Yayasan Jantung Indonesia (YJI) bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) resmi meluncurkan kampanye nasional Hari Jantung Sedunia 2026 bertema ‘Don’t Miss A Beat’

Kampanye ini menjadi ajakan bagi masyarakat untuk lebih peka terhadap kondisi tubuh, meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan jantung, serta mengambil langkah nyata untuk mencegah penyakit kardiovaskular.

Peluncuran yang digelar pada 24 September 2026 ini sekaligus menandai dimulainya rangkaian kegiatan menuju puncak peringatan Hari Jantung Sedunia yang diperingati setiap 29 September.

Tahun ini, sejumlah kegiatan disiapkan, mulai dari skrining Penyakit Jantung Rematik (PJR), Fashion Nation 20th Edition, hingga World Heart Day Run 2026.

Ketua Umum Yayasan Jantung Indonesia, Annisa Pohan Yudhoyono, mengatakan, salah satu fokus utama kampanye tahun ini adalah skrining PJR, terutama pada anak dan remaja. Program tersebut telah dan akan dilaksanakan di empat lokasi, yakni Malang, Tulang Bawang, Lampung, Bekasi, dan Minahasa Utara.

“Skrining PJR adalah bentuk deteksi dini dan intervensi tepat sasaran. Kami ingin memastikan tidak ada anak Indonesia yang kehilangan masa depannya karena penyakit jantung yang seharusnya bisa dicegah,” tutur Annisa, dikutip dari keterangan resminya, Jumat (25/9/2026).

Menurut Annisa, upaya menjaga kesehatan jantung membutuhkan keterlibatan berbagai pihak dan tidak cukup dilakukan melalui kegiatan seremonial semata. Kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, akademisi, komunitas, dan masyarakat dinilai penting untuk membangun kebiasaan hidup sehat secara berkelanjutan.

“Kami mengajak pemerintah, swasta, akademisi, dan seluruh masyarakat untuk bersinergi menciptakan ekosistem sehat. Kampanye ini tidak boleh hanya seremonial — ia harus menjadi gerakan berkelanjutan yang mengubah gaya hidup masyarakat Indonesia,” tambahnya.

Pesan mengenai kesehatan jantung juga dibawa melalui pendekatan yang lebih dekat dengan gaya hidup masyarakat. Salah satunya melalui Fashion Nation 20th Edition yang akan digelar pada 25 September 2026 di Senayan City.

Charity fashion show ini menghadirkan desainer Amot Syamsurimuda, Rinda Salmun, dan Glashka, dengan dokter spesialis jantung serta sejumlah figur publik sebagai muse. Sebagian hasil penjualan akan didonasikan untuk anak-anak dengan penyakit jantung bawaan dari keluarga pra-sejahtera.

Ketua Bidang Komunikasi YJI, Iwet Ramadhan, menjelaskan bahwa kampanye Hari Jantung Sedunia 2026 mengusung pendekatan 3E, yakni Educate, Engage, dan Activate.

“Educate, informasi kesehatan yang kredibel dan mudah dicerna. Engage, melibatkan publik figur, komunitas, dan media. Activate, dorong aksi nyata seperti olahraga dan pola hidup sehat,” jelas Iwet.

Ia menilai, peran media juga penting untuk memperluas jangkauan pesan mengenai kesehatan jantung sehingga dapat diterima masyarakat secara lebih luas dan kreatif.

“Komunikasi yang baik adalah kunci perubahan perilaku,” tutupnya.

Rangkaian kampanye kemudian dilanjutkan dengan World Heart Day Run 2026 yang menjadi salah satu puncak gerakan hidup sehat. Kegiatan tersebut akan berlangsung pada 27 September 2026 di Gelora Bung Karno, Jakarta, dengan agenda 5K Fun Run, Senam Jantung Sehat, serta pengumuman pemenang Body Transformation Competition (BTC).

BTC merupakan tantangan hidup sehat selama tiga bulan yang dimulai sejak Juni 2026. Peserta tidak hanya dinilai berdasarkan aktivitas olahraga, tetapi juga perubahan komposisi tubuh dan sejumlah parameter kesehatan, seperti indeks massa tubuh (IMT), lingkar perut, tekanan darah, profil lipid, dan gula darah. Perubahan tersebut didorong melalui olahraga teratur, penerapan gizi seimbang, dan pemantauan kesehatan secara berkala.

Kampanye tahun ini juga memberikan perhatian pada Atrial Fibrillation (AF) atau fibrilasi atrium melalui edukasi deteksi dini. Salah satu pesan yang dibawa adalah MENARI atau Meraba Nadi Sendiri. Masyarakat diajak mengenali denyut nadi dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila menemukan irama yang tidak teratur, terutama jika disertai keluhan seperti berdebar, lemas, atau sesak.

Selain itu, edukasi Basic Life Support (BLS) atau Bantuan Hidup Dasar juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan. Materinya mencakup kemampuan mengenali henti jantung, menghubungi layanan gawat darurat, melakukan resusitasi jantung paru (RJP/CPR), hingga menggunakan automated external defibrillator (AED).

Ketua Panitia Hari Jantung Sedunia 2026, dr. Rizky Aulia Fanani, Sp.JP, Subsp. Ar. (K), mengatakan momentum tersebut dapat menjadi titik awal bagi masyarakat untuk membangun kebiasaan hidup sehat.

“Aktivitas fisik terukur dan skrining rutin adalah kunci pencegahan penyakit kardiovaskular,” tukasnya.

Baca Juga: Ketum YJI: Perempuan sebagai Garda Terdepan Kesehatan Jantung dan Agen Perubahan

Gerakan ini turut mendapat dukungan dari OMRON Healthcare Indonesia. Direktur OMRON Healthcare Indonesia, Tomoaki Watanabe, mengatakan dukungan tersebut sejalan dengan visi global OMRON, “Going for Zero”, yang mendorong upaya pencegahan untuk menekan risiko komplikasi stroke dan serangan jantung melalui deteksi dini serta pemantauan kesehatan secara berkala.

“Sejalan dengan visi ‘Going for Zero’, OMRON percaya bahwa pencegahan penyakit kardiovaskular perlu dimulai dari kesadaran dan langkah nyata yang dapat dilakukan setiap hari. Karena itu, kami tidak hanya menghadirkan perangkat kesehatan, tetapi juga membangun ekosistem yang dapat mendukung masyarakat dalam memantau dan menjaga kesehatan jantung secara berkelanjutan,” ungkap Tomoaki Watanabe.

Pemantauan kesehatan secara rutin dinilai semakin penting, terutama untuk mengenali faktor risiko kardiovaskular seperti hipertensi dan gangguan irama jantung, termasuk Atrial Fibrillation (AFib). OMRON pun terus mengembangkan solusi pemantauan kesehatan yang dapat digunakan masyarakat secara mandiri di rumah.

Marketing Manager OMRON Healthcare Indonesia, Fanny Himawan, mengatakan, pemantauan kesehatan perlu menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.

“Melalui semangat ‘Keep On, Life On’, kami ingin membantu masyarakat menjadikan pemantauan kesehatan sebagai bagian dari keseharian. OMRON menghadirkan berbagai solusi, mulai dari tensimeter dengan teknologi IntelliSense AFib® hingga perangkat Home EKG (elektrokardiogram) yang dapat membantu pengguna memantau tekanan darah dan irama jantung serta mengenali kemungkinan AFib,” kata Fanny.

Dukungan terhadap kampanye juga datang dari PERKI. Ketua Pengurus Pusat PERKI, dr. Ade Meidian Ambari, SpJP(K), PhD, menyampaikan apresiasi terhadap kolaborasi bersama YJI dalam mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya pencegahan dan deteksi dini penyakit jantung.

“Jantung sehat dimulai dari mencegah dan deteksi dini,” tukas Ade.

Menurutnya, penyakit kardiovaskular masih menjadi salah satu tantangan kesehatan di Indonesia. Namun, sejumlah faktor risiko dapat dicegah dan dikendalikan melalui perubahan gaya hidup serta pemeriksaan kesehatan secara berkala.

“Karena itu, pada momentum Hari Jantung Sedunia 2026 ini, kami mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk memulai pola hidup sehat, aktivitas fisik teratur, mengendalikan tekanan darah, kolesterol, gula darah, berhenti merokok, menjaga berat badan, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala,” katanya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu munculnya penyakit untuk mulai memperhatikan kesehatan jantung.

“Jangan menunggu sakit untuk mulai peduli terhadap kesehatan jantung. Keren itu mencegah dan mendeteksi penyakit sejak dini,” tutupnya.

Kampanye ‘Don’t Miss A Beat’ turut diperkuat oleh Icon Yayasan Jantung Indonesia, Ayu Dewi. Ia pun mengajak masyarakat untuk lebih memperhatikan berbagai sinyal yang diberikan tubuh dan memulai kebiasaan sehat dari hal-hal sederhana.

“Jangan abaikan tanda-tanda kecil dari tubuh ya. Mulai dari langkah kecil: periksa tekanan darah, rutin olahraga, kurangi gula dan garam,” pesannya.

Ayu juga mengajak masyarakat berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan Hari Jantung Sedunia 2026, termasuk Fashion Nation 20th Edition pada 25 September dan World Heart Day Run 2026 pada 27 September.

Ia berharap gerakan tersebut dapat mendorong lebih banyak orang mengambil peran dalam menjaga kesehatan jantung sekaligus mendukung anak-anak dengan penyakit jantung bawaan dari keluarga pra-sejahtera.

“Yuk menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing, karena setiap detak jantung berharga,” tutupnya.

Baca Juga: YJI Dukung Program Wanita Indonesia Tanpa Tembakau