Warren Buffett dikenal bukan hanya sebagai salah satu investor paling sukses di dunia, tetapi juga sebagai sosok yang sejak lama memikirkan bagaimana kekayaannya digunakan setelah ia tiada.
Dengan kekayaan yang diperkirakan mencapai US$144 miliar, atau sekitar Rp2.000 triliun lebih jika dikonversikan ke rupiah, keputusan Buffett mengenai warisan menjadi perhatian dunia.
Namun, alih-alih membangun dinasti keluarga yang hidup bergelimang harta, Buffett justru memilih jalan yang berbeda.
Ia telah berulang kali menegaskan bahwa lebih dari 99% kekayaannya akan disalurkan untuk kepentingan amal.
Bagi Buffett, memberikan kekayaan dalam jumlah sangat besar kepada anak-anak justru berpotensi menjadi masalah. Ia ingin anak-anaknya memiliki cukup uang untuk menjalani kehidupan dan mengejar apa yang mereka inginkan, tetapi tidak sampai membuat mereka kehilangan dorongan untuk berusaha.
Prinsip yang dipegang Buffett adalahmemberikan terlalu banyak dapat mematikan semangat juang, sementara memberikan terlalu sedikit dapat terasa tidak adil.
Buffett tidak ingin kekayaannya berkembang menjadi kekayaan turun-temurun yang membuat generasi-generasi berikutnya hidup hanya dari nama keluarga.
Ia pernah menggambarkan prinsipnya dalam memberikan warisan sebagai memberikan anak-anaknya 'cukup untuk melakukan apa saja, namun tidak cukup untuk sekadar bermalas-malasan'.
Filosofi tersebut menjadi kunci untuk memahami rencana warisan Buffett.
Ketiga anaknya, yakni Susie, Howard, dan Peter Buffett, memang akan memainkan peran penting dalam pengelolaan kekayaan keluarganya. Namun, mereka bukan sekadar penerima uang tunai.
Dalam rencana Buffett, anak-anaknya akan bertindak sebagai pelaksana wasiat sekaligus trustee bagi yayasan amal yang menerima kekayaannya.
Artinya, mereka mewarisi tanggung jawab untuk mengelola kekayaan, bukan sekadar menikmati kekayaan tersebut.
Miliaran Dolar Mulai Dialihkan ke Yayasan Keluarga
Langkah Buffett dalam mewujudkan rencana tersebut juga telah dilakukan semasa hidupnya.
Pada Juli 2026, Buffett menyumbangkan 12 juta saham Berkshire Hathaway Kelas B yang nilainya mencapai miliaran dolar kepada empat yayasan yang memiliki keterkaitan dengan keluarganya.
Sebanyak 9 juta saham diberikan kepada Susan Thompson Buffett Foundation, yang menggunakan nama mendiang istrinya. Sementara itu, masing-masing 1 juta saham diberikan kepada Sherwood Foundation, Howard G. Buffett Foundation, dan NoVo Foundation.
Donasi tersebut memperlihatkan perubahan penting dalam strategi filantropi Buffett.
Selama bertahun-tahun, Bill & Melinda Gates Foundation menjadi salah satu penerima utama sumbangan Buffett. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Buffett semakin mempercayakan tanggung jawab filantropinya kepada yayasan yang dikelola anak-anaknya.
Ia juga telah menyatakan bahwa dirinya akan terus melepas saham Berkshire Hathaway yang dimilikinya dan memastikan seluruh saham tersebut dialihkan ke yayasan amal dalam beberapa tahun mendatang.
Targetnya, seluruh saham terakhir yang tersisa akan diserahkan kepada yayasan tersebut paling lambat pada akhir 2034.
Dengan demikian, warisan Buffett bukan sekadar persoalan 'siapa mendapat berapa'. Ia sedang membangun mekanisme agar kekayaannya tetap memberikan dampak sosial setelah dirinya tidak lagi ada.
Baca Juga: 8 Kesalahan Warren Buffett dalam Berinvestasi yang Bisa Jadi Pelajaran
Anak-anak Buffett Mewarisi Tanggung Jawab Besar
Menjadi anak Warren Buffett ternyata tidak otomatis berarti mendapatkan akses ke kekayaan senilai ratusan miliar dolar.
Sebaliknya, mereka justru akan menghadapi pekerjaan yang tidak ringan.
Ketiga anak Buffett harus bekerja sama dalam menentukan bagaimana dana yang sangat besar tersebut digunakan untuk kegiatan amal. Dalam rancangan yang pernah dijelaskan Buffett, keputusan penting harus mendapat persetujuan mereka secara bulat.
Jika salah satu dari mereka tidak lagi dapat menjalankan tugasnya, mekanisme pengganti juga telah disiapkan.
Dengan kata lain, Buffett ingin memastikan bahwa kekayaannya tidak hanya berpindah tangan, tetapi juga tetap dikelola dengan hati-hati.
Ketiga anaknya pun sebenarnya telah memiliki pengalaman dalam menjalankan kegiatan filantropi. Buffett pernah menjelaskan bahwa mereka sudah terbiasa menyalurkan dana dalam jumlah besar melalui yayasan masing-masing.
Karena itu, menurutnya, mereka tidak membutuhkan perlakuan khusus hanya karena merupakan anak seorang miliarder.
Tugas mereka sederhana dalam konsep, tetapi sangat besar dalam praktik: memastikan kekayaan Buffett digunakan secara bertanggung jawab untuk kepentingan orang lain.
Jika anak-anak Buffett mendapat tanggung jawab besar, bagaimana dengan cucu-cucunya? Di sinilah prinsip Buffett menjadi semakin tegas.
Buffett tidak menginginkan kekayaannya menjadi semacam rantai warisan yang terus berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Ia khawatir kekayaan yang terlalu besar justru dapat menghilangkan motivasi, kreativitas, dan kemandirian generasi berikutnya.
Karena itu, menjadi cucu Warren Buffett tidak otomatis berarti mendapatkan trust fund bernilai fantastis, posisi di perusahaan keluarga, atau akses langsung terhadap kekayaan sang kakek.
Pandangan Buffett terhadap warisan memang berbeda dari konsep dinasti kekayaan yang umum ditemui di keluarga-keluarga superkaya.
Baginya, kekayaan seharusnya menjadi alat untuk menciptakan kesempatan, bukan tiket untuk hidup tanpa perlu berusaha.
Filosofi Buffett mengenai warisan ini pun sebenarnya sudah ia ungkapkan selama bertahun-tahun.
Ia ingin anak-anaknya mempunyai kebebasan finansial untuk mengejar apa yang mereka sukai, seperti mendirikan bisnis, menjalani profesi tertentu, mengejar minat pribadi, atau sekadar menjalani kehidupan yang nyaman.
Namun, ia tidak ingin uang dalam jumlah luar biasa besar membuat mereka kehilangan alasan untuk bekerja dan berkembang.
Baca Juga: 4 Prinsip Keuangan Warren Buffett yang Bisa Bantu Anda Jadi Lebih Kaya