Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menyoroti pentingnya peran kolaborasi antara dunia bisnis dan budaya dalam memperkuat identitas bangsa.

Dalam pandangan Irene, apa yang dilakukan iForte melalui Pagelaran Sabang Merauke menjadi contoh nyata bagaimana tujuan bisnis dapat berjalan seiring dengan misi kebudayaan.

Irene menggambarkan iForte bukan sekadar perusahaan infrastruktur digital, melainkan juga simbol penghubung bangsa.

“iForte sudah menghubungkan Indonesia dari kota ke kota, dari Sabang sampai Merauke. Sebenarnya, yang dilakukan iForte adalah merajut tali Silanturahmi agar hati masyarakat Indonesia bisa bersatu,” papar Irene, dalam sambuatannya saat konferensi pers Road to Pagelaran Sabang Merauke 2026, di Main Atrium, Grand Indonesia East Mall, Jumat (24/4/2026).

Bagi Irene, inisiatif ini menjadi inspirasi tentang bagaimana sebuah perusahaan dapat menghadirkan dampak yang lebih luas dari sekadar aktivitas bisnis.

Ia menilai panggung Sabang Merauke sebagai sesuatu yang unik dan khas Indonesia.

“Ini adalah sesuatu yang seharusnya menjadi inspirasi bagi saya. Karena bagaimana bisnis dan tujuan bisa menjadi satu? Panggung Sabang sampai Merauke benar-benar hanya ada di Indonesia,” ungkapnya.

Irene juga menyoroti bahwa di tengah maraknya ajang pencarian bakat dan kompetisi hiburan, konsep yang mengangkat budaya masih tergolong langka. Menurutnya, Sabang Merauke hadir sebagai ruang yang berbeda.

“Kalau kita lihat, ada begitu banyak kompetisi panggung di luar sana, begitu banyak ajang pencarian bakat. Namun yang berbasis budaya, hanya panggung Sabang sampai Merauke,” katanya.

Lebih jauh, Irene menekankan pentingnya regenerasi budaya melalui pendidikan, termasuk keterlibatan pelajar dari jenjang SMK dan SMA.

Hal ini dinilai sebagai langkah strategis untuk memastikan keberlanjutan budaya Indonesia di masa depan.

“Saya juga memahami mengapa harus ada SMK dan SMA. Karena ini adalah regenerasi, memastikan bahwa budaya Indonesia tetap ada,” jelasnya.

Baca Juga: iForte Dorong Gerakan Budaya Nasional Lewat Pagelaran Sabang Merauke 2026

Antusiasme terhadap pagelaran ini pun dinilai sangat tinggi, bahkan melampaui ekspektasi. Irene menyebut fenomena 'perang tiket'yang biasanya terjadi pada konser musik populer, kini juga terjadi pada pertunjukan budaya.

“Jadi, ‘perang tiket’ ini bukan hanya saat kita menonton konser pop. Perang tiket ini nyata, dan akan terjadi di PSN. Karena teman-teman saya dari luar negeri semuanya ingin menonton ini,” tuturnya.

Lebih jauh, Irene pun berharap, ke depan pagelaran ini tidak hanya dinikmati di dalam negeri, tetapi juga dapat diperkenalkan ke panggung internasional.

“Semoga kita juga bisa membawanya ke luar negeri melalui jaringan kita di seluruh dunia,” ujarnya.

Menurut Irene, kekuatan utama dari pertunjukan budaya Indonesia terletak pada unsur “jiwa” yang tidak bisa direplikasi secara instan.

“Tari budaya kita bukan sekadar gerakan 1, 2, 3, 4 hitungan. Dari ekspresi wajah, dari setiap gerakan, ada sesuatu yang disebut jiwa. Jiwa tidak bisa dibeli dengan uang. Jiwa hanya bisa dirasakan, seperti cinta kita terhadap Indonesia,” ucapnya.

Di akhir pernyataannya, Irene berharap, Pagelaran Sabang Merauke mampu menjadi medium untuk membangkitkan rasa cinta terhadap bangsa, tidak hanya bagi masyarakat Indonesia, tetapi juga dunia.

“Bagi saya, pertunjukan Sabang sampai Merauke bukan hanya untuk masyarakat Indonesia, tetapi juga untuk dunia,” pungkasnya.

Baca Juga: Pagelaran Sabang Merauke 2026: Dari Kompetisi hingga Parade, Ribuan Talenta Muda Rayakan Budaya Indonesia