dr. Bobby juga menyoroti tingginya tingkat stres dan kelelahan yang dialami banyak orang selama periode ini, terutama akibat persiapan Lebaran, perjalanan mudik, hingga padatnya agenda sosial.

“Stres dan kelelahan dapat memicu peningkatan tekanan darah dan detak jantung, yang berbahaya terutama bagi mereka yang sudah memiliki risiko penyakit jantung,” ungkapnya.

Selain itu, kata dia, pola tidur yang tidak teratur selama liburan juga memberi dampak negatif terhadap kesehatan jantung secara keseluruhan.

Lebih lanjut, dr. Bobby menegaskan bahwa banyak orang sebenarnya sudah memiliki faktor risiko sebelumnya, seperti hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, atau riwayat keluarga penyakit jantung. Sayangnya, kondisi tersebut sering kali tidak terkontrol selama liburan.

“Perubahan pola makan dan gaya hidup yang tidak sehat selama Lebaran dapat memperburuk kondisi yang sudah ada dan meningkatkan risiko serangan jantung,” jelasnya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa Lebaran tetap bisa dinikmati tanpa mengorbankan kesehatan, selama masyarakat mampu menjaga keseimbangan.

Ia pun menekankan pentingnya mengatur pola makan dengan lebih bijak, tetap mengonsumsi obat secara rutin bagi yang memiliki penyakit tertentu, serta menjaga aktivitas fisik meski dalam suasana liburan.

Kualitas tidur juga perlu diperhatikan dengan menghindari kebiasaan begadang, sementara kebiasaan merokok sebaiknya dihentikan. Tak kalah penting, panjut dia, kemampuan mengelola stres juga menjadi kunci agar tubuh tidak mengalami tekanan berlebih.

“Kunci utamanya adalah menjaga keseimbangan. Lebaran boleh dinikmati, tapi tetap harus bijak agar kesehatan jantung tetap terjaga,” tutup dr. Bobby.

Baca Juga: Dari Stroke Hingga Jantung, Ini Perbedaan Risiko Darah Tinggi dan Darah Kental Menurut Dokter Ahli