Warren Buffett memang telah pensiun dari jabatannya sebagai Chief Executive Officer (CEO) Berkshire Hathaway. Namun, bagi banyak investor, warisan terbesarnya bukan hanya perusahaan yang ia bangun selama lebih dari enam dekade, melainkan cara berpikirnya dalam berinvestasi yang hingga kini masih relevan.

Di tengah derasnya tren investasi yang terus berubah, Buffett justru dikenal karena prinsip yang sederhana, yakni sabar menunggu peluang terbaik. Ketika banyak orang berlomba mengejar keuntungan dalam waktu singkat, investor asal Omaha, Amerika Serikat, itu memilih berinvestasi pada bisnis yang benar-benar ia pahami dan yakin mampu bertahan dalam jangka panjang.

Prinsip tersebut mengantarkannya menjadi salah satu investor paling berpengaruh di dunia. Setelah lebih dari 60 tahun memimpin Berkshire Hathaway, Buffett resmi mengakhiri masa jabatannya sebagai CEO pada akhir 2025. Posisinya kini diteruskan oleh Greg Abel.

Baca Juga: 5 Kebiasaan yang Bikin Uang Cepat Habis Menurut Warren Buffett, Nomor 3 Paling Bahaya!

Perjalanan Buffett menuju puncak dunia investasi tidak dibangun dalam semalam. Jauh sebelum dijuluki Oracle of Omaha, ia sudah menunjukkan minat pada dunia bisnis sejak kecil.

Pada usia enam tahun, Buffett membeli satu pak Coca-Cola untuk dijual kembali satu per satu demi memperoleh keuntungan. Lima tahun kemudian, saat berusia 11 tahun, ia membeli saham pertamanya. Pengalaman sederhana tersebut menjadi awal perjalanan panjang yang kelak menjadikannya salah satu orang terkaya di dunia.

Namun, kesuksesannya juga dibentuk oleh kegagalan. Salah satu momen penting dalam hidup Buffett adalah ketika ditolak masuk Harvard Business School. Penolakan itu justru membawanya ke Columbia University, tempat ia belajar langsung dari Benjamin Graham, tokoh yang dikenal sebagai bapak value investing.

Baca Juga: 5 Kebiasaan Sederhana yang Jadi Kunci Karier Panjang dan Sukses ala Warren Buffett

Dari Graham, Buffett mempelajari filosofi investasi yang kemudian menjadi pegangan sepanjang kariernya, yakni membeli perusahaan dengan fundamental yang kuat, dikelola secara baik, dan memiliki prospek jangka panjang. Baginya, membeli saham berarti membeli sebagian kepemilikan sebuah perusahaan, bukan sekadar mengejar kenaikan harga.

Prinsip tersebut juga menjadi dasar ketika ia mengembangkan Berkshire Hathaway. Perusahaan yang awalnya bergerak di industri tekstil itu kemudian bertransformasi menjadi konglomerasi investasi dengan kepemilikan di berbagai perusahaan besar.

Saat ini, Berkshire Hathaway memiliki portofolio investasi di sejumlah perusahaan global, seperti Apple, Coca-Cola, dan American Express. Seluruh investasi tersebut dipilih bukan karena sedang populer, melainkan karena dinilai memiliki model bisnis yang kuat dan mampu bertahan dalam jangka panjang.

Di balik kekayaan yang diperkirakan mencapai sekitar US$150 miliar, Buffett dikenal menjalani kehidupan yang sederhana. Ia masih tinggal di rumah yang dibelinya pada 1958 dan tidak dikenal sebagai sosok yang gemar menghamburkan uang untuk gaya hidup mewah.

Kesederhanaan itu membuat Buffett kerap dipandang sebagai investor yang tidak hanya piawai membangun kekayaan, tetapi juga memahami bahwa harta bukanlah sesuatu yang harus dipamerkan.

Pandangan tersebut tercermin dari komitmennya untuk menyumbangkan sebagian besar kekayaannya melalui berbagai kegiatan filantropi. Buffett berulang kali menegaskan bahwa kekayaan yang dimilikinya akan lebih bermanfaat jika digunakan untuk membantu lebih banyak orang.

Meski telah pensiun dari posisi CEO, Buffett masih sesekali menyampaikan pandangannya mengenai kondisi pasar keuangan. Salah satu pernyataannya yang paling banyak dikutip adalah kritik terhadap meningkatnya perilaku spekulatif di pasar.

"Saya belum pernah melihat orang-orang memiliki kecenderungan berjudi sebesar sekarang," ucapnya. 

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa di balik pesatnya perkembangan teknologi, kemudahan bertransaksi, dan bermunculannya berbagai instrumen investasi baru, prinsip yang selama ini diyakini Buffett tetap sama. Kesabaran, disiplin, serta memahami bisnis yang diinvestasikan merupakan fondasi utama dalam membangun kekayaan jangka panjang.

Kini Warren Buffett memang telah menutup satu babak penting dalam perjalanan kariernya. Namun, filosofi investasinya masih menjadi rujukan banyak investor di seluruh dunia—sebuah warisan yang nilainya mungkin jauh melampaui kekayaan yang berhasil ia kumpulkan.