkan.
3. Kekurangan Vitamin Jangka Panjang
Saraf membutuhkan nutrisi spesifik untuk menjaga mielin atau lapisan pelindung saraf tetap utuh.
Kekurangan vitamin B1, B6, B12, vitamin E, maupun mineral seperti tembaga dapat mengganggu sinyal saraf dan proses perbaikannya.
Kondisi ini berkembang perlahan akibat asupan gizi kurang beragam, konsumsi alkohol berlebihan, atau gangguan pencernaan seperti penyakit celiac, Crohn, dan efek obat tertentu.
Indikatornya mirip dengan tanda penuaan, seperti mati rasa, kesemutan, gangguan keseimbangan, dan kelemahan otot. Karena dianggap 'wajar', pemicu ini sering luput dari perhatian.
Solusinya adalah kembali pada diet seimbang, yakni mengonsumsi biji-bijian utuh, kacang-kacangan, telur, produk susu, sayuran hijau, atau alternatif nabati yang difortifikasi.
Pada pasien dengan masalah penyerapan atau alkohol berlebih, dokter biasanya melakukan tes darah dan memberikan suplemen sebelum kerusakan saraf meluas.
Penafian: Artikel ini hanya bersifat informatif dan bukan pengganti nasihat maupun pemeriksaan medis profesional.
Baca Juga: Saraf Kejepit Tak Bisa Sembuh Sendiri, Ini 5 Fakta Penting yang Perlu Kamu Tahu!