Alasan ketiga berkaitan dengan karakteristik emas itu sendiri. Aliyah menilai, emas memiliki posisi yang unik karena tidak bergantung pada satu negara atau otoritas tertentu.
“Kalau kamu masih bingung kenapa emas masih menarik, yang pertama kita melihat, big money masih melakukan pembelian emas secara masif,” tutur Aliyah.
Ia kemudian menjelaskan bahwa salah satu fungsi emas adalah sebagai aset investasi yang relatif netral.
“Dan fungsi emas itu adalah aset investasi yang netral, tidak terpengaruh dengan negara manapun, tidak bisa dicetak, tidak terpengaruh polisi, dan harganya standar secara global,” katanya.
Karakteristik tersebut membuat emas kerap dipandang sebagai salah satu aset untuk diversifikasi portofolio.
Emas juga tidak memiliki risiko yang sama dengan mata uang suatu negara karena nilainya tidak bergantung sepenuhnya pada kebijakan satu pemerintah atau bank sentral.
Meski melihat emas masih menarik, lanjut Aliyah, investasi tetap perlu disesuaikan dengan kondisi dan tujuan keuangan masing-masing individu.
Investor juga perlu memahami bahwa harga emas dapat mengalami kenaikan maupun penurunan dan tidak selalu memberikan keuntungan dalam jangka pendek.
Dikatakan Aliyah, bagi masyarakat yang masih mempertimbangkan untuk masuk ke emas, Aliyah menyarankan pendekatan investasi secara bertahap.
Baca Juga: Jahja Setiaatmadja: Simpan Emas Batangan di Brankas Itu Sudah Kuno