Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia tidak hanya menimbulkan kerusakan lingkungan dan kerugian material, tetapi juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Air yang tercemar, sanitasi yang terganggu, serta munculnya genangan air menjadi faktor utama penyebaran berbagai penyakit menular.

Kondisi pascabanjir kerap memicu munculnya penyakit yang berasal dari kontaminasi air dan makanan, serta penyakit yang ditularkan oleh vektor seperti nyamuk dan tikus. Berikut daftar penyakit yang perlu diwaspadai masyarakat selama dan setelah banjir.

Baca Juga: Jakarta Dikepung Banjir, 1.200 Pompa Air Siaga

1. Diare

Diare menjadi penyakit yang paling sering muncul saat banjir. Penyakit ini disebabkan konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri dan parasit dari air banjir. Gejalanya meliputi buang air besar encer berulang, mual, muntah, hingga dehidrasi.

2. Demam Tifoid (Tipes)

Tipes disebabkan bakteri Salmonella typhi yang menyebar melalui air dan makanan tidak higienis. Penyakit ini ditandai demam tinggi berkepanjangan, sakit perut, gangguan pencernaan, dan penurunan nafsu makan.

Baca Juga: Banjir Sumatra, Bencana Alam atau Bencana Ekologis?

3. Kolera

Kolera merupakan infeksi saluran cerna akibat bakteri Vibrio cholerae dari air tercemar. Gejalanya berupa diare akut berair seperti air cucian beras, muntah hebat, dan dehidrasi cepat yang berisiko menyebabkan syok.

4. Leptospirosis

Leptospirosis ditularkan melalui bakteri Leptospira yang berasal dari urine hewan, terutama tikus, dan masuk ke tubuh melalui luka terbuka atau selaput lendir. Gejalanya meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, mata merah, hingga gangguan ginjal.

Baca Juga: Distribusi Air Bersih Dompet Dhuafa, Mengalirkan Harapan bagi Sahdiamin dan Penyintas Banjir Tapanuli

5. Demam Berdarah Dengue (DBD)

Genangan air pascabanjir menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes. DBD ditandai dengan demam tinggi mendadak, nyeri otot dan sendi, sakit kepala, ruam merah, hingga risiko perdarahan.

6. Malaria

Malaria ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles yang berkembang di genangan air. Gejala utamanya berupa demam berulang disertai menggigil, lemas, dan nyeri otot. Pada kondisi berat, malaria dapat mengancam nyawa.

Baca Juga: Angka Kematian pada Anak Meningkat! Begini Cara Tepat Lindungi Si Kecil dari DBD

7. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)

Lingkungan yang lembap dan dingin saat banjir meningkatkan risiko ISPA. Penyakit ini ditandai batuk, pilek, demam, sakit tenggorokan, dan pada kasus tertentu dapat berkembang menjadi pneumonia.

8. Penyakit Kulit

Kontak langsung dengan air banjir yang kotor dapat menyebabkan infeksi kulit akibat bakteri, jamur, atau parasit. Gejalanya meliputi gatal-gatal, ruam merah, luka bernanah, hingga infeksi lanjutan jika tidak ditangani.

Banjir bukan hanya persoalan bencana alam, tetapi juga ancaman kesehatan yang nyata. Risiko penyakit dapat ditekan dengan menjaga kebersihan diri, menggunakan air bersih untuk minum dan memasak, menghindari kontak langsung dengan air banjir, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika muncul gejala penyakit.